
Kawasan padat penduduk di Putat Jaya, Sawahan, Surabaya. Warga memilih tetap tinggal berdempetan. (Riana Setiawan / Jawa Pos)
JawaPos.com – Hidup berdempetan di tengah gang sempit bukan hal baru bagi warga Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu wilayah paling padat di Surabaya Selatan, dengan rumah-rumah berdiri rapat tanpa jarak dan akses jalan selebar dua meter.
Kondisi permukiman yang penuh sesak itu tak lantas membuat warganya berpikir untuk pindah. Sebaliknya, mereka justru memilih bertahan dengan berbagai alasan, mulai dari faktor keluarga hingga kenyamanan sosial.
“Saya besar di sini, rumah ini peninggalan orang tua. Anak-anak saya juga lahir di sini,” ujar Rina Marlina, warga Gang Kupang Gunung Jaya IV. Ia menyebutkan, suasana kekeluargaan yang terjalin antartetangga menjadi alasan utama dirinya tetap tinggal. “Lingkungannya akrab. Kalau ada yang butuh bantuan, tetangga pasti datang. Gotong royong juga masih terasa,” imbuhnya.
Letak yang strategis dan biaya hidup yang relatif terjangkau turut menjadi pertimbangan warga untuk menetap. Meskipun begitu, tinggal di kawasan padat tentu memiliki tantangan tersendiri.
Ari Wijaya, warga gang buntu di kawasan tersebut, menyoroti masalah drainase yang sering menimbulkan genangan. “Kalau hujan deras, air cepat naik karena saluran kecil dan mudah tersumbat,” katanya. Warga telah beberapa kali bergotong royong membersihkan saluran air, namun masalah belum juga terselesaikan secara menyeluruh.
Keterbatasan fasilitas umum juga menjadi perhatian. Meski sudah ada SMP Negeri 56, warga masih kesulitan mengakses jenjang pendidikan lanjutan. “Anak saya harus sekolah di Karang Pilang. Jauh, dan kalau macet bisa telat,” keluh Nanik, salah satu warga. Ia berharap pemerintah membangun sekolah menengah atas di wilayah tersebut agar akses pendidikan lebih merata.
Minimnya ruang terbuka turut menjadi keluhan warga. Anak-anak biasanya bermain sepeda di gang depan rumah karena tidak ada taman atau lapangan. “Ya mainnya di sini-sini saja, sempit, tapi memang nggak ada pilihan,” ujar Rina.
Meski menghadapi banyak keterbatasan, warga tetap memilih tinggal di Putat Jaya. Bagi mereka, kawasan ini bukan sekadar tempat bermukim, melainkan bagian dari identitas hidup dan ikatan sosial yang telah terbangun kuat selama bertahun-tahun.
“Kalau bukan karena warga yang kompak dan saling peduli, mungkin saya sudah pindah sejak lama,” ucap Ari.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
