
LEWAT PERMAINAN: Penny Vakalopoulos (kanan) belajar bahasa Jawa bersama para murid SMP Margie Surabaya.
JawaPos.com - Kemampuan generasi muda (Gen Z) dalam berbahasa Jawa, khususnya pada penggunaan krama (bahasa Jawa halus), yang menunjukkan penurunan membuat berbagai kalangan prihatin.
Bahkan, UNESCO menyebut setiap dua minggu, akan ada 1 bahasa daerah di dunia yang punah. Bukan tidak mungkin Bahasa Jawa Krama juga terancam punah jika terus menerus dipinggirkan generasi mudanya.
Fenomena ini menjadi perhatian Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga, Puji Karyanto. Ia prihatin melihat generasi muda yang lebih tertarik mempelajari bahasa asing, daripada bahasa Jawa Krama.
“Indikatornya sederhana, misalnya nilai mata pelajaran Bahasa Jawa seringkali lebih rendah dibanding bahasa Inggris. Artinya bahasa Jawa belum diterima secara baik dalam kehidupan keseharian mereka,” tutur Puji, Kamis (10/8).
Ia lantas menyoroti kebijakan baru Pemkot Surabaya yang mewajibkan siswa TK - SMP untuk berbahasa Jawa Krama di sekolah setiap Kamis. Menurutnya, program bertajuk "Kamis Mlipis" ini rekayasa budaya yang positif.
Pada dasarnya, eksistensi sebuah kebudayaan bisa dilakukan melalui jalur. Pertama, jalur alamiah, memiliki hubungan antara budaya dan masyarakat. Jalur kedua adalah rekayasa, seperti yang dilakukan Pemkot Surabaya.
"Dalam hal ini, Dinas Pendidikan mewajibkan penggunaan bahasa Jawa. Saya melihat langkah ini sebagai upaya penting untuk menjaga eksistensi budaya Jawa yang mulai tergerus zaman," imbuhnya.
Puji berpendapat bahwa penggunaan bahasa Jawa Krama di sekolah perlu diimbangi dengan pembelajaran budaya Jawa lainnya, seperti kesenian atau sastra Jawa. Misalnya, belajar tembang macapat.
Ini akan menumbuhkan kegembiraan sekaligus mengenalkan sastra Jawa yang puitis dan berbeda dengan bahasa keseharian. Puji menegaskan bahwa bahasa Jawa sarat nilai rasa dan unggah-ungguh.
“Bahasa Jawa itu penuh perasaan. Misalnya kata ‘jatuh’ dalam bahasa Indonesia hanya satu, sedangkan dalam bahasa Jawa ada gelungup, kejengkang, dan sebagainya. Ini mengajarkan nilai rasa kepada penuturnya,” terangnya.
Salah satu yang bisa menjadi tantangan pelaksanaan kebijakan ini adalah latar belakang bahasa siswa yang beragam. Sebagai kota metropolitan besar, Surabaya dikenal dengan masyarakatnya yang multikultural.
“Kalau semua pemangku kepentingan aware, maka kendala perbedaan dialek bisa diatasi. Saya berharapnya program ini konsisten, tak hanya sebatas pedagogi, tetapi juga (hadir dalam) percakapan sehari-hari," tukas Puji. (*)

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Link Live Streaming PSG vs Arsenal Malam Ini Final Liga Champions, Siaran Langsung Jam Berapa dan Tayang di TV Mana?
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
Bicara Kartu Merah: Arema FC Paling Brutal, Semua Perlu Belajar dari Borneo FC!
Berikut 3 Bek yang Dirumorkan Merapat ke Persebaya Surabaya! Ada Yusuf Meilana Hingga Bek Tengah Brasil
Prediksi Final Liga Champions 2026: PSG vs Arsenal, Les Parisiens Diunggulkan, The Gunners Butuh Keajaiban
Persib Bandung Ungkap Penyebab Masuk Daftar Banned FIFA, Bukan Tunggakan Gaji!
