Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 24 Agustus 2026 | 00.55 WIB

Raja Tanpa Takhta: 6 Legenda Tunggal Putra Indonesia yang Tak Pernah Tercatat jadi Ranking 1 Dunia

Tunggal Putra Indonesia Jonatan Christie saat bertanding melawan wakil Thailand Panitchaphon Teeraratsakul pada babak Semi Final Indonesia Open di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

 
JawaPos.com — Keberhasilan Jonatan Christie yang dipastikan mengunci peringkat satu dunia Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) pada Selasa, 25 Agustus 2026 pekan depan, kembali menempatkan bendera Indonesia di nomor wahid sektor tunggal putra setelah lebih dari 2 dekade.
 
Jojo ini sukses mencatatkan namanya sebagai tunggal putra kelima Indonesia yang resmi menduduki peringkat puncak sejak sistem pemeringkatan komputerisasi diperkenalkan pada awal era 1990-an.
 
Namun, catatan administratif modern BWF tersebut belum merangkum seluruh kisah para mahabintang Merah Putih.
 
 
Jauh sebelum era komputerisasi tersebut ada, Garuda telah melahirkan deretan legenda raksasa yang mendominasi jagat bulu tangkis dunia de facto lewat torehan prestasi historis dan gelar-gelar mayor ikonik.
 
Meskipun nama mereka secara administratif tidak pernah tercatat dalam lembaran ranking bernomor modern, kualitas dan dominasi mereka diakui secara global sebagai pemain nomor satu tanpa tanding pada zamannya.
 
Berikut adalah daftar lengkap para legenda tunggal putra Indonesia dengan prestasi luar biasa yang secara administratif/sistem tidak pernah duduk di peringkat 1 dunia resmi, diurutkan secara kronologis berdasarkan era kejayaannya:
 
 
1. Tan Joe Hok
 
Tan Joe Hok adalah pelopor kejayaan bulu tangkis Indonesia di panggung internasional. 

Berjaya di era 1950-1960an, Tan Joe Hok secara faktual adalah tunggal putra terbaik dunia pertama yang dimiliki Indonesia. Sosok ini sekaligus membuka mata dunia akan kekuatan Merah Putih di peta dunia tepok bulu angsa hingga detik ini.

Tan Joe Hok adalah putra bangsa pertama yang menjuarai All England pada 1959. Ia juga memenangi Medali Emas Asian Games 1962 di Jakarta. Di sektor berego, ia membawa Indonesia menjadi Juara Piala Thomas tiga kali beruntun (1958, 1961, 1964).

2. Ferry Sonneville

Di era yang sama dengan Tan Joe Hok, ada nama Ferry Sonneville. Dominasi dan kehebatan keduanya di lapangan membuat Ferry dan kompatriotnya itu dijuluki The Big Two tunggal putra dunia.

Berdarah Belanda, Ferry dikenal memiliki kecerdasan taktik yang tinggi. Kepiawaiannya ikut sumbangsih membawa Indonesia menjuarai Piala Thomas pada 1958, 1961 dan 1964. Di ajang All England 1959, Ferry hanya mampu melangkah hingga babak final, sebelum ditaklukkan oleh Tan Joe Hok di partai puncak.

3. Rudy Hartono

Aktif di tahun 1968 – 1976, tidak berlebihan rasanya untuk menyebut Rudy Hartono sebagai salah satu penguasa lapangan bulu tangkis dunia paling dominan.

Meskipun tidak memiliki angka ranking resmi karena berkarir di era pra-koputerisasi BWF, Rudy Hartono sudah mencatatkan namanya di Rekor Guinness sebagai satu-satunya tunggal putra yang menembus final All England 10 kali beruntun dan memenangkannya sebanyak 8 kali.

Tak cuma itu, ia juga tercatat menjadi Juara Dunia IBF 1980, peraih medali emas Olimpiade 1972 saat bulu tangkis menjadi cabang olahraga demonstrasi, dan membawa Indonesia 4 kali menjadi Juara Piala Thomas (1970, 1973, 1976, 1979).

4. Liem Swie King
 
Saat nama Rudy Hartono mulai turun, Liem Swie King muncul sebagai suksesornya di periode 1978-1981. Punya gaya main yang eksplosif, Lim Swie King mungkin adalah sosok yang paling bertanggungjawab dalam mengubah wajah bulu tangkis dunia menjadi lebih cepat dan agresif.
 
King tercatat pernah menjuarai All England sebanyak 3 kali (1978, 1979, 1981). Ia juga tergabung dalam tim Piala Thomas sebanyak tiga kali, yakni pada 1976, 1979 dan 1984, di mana Indonesia menjuarai ketiga ajang tersebut. Tak berhenti di situ, King juga menyabet dua medali emas Asian Games 1978 di nomor tunggal putra dan beregu putra.
 
5. Icuk Sugiarto

Pada masanya, Icuk Sugiarto dikenal sebagai raja reli dengan ketahanan fisik luar biasa serta pertahanan yang sangat rapat. Ia merebut predikat pemain terbaik dunia setelah memenangkan All Indonesian Final melawan Liem Swie King di Kejuaraan Dunia 1983.

Ayah dari Tommy Sugiarto itu juga tercatat pernah menjadi Juara Piala Dunia Bulu Tangkis sebanyak tiga kali (1985, 1986, 1988). Icuk juga ikut andil membawa Indonesia menjuarai Piala Thomas 1984 dan medali emas Asian Games 1986 di nomor beregu.

Editor: Banu Adikara
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore