Mahasiswa dan dosen Universitas Ciputra merayakan Hari Valentine dengan cara berbeda, mengenakan batik sebagai simbol cinta budaya. (Istimewa)
JawaPos.com-Perayaan Hari Valentine di Universitas Ciputra berlangsung tak biasa, Jumat (14/2). Tak ada cokelat dan bunga mawar mendominasi suasana kampus. Sebaliknya, lorong-lorong dipenuhi ragam motif batik yang dikenakan mahasiswa dan dosen sejak pagi.
“Budaya tidak cukup diajarkan lewat slide presentasi. Ketika mahasiswa memakainya, mereka sedang menghayati nilai, bukan sekadar menghafal definisi,” ujar Kepala Program Studi Fashion Design and Business (FDB) Universitas Ciputra, Yoanita Tahalele, B.A., M.A.
Dari motif parang klasik hingga desain kontemporer berwarna cerah, batik tampil dalam balutan gaya kasual. Sneaker, denim, rok modern, hingga tote bag kanvas menjadi pelengkap busana. Sejumlah mahasiswa memilih nuansa merah dan merah muda yang identik dengan Valentine.
Suasana akademik pun terasa lebih dinamis. Di ruang diskusi, studio desain, hingga kantin, mahasiswa saling mengamati motif yang dikenakan. Percakapan tentang asal-usul motif dan makna warna mengalir di berbagai sudut kampus. Batik tak sekadar menjadi pakaian, tetapi medium dialog.
Yoanita menilai, generasi muda lebih mudah memahami budaya melalui praktik keseharian. Saat batik hadir dalam aktivitas rutin, budaya menjadi dekat dan relevan.
Di ruang kelas, batik dikenakan saat presentasi, kerja kelompok, hingga kegiatan santai. Tidak ada ketentuan khusus mengenai model atau warna. Mahasiswa bebas memadukan sesuai gaya masing-masing.
Dosen FDB Universitas Ciputra, Christina Tanujaya, AdvDip., B.Des., MBA., menyebut praktik tersebut sebagai pembelajaran lintas generasi. “Batik membuat mahasiswa tidak lagi melihat pakaian sebagai tren semata, tetapi sebagai identitas dan pesan sosial. Saat mahasiswa dan dosen memakainya bersama, terjadi dialog budaya lintas generasi,” katanya.
Mahasiswa Universitas Ciputra, Antonio Wijaya Capasso, mengaku merasakan perubahan cara pandang. “Biasanya batik terasa formal. Ketika dipadukan dengan gaya sehari-hari, saya lebih percaya diri karena memakai sesuatu yang punya makna,” tuturnya.
Dia menambahkan, diskusi dengan teman dan dosen membuatnya memahami arti motif yang dikenakan. Ia menyadari bahwa pakaian dapat menjadi sarana menyampaikan cerita.
Perayaan Valentine di Universitas Ciputra menunjukkan pelestarian budaya tidak selalu hadir dalam seremoni formal. Dari lorong kampus hingga ruang kelas, batik dikenakan secara santai dan personal.
Di tangan generasi muda, batik tak hanya dipakai, tetapi dimaknai ulang sebagai bagian dari identitas sehari-hari. (*)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Prediksi Skor Al-Hilal vs Al-Gharafa di Liga Champions Asia: Gabriel Martinelli Cetak Gol Lagi!
Prediksi Genoa vs Sudtirol: Rotasi De Rossi Jadi Sorotan, Laga Coppa Italia Bisa Berlangsung Sengit
Prediksi Skor Atletico Madrid vs Osasuna di Liga Spanyol: Los Colchoneros Menang di Metropolitano

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022