
Dari kiri ke kanan, ilmuwan komputer Geoffrey Hinton dan Yoshua Bengio, Kepala AI Meta Yann LeCun, CEO Nvidia Jensen Huang, serta ilmuwan komputer Fei-Fei Li dan Bill Dally. (Financial Times)
JawaPos.com — Dunia teknologi global kini memasuki babak baru yang menandai pergeseran besar dalam sejarah kecerdasan buatan (AI).
Sejumlah pelopor utama di bidang AI, termasuk Jensen Huang (CEO Nvidia), Yann LeCun (Kepala AI Meta), Geoffrey Hinton, Yoshua Bengio, dan Fei-Fei Li, menyatakan bahwa sistem kecerdasan buatan saat ini telah mencapai kemampuan yang setara dengan manusia dalam sejumlah bidang.
Dilansir dari Financial Times, Selasa (11/11/2025), pernyataan tersebut disampaikan dalam acara penganugerahan Queen Elizabeth Prize for Engineering di London. Pernyataan kolektif ini memicu kembali diskusi global mengenai seberapa dekat umat manusia dengan fase Artificial General Intelligence (AGI), yakni tahap di mana AI memiliki kecerdasan dan kemampuan berpikir yang seluas serta sekompleks manusia.
Para tokoh pelopor AI menilai, transisi menuju AGI kini bukan sekadar teori, melainkan sedang berlangsung secara nyata di berbagai sektor kehidupan.
Jensen Huang menegaskan, “Untuk pertama kalinya, AI menjadi kecerdasan yang melengkapi manusia. Dia mengerjakan tugas-tugas yang sebelumnya hanya dapat dilakukan oleh tenaga manusia.”
Huang menambahkan bahwa tingkat kecerdasan yang telah dicapai memungkinkan penerapan teknologi dalam skala besar. "Kami telah memiliki cukup kecerdasan umum untuk menerjemahkan teknologi ini menjadi berbagai aplikasi yang berguna bagi masyarakat, dan itu sudah terjadi saat ini," ujarnya.
Sementara itu, Yann LeCun berpendapat bahwa pencapaian kecerdasan setara manusia bukanlah satu peristiwa tunggal, melainkan hasil perkembangan bertahap.
"Ini bukan akan menjadi satu momen tertentu, karena kemampuan AI akan terus berkembang secara progresif di berbagai domain," kata LeCun. Dia menekankan bahwa perluasan kemampuan AI akan terus berlanjut, tanpa titik final yang jelas.
Fei-Fei Li, pendiri World Labs, menyoroti sisi lain dari kemajuan tersebut. "Sebagian kemampuan mesin telah melampaui manusia, dan sebagian lagi sudah terjadi sekarang. Berapa banyak dari kita yang bisa mengenali 22.000 objek atau menerjemahkan 100 bahasa?” ujarnya.
Meskipun demikian, dia mengingatkan bahwa peran manusia tetap penting. “Kecerdasan berbasis mesin akan melakukan banyak hal luar biasa, tetapi selalu ada ruang mendalam bagi kecerdasan manusia yang tak tergantikan di masyarakat kita,” tambahnya.
Tak ketinggalan, Yoshua Bengio menilai tidak ada alasan konseptual yang menghalangi manusia untuk menciptakan mesin yang mampu melakukan hampir semua hal yang bisa dilakukan manusia. “Saya tidak melihat alasan mengapa pada akhirnya kita tidak dapat membangun mesin yang bisa melakukan hampir segala hal seperti kita,” katanya.
Namun dia mengingatkan agar komunitas global berhati-hati dalam menarik kesimpulan. “Kita harus tetap berpikir agnostik, tidak terburu-buru membuat klaim besar karena masa depan teknologi ini masih memiliki banyak arah yang mungkin terjadi,” tegasnya.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya minat investasi terhadap teknologi AI. Istilah ‘AGI’ bahkan disebut 53 persen lebih banyak dalam laporan keuangan perusahaan global pada kuartal pertama 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Tren ini menunjukkan ekspektasi besar bahwa AI akan menjadi pilar utama perubahan ekonomi dan sosial dunia.
Namun, di balik optimisme tersebut, masih ada perbedaan pandangan mengenai kapan AGI benar-benar akan terwujud. Sebagian peneliti memperkirakan pencapaiannya bisa terjadi dalam dua tahun ke depan, sementara lainnya menilai masih memerlukan waktu puluhan tahun.
Para pelopor AI ini menekankan bahwa yang terjadi saat ini adalah awal dari kemampuan yang semakin luas di berbagai bidang, bukan titik akhir dari kecerdasan manusia itu sendiri.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
