
Zuckerberg dan Trump dalam pertemuan di Gedung Putih (Business Insider)
JawaPos.com - CEO Meta Mark Zuckerberg menolak proposal pembentukan regulator AI nasional dalam pembicaraan pribadi dengan Presiden Donald Trump pada pekan 17 Agustus.
Trump disebut lebih dahulu menghubungi Zuckerberg untuk membahas proposal yang saat itu tengah dipertimbangkan Gedung Putih. Penolakan Zuckerberg menunjukkan adanya keberatan dari kalangan perusahaan teknologi terhadap rencana pengawasan AI tersebut.
Proposal tersebut mengusulkan pembentukan badan independen yang meniru Financial Industry Regulatory Authority (FINRA), organisasi industri yang mengawasi sektor sekuritas di bawah pengawasan Securities and Exchange Commission (SEC).
Untuk AI, badan ini dibayangkan menguji model-model canggih dan menilai potensi risikonya sebelum teknologi tersebut diluncurkan secara lebih luas. Gagasan itu dipopulerkan Demis Hassabis, ilmuwan peraih Nobel sekaligus CEO Google DeepMind, dan telah dipaparkan kepada sejumlah pejabat Gedung Putih.
Dilansir dari Business Insider, Senin (7/9/2026), seorang pejabat senior Gedung Putih yang mengetahui percakapan tersebut mengatakan Zuckerberg menyampaikan bahwa dirinya menentang proposal itu. Namun, Zuckerberg tidak meminta Trump mengubah pendiriannya. Dia justru menyampaikan bahwa orang-orang yang nantinya dipilih Gedung Putih untuk mengisi badan regulator sebaiknya mencerminkan pendekatan Trump yang dinilai lebih longgar terhadap AI.
Sikap itu sejalan dengan pandangan Zuckerberg yang disampaikan dalam esainya pada Agustus. Dia menilai pemerintah dan perusahaan AI perlu bekerja sama, tetapi memperingatkan bahwa kebijakan yang memperlambat peluncuran model baru, bahkan selama satu bulan, dapat "menambah risiko signifikan terhadap kepemimpinan Amerika" dalam persaingan dengan Tiongkok.
Bagi Zuckerberg, kecepatan pengembangan dan penerapan AI menjadi bagian dari persaingan teknologi strategis, sehingga proses pengawasan yang terlalu ketat dinilai berpotensi merugikan posisi Amerika Serikat.
Sebaliknya, Hassabis mengusulkan mekanisme yang menempatkan pengujian keselamatan lebih awal. Dalam esainya pada Juli, dia menyerukan pembentukan badan standar baru yang meniru FINRA untuk menangani risiko AI, termasuk ancaman keamanan siber yang terus berkembang.
Dalam rancangan tersebut, perusahaan dapat secara sukarela menyerahkan model AI untuk diuji hingga 30 hari sebelum peluncuran. Jika terbukti efektif, mekanisme itu dapat diformalkan dan menjadi persyaratan sebelum model digunakan lebih luas di Amerika Serikat.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022