
Max Verstappen saat hendak melakoni sesi latihan bebas di GP Bahrain (ANDREJ ISAKOVIC / AFP)
JawaPos.com – Formula 1 hampir dipastikan akan membatalkan Grand Prix Bahrain dan Grand Prix Arab Saudi 2026. Keputusan itu merupakan dampak dari konflik militer yang semakin meluas di wilayah Timur Tengah.
Awalnya, GP Bahrain dijadwalkan berlangsung 12 April, diikuti GP Arab Saudi pada 19 April. Namun, sejumlah laporan dari GPBlog dan Motorsport menyebut dua balapan itu batal. Pasalnya, situasi keamanan kawasan Teluk terus memburuk. Terutama sejak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari memicu konflik yang lebih luas.
Bahrain memang menjadi salah satu wilayah yang terdampak langsung. Serangan dilaporkan sempat menyasar fasilitas strategis. Sementara, operasional penerbangan dan jalur logistik di kawasan juga terganggu. Situasi itu membuat distribusi kargo serta pergerakan personel F1 menuju dua seri tersebut semakin sulit dan berisiko.
F1 sebenarnya sempat berupaya mempertahankan dua balapan tersebut. Tetapi mereka menyerah karena waktu untuk mengirim kargo dan personel semakin mepet.
“Kami mengikuti arahan FIA dan Formula 1 seperti biasa. Mereka selalu memimpin kami ke arah yang tepat,” ujar kepala tim Audi Jonathan Wheatley dikutip dari The Athletic.
Jika pembatalan resmi diumumkan, kalender F1 2026 akan menyisakan 22 balapan. Artinya, setelah GP Jepang pada 29 Maret, seri berikutnya baru digelar di Miami pada 3 Mei. Beberapa laporan menyebut F1 tidak akan mencari pengganti karena waktu persiapan terlalu singkat dan beban logistik terlampau besar.
