JawaPos.com - OpenAI resmi meluncurkan ChatGPT for Teens, versi ChatGPT dengan perlindungan khusus bagi pengguna di bawah 18 tahun. Namun, kehadiran fitur tersebut justru memunculkan pertanyaan dari pakar keselamatan anak mengenai kemampuan OpenAI memastikan pengguna remaja benar-benar terdeteksi dan masuk ke pengalaman yang lebih aman.
Sistem tersebut dirancang untuk berjalan otomatis. Lauren Jonas, kepala divisi youth and families OpenAI, mengatakan pengguna remaja tidak perlu membuat akun baru atau mengubah pengaturan untuk mendapatkan perlindungan tersebut.
“Remaja tidak perlu membuat akun baru atau mengubah apa pun, jika kami memperkirakan Anda berusia di bawah 18 tahun, atau Anda telah memberi tahu kami demikian, ini akan menjadi pengalaman default Anda,” kata Jonas seperti dikutip dari Engadget.
Masalahnya, para pakar menilai OpenAI belum memberikan bukti yang cukup mengenai seberapa akurat teknologi estimasi usia tersebut. Robbie Torney dari Common Sense Media mempertanyakan tidak adanya data publik mengenai tingkat false positive dan false negative sistem tersebut.
"Kami tidak memiliki data yang dipublikasikan oleh OpenAI yang menunjukkan tingkat efektivitasnya, yaitu tingkat positif palsu dan negatif palsu, yang terkait dengan sistem tersebut. Sistem otomatis itu tidak mendeteksi sebagian besar remaja yang menggunakan ChatGPT; angkanya jauh dari 100 persen," ujar Torney.
Keraguan itu menjadi penting karena ChatGPT sudah digunakan remaja dalam jumlah besar. Pew Research Center sebelumnya menemukan sekitar seperempat remaja di Amerika Serikat menggunakan chatbot tersebut untuk membantu mengerjakan tugas sekolah.
Selain persoalan akurasi, pakar juga menilai remaja berpotensi mencoba mengakali sistem deteksi usia. Torney mencontohkan kemungkinan penggunaan VPN maupun metode lain untuk menghindari pembatasan yang diterapkan berdasarkan perkiraan usia pengguna.
Karena itu, para ahli yang diwawancarai Engadget meminta OpenAI tidak hanya mengandalkan klaim internal. Mereka menilai ChatGPT for Teens perlu melalui pengujian independen secara menyeluruh sebelum dapat direkomendasikan kepada orang tua dan remaja.
"Pengumuman tersebut memuat sejumlah komitmen yang sangat penting, namun kita memerlukan bukti untuk menunjukkan bahwa komitmen dan fitur keselamatan itu benar-benar berfungsi," kata Torney.
OpenAI sendiri mengatakan perlindungan untuk pengguna di bawah 18 tahun juga mencakup aturan yang lebih ketat dalam percakapan. ChatGPT disebut tidak boleh menggunakan bahasa romantis, mendorong ketergantungan emosional, atau menyiratkan bahwa chatbot memiliki perasaan maupun kesadaran.
Di sisi lain, Josh Golin dari Fairplay menilai persoalan akuntabilitas masih menjadi titik lemah. Menurutnya, pengalaman dengan platform media sosial menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap perusahaan saja tidak cukup untuk memastikan sistem perlindungan anak benar-benar bekerja.
"Di atas kertas, beberapa hal yang diumumkan OpenAI tampak sebagai langkah ke arah yang tepat; namun jika ditelaah lebih dalam, masih banyak hal yang patut dikhawatirkan, termasuk tidak adanya mekanisme akuntabilitas," ungkap Golin.
Dengan demikian, peluncuran ChatGPT for Teens tidak hanya menjadi upaya OpenAI memperketat perlindungan bagi pengguna muda. Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa sistem tersebut mampu mengenali remaja secara akurat dan memberikan perlindungan yang dijanjikan dalam praktik.