
Meta memperkenalkan sejumlah produk baru, termasuk versi kacamata pintar tanpa kamera, yang mendapat apresiasi dari para analis (The Business Times)
JawaPos.com - Meta Platforms bergerak mendekati kelompok perusahaan dengan valuasi sedikitnya USD 2 triliun atau sekitar Rp36.000 triliun, dengan kurs Rp18.000 per dolar AS, setelah sahamnya melonjak tajam. Pemicu utamanya adalah Muse, agen kecerdasan buatan (AI) yang melesat ke jajaran teratas aplikasi, sekaligus meredakan keraguan investor terhadap biaya pengembangan AI.
Saham Meta naik 36 persen sepanjang September hingga penutupan perdagangan Kamis (24/9/2026). Kenaikan itu akan menjadi performa bulanan terbaik sejak Juli 2013. Pergerakan itu penting karena saham Meta sebelumnya tertahan selama sekitar satu setengah tahun ketika pasar belum yakin apakah investasi AI akan memperkuat atau justru membebani kinerja perusahaan.
Dilansir dari The Business Times, Selasa (29/9/2026), Rob Biederman, pendiri sekaligus managing partner Asymmetric Capital Partners, menilai Muse menjadi bukti awal bahwa strategi AI Meta mulai mendapatkan validasi pasar.
"Muse jelas memvalidasi strategi dan posisi AI Meta," ujarnya. Dia juga melihat agen AI berpotensi menjadi pintu utama pengguna menuju internet, yang dapat memperkuat posisi Meta.
Selain Muse, berkurangnya tekanan hukum turut membantu pemulihan. Pada akhir Agustus, perusahaan menyepakati pembayaran hingga USD 18 miliar atau sekitar Rp324 triliun untuk menyelesaikan gugatan terkait bisnis media sosialnya. Meta mengumumkan kerja sama dengan Maplebear, pemilik Instacart, dan Expedia.
Dampaknya mulai terasa di luar Meta. Ketika investor melihat agen AI mampu mengambil alih sebagian aktivitas yang sebelumnya dilakukan melalui layanan konvensional, saham perusahaan dari sejumlah industri ikut tertekan karena kekhawatiran terhadap potensi disrupsi. Meta memperkenalkan perangkat berukuran telapak tangan dan kacamata pintar tanpa kamera untuk Muse.
Optimisme Wall Street pun meningkat. Analis JPMorgan Doug Anmuth menulis pada 10 September, "Masih terdapat potensi kenaikan yang berarti karena Meta berada pada tahap awal dalam merilis model terdepan dan produk berbasis AI di luar periklanan." JPMorgan kemudian menaikkan rekomendasinya terhadap saham Meta dari netral menjadi overweight.
Meski demikian, lonjakan saham belum menghapus persoalan biaya. Belanja modal Meta diperkirakan mencapai hampir USD 140 miliar pada 2026, dua kali lipat dari sekitar USD 70 miliar pada 2025. Arus kas bebas yang tahun lalu mencapai USD 46 miliar juga diperkirakan berubah menjadi negatif USD 6,4 miliar pada 2026 dan negatif USD 29,2 miliar pada 2027.
Tekanan tersebut membuat pertumbuhan menjadi kunci pembuktian strategi AI Meta. Berdasarkan rata-rata estimasi analis yang dihimpun Bloomberg, pendapatan 2026 Meta diperkirakan naik 26 persen menjadi USD 254 miliar, sedangkan laba bersih meningkat 33 persen menjadi USD 80,6 miliar. Namun, pertumbuhan diperkirakan melambat pada 2027, masing-masing menjadi 20 persen untuk pendapatan dan 9 persen untuk laba bersih.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Prediksi Skor Arema FC vs Bhayangkara FC: Berpeluang Imbang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Isenmulang Kalteng vs Persebaya di Super League, Green Force Berpeluang Curi Tiga Poin
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Susunan Pemain Persik vs Madura United: Reina Siapkan Strategi Terbaik
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Suahasil Buka Suara soal Pembagian Tugas Tiga Wamenkeu, Ini Fokusnya!
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Emil Audero Incar Poin di Kandang
Adhyaksa FC Bekasi Vs PSGC Ciamis: Misi Bangkit Tuan Rumah

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022