JawaPos.com - Kementerian Agama mengalokasikan Rp 85,84 miliar untuk memulihkan 490 madrasah yang terdampak bencana di wilayah Sumatera.
Anggaran tersebut digunakan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi madrasah negeri maupun swasta pada Tahun Anggaran 2026.
Dari 490 madrasah penerima bantuan, sebanyak 167 merupakan madrasah negeri dan 323 lainnya madrasah swasta.
Baca Juga: Usung Konsep Baru, Gandrung Sewu Banyuwangi Digelar Malam Hari pada 24 Oktober
Program ini ditujukan untuk mengembalikan fasilitas pendidikan yang rusak akibat bencana agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan.
Salah satu madrasah yang masuk dalam program pemulihan tersebut adalah MIN 5 Pidie Jaya di Seunong yang rusakan berat hingga bangunannya hanyut tidak dapat lagi digunakan.
Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Kemenag M. Arskal Salim GP mengatakan, Kemenag telah mengusulkan sejumlah fasilitas melalui anggaran yang tersedia.
Baca Juga: Wapres Gibran Minta Maaf kepada Pasien Dugaan Keracunan Makanan di Batang
Sementara kebutuhan fasilitas lain akan dikoordinasikan dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk memastikan perencanaan dan pembiayaan tidak tumpang tindih.
”Kita ingin kebutuhan madrasah bisa dipenuhi secara bertahap. Yang paling penting sekarang adalah memastikan bangunan dapat kembali digunakan untuk kegiatan belajar mengajar,” ujar M. Arskal Salim GP.
”Saya berharap pembangunan ini dapat segera selesai sehingga pada Januari 2027 anak-anak sudah dapat kembali belajar di madrasah ini,” tambah Arskal.
Pemulihan MIN 5 Pidie Jaya menjadi salah satu bagian dari program Kemenag dalam mengembalikan fungsi sarana pendidikan yang terdampak bencana di Sumatera.
Kemenag menargetkan fasilitas pendidikan yang rusak dapat kembali digunakan secara bertahap sehingga proses belajar mengajar siswa dapat kembali normal.
Kemenag juga menyalurkan bantuan senilai Rp 65,2 miliar untuk mendukung pemulihan pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan Islam yang terdampak banjir di Aceh.
Baca Juga: Kemenpar dan FOKBI Gelar Aksi Solidaritas untuk NTT lewat Gerak Peduli NTT – Ikan Nae di Pante
Direktur Jenderal Pesantren Kemenag Basnang Said mengatakan, bantuan tersebut disalurkan kepada 956 lembaga melalui dua program, yakni bantuan operasional pendidikan serta bantuan sarana dan prasarana pascabencana.
”Kami ingin memastikan aktivitas pendidikan tetap berjalan dan pesantren dapat kembali menjalankan peran strategisnya di tengah masyarakat,” ujar Basnang dilansir dari Antara.
Dia menjelaskan, Kemenag telah menyalurkan Bantuan Operasional Pendidikan Pesantren dan Pendidikan Keagamaan Islam Pascabencana sebesar Rp 15.289.817.140 kepada 305 lembaga.
Baca Juga: Dinkes Jabar Deteksi 65 Kasus Influenza A atau Flu Babi
Bantuan itu untuk menjaga keberlangsungan kegiatan pembelajaran dan layanan pendidikan bagi santri serta peserta didik di wilayah terdampak.
Selain itu, Kemenag menyalurkan Bantuan Sarana dan Prasarana Pascabencana sebesar Rp 49.938.928.000 kepada 651 lembaga.
Bantuan tersebut digunakan untuk mendukung pembangunan dan rehabilitasi gedung, penyediaan fasilitas belajar yang layak, serta pengadaan sarana penunjang pendidikan, termasuk peralatan teknologi informasi dan komunikasi.
Baca Juga: Musim Kemarau, Petani Lampung, Pesawaran, Wonogiri, dan Tuban, Malah Panen Raya Jagung
Secara keseluruhan, total bantuan yang telah disalurkan mencapai Rp 65.228.745.140 atau sekitar Rp 65,2 miliar.
Kemenag berharap dukungan tersebut dapat meminimalkan dampak bencana terhadap penyelenggaraan pendidikan sekaligus mempercepat pemulihan aktivitas pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan Islam.
Basnang menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, pengelola pesantren, dan berbagai pemangku kepentingan, dalam memastikan proses pemulihan berjalan secara berkelanjutan.
Dengan demikian, pesantren dapat kembali menjalankan fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Baca Juga: Abrasi Ancam Pantura Jawa, Mangrove Diupayakan Jadi Benteng Alam