
Direktur Eksekutif Asosiasi Jepang-Brasil Masanori Yabu (paling kanan) menjelaskan peralatan pertanian yang digunakan para imigran di Kobe Center for Overseas Migration and Cultural Interaction, Kota Kobe, Prefektur Hyogo, pada 15 Mei 2026. (Kyodo)
JawaPos.com – Semakin banyak keturunan emigran Jepang dari berbagai negara datang ke Jepang untuk menelusuri asal-usul keluarga mereka. Tren yang dikenal sebagai roots tourism atau wisata leluhur itu terus berkembang berkat media sosial, melemahnya nilai tukar yen, serta meningkatnya minat terhadap silsilah keluarga.
Seperti dilansir Kyodo, Senin (27/7), diperkirakan terdapat sekitar lima juta orang keturunan Jepang yang tinggal di luar negeri. Tren tersebut dinilai membuka peluang baru untuk menggerakkan perekonomian daerah sekaligus memperkuat pertukaran budaya dan saling pengertian.
Salah satu di antaranya adalah Sergio Kohatsu, akuntan Jepang-Brasil berusia 68 tahun asal Sao Paulo. Bersama putrinya, Jessica, ia mengunjungi Kobe Center for Overseas Migration and Cultural Interaction pada pertengahan Mei untuk menelusuri perjalanan ayahnya yang beremigrasi ke Brasil hampir satu abad lalu.
Kohatsu membawa dokumen manifes penumpang yang mencatat perjalanan ayahnya menuju Brasil saat masih berusia beberapa bulan. Dokumen itu membantunya mengungkap kisah keluarga yang selama ini tidak pernah banyak diceritakan oleh sang ayah.
"Ayah saya jarang sekali menceritakan bagaimana ia datang ke Brasil. Saya selalu ingin mengetahui bagaimana dan bersama siapa ia melakukan perjalanan itu," kata Kohatsu.
Ayah Kohatsu lahir di Nishihara, Prefektur Okinawa, pada 1929. Pada tahun yang sama, ia berangkat ke Brasil bersama tiga generasi keluarganya, termasuk buyut serta kakek-neneknya, untuk bekerja di perkebunan kopi.
Kobe Center for Overseas Migration and Cultural Interaction awalnya didirikan pada 1928 sebagai National Emigration Reception Center. Hingga 1971, fasilitas tersebut menjadi tempat singgah sementara bagi para emigran Jepang sebelum berangkat ke berbagai negara, termasuk Brasil.
Pusat tersebut kini menyediakan manifes penumpang yang dihimpun dari Perpustakaan Nasional Parlemen Jepang beserta salinan foto rombongan sebelum keberangkatan apabila tersedia. Dokumen-dokumen itu menjadi sumber penting bagi para pengunjung yang ingin menelusuri sejarah keluarganya.
Direktur Eksekutif Japan-Brazil Association di Kobe, Masanori Yabu, mengatakan jumlah pengunjung terus meningkat. Pada tahun fiskal 2024, pusat tersebut menerima 165 rombongan, sedangkan pada tahun fiskal 2025 jumlahnya naik menjadi 243 rombongan.
Menurut Yabu, popularitas fasilitas tersebut meningkat setelah banyak muncul dalam video di media sosial, termasuk yang dibuat pasangan Jepang dan Jepang-Brasil. Di sisi lain, layanan tes genetik yang dapat menunjukkan asal-usul keluarga juga turut mendorong meningkatnya minat masyarakat terhadap penelitian silsilah.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
