
Wamen Komdigi Nezar Patria. (Dok. Komdigi)
JawaPos.com - Indonesia dinilai perlu mengubah posisi dari sekadar pasar pengguna kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) menjadi bagian dari rantai industri teknologi tersebut. Pemerintah melihat ada sejumlah celah strategis yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan industri AI dunia.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan peluang tersebut salah satunya terbuka melalui industri semikonduktor. Indonesia memiliki berbagai sumber daya yang dibutuhkan dalam rantai produksi semikonduktor, tetapi tantangannya adalah membangun kemampuan pengolahan agar komoditas tersebut tidak berhenti sebagai bahan mentah.
“Ini saatnya kolaborasi harus dilakukan untuk menciptakan ekosistem yang end-to-end,” ujar Wamen Nezar dalam Deloitte Indonesia Townhall di Jakarta Selatan, Jumat (11/9).
Menurut Nezar, ekosistem AI memiliki rantai industri yang jauh lebih panjang dibandingkan sekadar teknologi atau aplikasi yang digunakan oleh masyarakat. Di dalamnya terdapat berbagai kebutuhan, mulai dari energi dan air, pusat data serta compute power, semikonduktor, platform, hingga aplikasi.
Rantai tersebut sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk mengambil peran pada lapisan yang memiliki nilai strategis. Salah satunya adalah menyediakan dan mengolah material yang dibutuhkan dalam industri semikonduktor.
“Yang namanya semikonduktor itu membutuhkan begitu banyak material, termasuk juga critical mineral. Nah, kita punya banyak di Indonesia yang akan menyumbang untuk pembuatan semikonduktor,” katanya.
Nezar menyebut sejumlah sumber daya yang dimiliki Indonesia, di antaranya nikel, pasir silika, timah, tembaga, dan emas. Menurutnya, potensi tersebut dapat menjadi modal untuk membangun posisi Indonesia dalam rantai pasok industri teknologi.
Namun, keberadaan bahan baku saja dinilai belum cukup. Indonesia perlu meningkatkan kemampuan pengolahan sehingga sumber daya tersebut dapat berubah menjadi material yang memiliki nilai lebih tinggi dan dibutuhkan dalam industri semikonduktor.
“Pasir silika kita 7,8 miliar ton menurut data ESDM. Tetapi tidak ada yang mengolahnya menjadi silicone wafer yang dibutuhkan untuk membuat semikonduktor,” ujarnya.
Kemampuan mengolah material strategis tersebut, lanjut Nezar, dapat menjadi jalan bagi Indonesia untuk mengamankan titik tertentu dalam rantai produksi global. Ia menggunakan istilah choke point untuk menggambarkan posisi strategis tersebut.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022