Ilustrasi limbah elektronik. (UNITAR)
JawaPos.com - Indonesia menghasilkan sekitar 1,9 juta ton sampah elektronik atau electronic waste (e-waste) pada 2022. Volume tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu penghasil e-waste terbesar di dunia sekaligus yang tertinggi di Asia Tenggara, sehingga persoalan pengelolaan perangkat elektronik bekas semakin mendesak di tengah pesatnya pertumbuhan teknologi.
Data tersebut tercatat dalam Global E-Waste Monitor yang diterbitkan International Telecommunication Union (ITU) dan United Nations Institute for Training and Research (UNITAR). Besarnya timbulan e-waste menunjukkan bahwa persoalan sampah elektronik tidak lagi sebatas urusan perangkat yang menumpuk setelah masa pakainya berakhir.
Di dalam perangkat elektronik terdapat berbagai komponen dan material yang masih memiliki nilai. Namun, jika tidak dikelola melalui jalur yang tepat, perangkat yang sudah tidak digunakan dapat berakhir sebagai limbah dan menambah beban lingkungan.
Persoalan itu pula yang coba disorot melalui program AksiCintaBumi bertema 'Transforming E-Waste, Empowering Our Future' yang digelar Lintasarta bersama EwasteRJ pada Agustus-November 2026.
Program tersebut menargetkan pengumpulan 380 kilogram e-waste dengan melibatkan karyawan, mahasiswa, pelajar, komunitas, dan masyarakat di Jakarta, Tangerang Selatan, serta Depok.
Limbah Elektronik Bukan Sekadar Barang Bekas
Pertumbuhan penggunaan perangkat digital membuat siklus hidup teknologi semakin cepat. Ponsel, komputer, perangkat jaringan, server, penyimpanan data hingga berbagai perangkat pendukung pada akhirnya akan mencapai masa ketika tidak lagi digunakan.
Masalahnya, perangkat tersebut tidak selalu berakhir dengan cara yang sama seperti sampah rumah tangga biasa. Sebagian masih bisa digunakan kembali atau diperbaiki, sementara perangkat yang sudah mencapai akhir masa pakai dapat dipilah untuk mengambil kembali komponen dan material yang bernilai.
Karena itu, pengelolaan e-waste menjadi bagian penting dari upaya membangun ekonomi sirkular. Alih-alih langsung membuang perangkat, material yang masih bernilai dapat dikembalikan ke dalam siklus produksi atau digunakan kembali untuk memperpanjang masa manfaatnya.
“Kemajuan teknologi perlu berjalan seiring dengan tanggung jawab terhadap lingkungan. Lintasarta mendorong kesadaran bahwa perangkat elektronik yang sudah tidak digunakan bukan berarti kehilangan seluruh nilainya. Dengan pengelolaan yang tepat kita dapat memperpanjang nilai teknologi, sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam ekonomi sirkular,” ujar Billy Nikolas Simanjuntak, Head Corporate Secretary, Legal, and Regulatory Lintasarta di Jakarta baru-baru ini.
Pengelolaan E-Waste Tak Berhenti di Tempat Pengumpulan
Dalam program tersebut, Lintasarta dan EwasteRJ tidak hanya menempatkan pengumpulan sebagai tahap akhir. E-waste yang terkumpul akan diarahkan ke jalur pengelolaan berdasarkan kondisi masing-masing perangkat.
Perangkat yang masih memungkinkan untuk digunakan kembali akan diidentifikasi untuk mendapatkan second life, baik melalui penggunaan kembali maupun proses refurbishment. Sementara perangkat yang sudah tidak layak pakai akan melalui pemilahan serta proses pemulihan komponen dan material yang masih mempunyai nilai.
Pendekatan tersebut penting karena persoalan e-waste bukan semata-mata seberapa banyak perangkat yang berhasil dikumpulkan. Yang tidak kalah penting adalah ke mana perangkat tersebut berakhir dan bagaimana material di dalamnya dikelola setelah dikumpulkan.
Founder EwasteRJ Rafa Jafar mengatakan pengelolaan sampah elektronik perlu dilihat sebagai bagian dari siklus hidup teknologi.
“E-waste adalah bagian dari siklus hidup teknologi. Di dalam perangkat yang sudah tidak digunakan masih terdapat komponen dan material yang memiliki nilai. Lita ingin memastikan perangkat tersebut masuk ke ekosistem yang tepat—untuk digunakan kembali ketika masih memungkinkan, dipulihkan materialnya, dan dikembalikan ke dalam siklus yang produktif,” ujar Rafa.
Sebagian material hasil pengelolaan e-waste dalam program tersebut juga akan ditransformasikan menjadi karya edukatif berbentuk Garuda dan Peta Indonesia. Karya itu digunakan sebagai simbol Unity in Action sekaligus medium untuk memperkenalkan konsep ekonomi sirkular kepada masyarakat.
Siklus Hidup Teknologi Ikut Menjadi Persoalan Lingkungan
Isu e-waste semakin relevan bagi industri teknologi karena pertumbuhan infrastruktur digital juga berarti bertambahnya perangkat fisik yang digunakan untuk menopang layanan digital.
Server, GPU, storage, perangkat jaringan, hingga perangkat pendukung lainnya memiliki masa penggunaan dan pada akhirnya harus dikelola ketika tidak lagi digunakan. Artinya, pembicaraan mengenai transformasi digital tidak hanya menyangkut manfaat teknologi, tetapi juga konsekuensi lingkungan dari perangkat yang membuat teknologi tersebut berjalan.
Keterlibatan Universitas Indonesia dan SMA Labschool Cirendeu, bersama komunitas Trash Ranger Indonesia, mahasiswa, pelajar, dan environmental creators, menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman tersebut.
Melalui edukasi dan partisipasi, masyarakat diperkenalkan pada tahapan yang dapat dilakukan terhadap perangkat elektronik yang sudah tidak digunakan, mulai dari memilah, menggunakan kembali ketika masih memungkinkan, hingga memastikan perangkat masuk ke jalur pemulihan material yang sesuai.
Dengan volume e-waste Indonesia yang mencapai sekitar 1,9 juta ton dalam data 2022, pengelolaan perangkat elektronik bekas membutuhkan keterlibatan lebih luas dari industri, pemerintah, komunitas, institusi pendidikan, hingga masyarakat.
Tantangannya bukan hanya mengurangi perangkat yang berakhir sebagai limbah, tetapi juga memastikan material yang masih bernilai tidak kehilangan kesempatan untuk kembali masuk ke dalam siklus ekonomi.
Di tengah penggunaan teknologi yang terus meningkat, pengelolaan akhir masa pakai perangkat menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pembicaraan tentang masa depan digital. Semakin banyak perangkat digunakan, semakin penting pula memastikan siklus hidupnya tidak berakhir sebagai beban lingkungan.