Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 25 April 2018 | 05.16 WIB

Yuki Kawauchi dan Obsesi Besar Jepang Menuju Tokyo 2020

Photo - Image

Photo


Catatan Adharanand Finn


Penulis buku best seller The Way of the Runner dan Running with the Kenyans



---


SIAPA pun pasti kaget saat menyaksikan Yuki Kawauchi berlari kencang menyalip pelari-pelari Kenya menuju finis dan memenangi Boston Marathon 16 April lalu. Seorang pelari Jepang memenangi ajang mayor dunia di tengah kondisi cuaca yang berat, bagaimana bisa? Adharanand Finn pernah melakukan riset dan menulis buku berjudul The Way of the Runner: A Journey into the Fabled World of Japanese Running. Kali ini secara eksklusif dia menulis untuk Jawa Pos mengenai fenomena Kawauchi tersebut.



---
LEBIH dari satu dekade terakhir, kita terbiasa menyaksikan pelari-pelari Afrika Timur memenangi setiap ajang lari jarah jauh, terutama maraton. Saking seringnya, muncul pertanyaan dari banyak orang di sekitar kita: Akankah pelari non-Afrika Timur bisa memenangi sebuah ajang maraton mayor lagi?
Pada 2013, misalnya, 59 waktu tercepat maraton di dunia dibukukan pelari dari Afrika Timur. Sebagian besar asal Kenya, lalu Ethiopia, dan Eritrea. Dari 100 pelari maraton top dunia, hanya enam yang bukan berasal dari Afrika. Yang menarik, lima di antaranya dari Jepang.


Saya merujuk 2013 karena saat itu saya sedang tinggal di Jepang melakukan riset untuk menulis buku tentang obsesi besar –yang tidak diketahui banyak orang– masyarakat Negeri Samurai itu pada lari jarak jauh. Yang saya temukan sungguh mengejutkan. Sebuah kultur lari yang sangat kuat dengan tim-tim dan atlet profesional berkompetisi pada level persaingan superketat. Karena itu pula, saya tidak terlalu terkejut melihat pelari Jepang menjuarai ajang maraton besar.


Saya menemukan bahwa Jepang memiliki sejarah maraton yang panjang dan kaya. Saat olahraga lari booming di negara-negara seperti Inggris dan Amerika Serikat pada akhir 1970-an dan 1980-an, dan para pelari Kenya baru mulai turun di maraton dunia pada 1990-an, Jepang sebenarnya memulainya jauh lebih awal. Tepatnya pasca-Perang Dunia II di akhir 1940-an. Sebagian dari ajang maraton besar di Jepang saat ini, misalnya Fukuoka dan Danau Biwa maraton, dimulai sejak tahun-tahun tersebut. Termasuk ajang lari jarak jauh yang sangat populer di Jepang, ekiden.


Pada pertengahan 1960, para pelari Jepang mendominasi ranking dunia sebanyak pelari Kenya hari ini. Contohnya, pada 1965, 18 dari 25 waktu tercepat maraton dunia dibukukan pelari Jepang. Di Boston Marathon pada tahun itu, tiga finisher terdepan semuanya pelari Jepang.


Saat ini, nyaris semua pelari maraton Jepang adalah atlet-atlet murni atau full time. Mereka dibiayai, digaji, dan didukung tim korporat yang berlaga di berbagai maraton, termasuk ekiden, demi gengsi perusahaan. Lomba-lomba maraton tersebut berkaliber sangat besar di Jepang. Salah satu yang paling spektakuler adalah Hakone ekiden. Ajang ini, saking hebohnya, sampai membuat seluruh negeri seakan ’’terhenti’’.


Hakone ekiden adalah ajang tahunan terbesar di Jepang. Jumlah penontonnya hanya bisa ditandingi oleh Super Bowl di AS. Bintang-bintang besarnya adalah pelari yang sangat kondang di Jepang dan memiliki penggemar setia.


Dengan lingkungan kompetisi sangat ketat, Jepang memiliki ribuan pelari maraton profesional, yang memang hidup dari gaji sebagai pelari. Tidak ada tempat lain di dunia yang memiliki kultur seperti ini dengan skala besar layaknya di Jepang.


Jika Anda mempelajari sejarah, dan menyaksikan sendiri begitu besarnya gairah dan kecintaan Jepang terhadap lari, Anda pasti bertanya: mengapa butuh waktu begitu lama bagi pelari Jepang untuk menjuarai sebuah ajang mayor? Ingat, kali terakhir Jepang juara adalah pada 1987.


Jawabannya adalah karena tidak semua yang ada di Jepang selalu berjalan dengan sempurna. Pertama, tentu saja, karena kebangkitan pelari-pelari Afrika Timur dengan segala talenta alaminya. Didukung dengan iming-iming hadiah besar, memenangi maraton bagi pelari Kenya tidak hanya akan mengubah hidup mereka, tapi juga keluarga dan seluruh daerah asalnya.


Isu besar lainnya adalah berkembangnya tren ekiden ketimbang maraton. Unsur tim dalam balapan ini membuat atletnya terlalu berfokus untuk memuaskan para pendukungnya. Selain itu, pada masyarakat Jepang pada umumnya, hidup rasa tanggung jawab yang besar terhadap orang lain. Karena itu, kesuksesan tim lebih penting ketimbang prestasi individu. Nah, ekiden ikut menggelorakan nilai-nilai tersebut.


Tapi, latihan ekiden dan maraton berbeda. Ekiden cenderung berjarak lebih pendek. Waktunya berlangsung pada saat yang sangat mengganggu persiapan untuk ajang maraton di musim semi dan musim gugur.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore