
Sabastian Sawe catat rekor sebagai pelari maraton tercepat. (@WorldAthletics/X).
JawaPos.com - Pelari asal Kenya Sabastian Sawe mencatatkan sejarah luar biasa dengan memecahkan rekor dunia maraton dalam ajang London Marathon. Dalam kondisi cuaca musim semi yang tidak menentu, Sawe berhasil menyelesaikan lomba 42 kilometer hanya dalam waktu 1 jam 59 menit 30 detik, sebuah pencapaian yang sebelumnya dianggap mustahil dalam kompetisi resmi.
Catatan itu membuat Sawe menjadi pelari pertama yang menembus batas dua jam dalam maraton resmi, melampaui rekor sebelumnya milik Kelvin Kiptum dengan waktu 2:00:35.
Prestasi itu pun langsung dibandingkan dengan momen bersejarah lain dalam dunia atletik, seperti lari satu mil di bawah empat menit oleh Roger Bannister pada 1954, serta rekor dunia 100 meter milik Usain Bolt.
“Saya merasa sangat baik, saya sangat bahagia. Ini adalah hari yang akan selalu dikenang. Saya telah membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil,” ujar Sawe usai lomba dikutip dari The Guardian.
Tak hanya Sawe, dua pelari lain juga mencatatkan waktu di bawah rekor lama Kiptum. Pelari Ethiopia Yomif Kejelcha finis hanya 11 detik di belakang Sawe dalam debut maratonnya, sedangkan Jacob Kiplimo mencatatkan waktu 2:00:28. Menariknya, London tidak dikenal sebagai lintasan tercepat jika dibandingkan dengan kota lain, seperti Berlin atau Chicago.
Balapan berlangsung ketat sejak awal. Sawe mulai meningkatkan tempo drastis setelah 30 kilometer. Bersama Kejelcha, Sawe mencatat waktu 13:54 untuk 5 km antara kilometer 30 hingga 35, lalu meningkat menjadi 13:42 pada segmen berikutnya.
Kejelcha akhirnya menyerah menjelang kilometer ke-41. “Sebelum 41 kilometer, saya merasa santai dan menikmati lomba. Tapi tepat di 41 kilometer, tubuh saya berhenti. Kaki saya sudah tidak kuat,” ungkap Kejelcha.
Sawe justru semakin melesat dan menyelesaikan paruh kedua lomba hanya dalam waktu sedikit di atas 59 menit. Catatan waktunya bahkan lebih cepat 10 detik dari rekor tidak resmi milik Eliud Kipchoge saat percobaan di Wina tahun 2019 yang tidak diakui oleh World Athletics karena menggunakan bantuan teknis khusus seperti pacemaker bergantian dan kendaraan penghalang angin.
Di balik pencapaian gemilang itu, perjalanan hidup Sawe juga penuh perjuangan. Sawe tumbuh di desa terpencil di Kenya tanpa listrik dan dikenal sangat pemalu hingga kerap bersembunyi sebelum lomba. Namun, dorongan dari gurunya Julius Kemei mengubah arah hidupnya.
Karier Sawe mulai berkembang pesat setelah bergabung dengan kelompok latihan 2Running yang dipimpin pelatih Italia Claudio Berardelli. “Apa yang terjadi hari ini, 90 persen adalah hasil dari Sabastian sendiri,” ujar Berardelli saat ditanya tentang pencapaian atletnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao: Duel Tim Papan Tengah LaLiga Berpotensi Berlangsung Ketat
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022