JawaPos.com - Sebanyak 582 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah memperkuat operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pemadaman darat dan udara.
Berdasar pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan, Kamis (1/10) pukul 21.10 WIB, terdeteksi 582 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence).
Baca Juga: Tinta Emas yang Ditorehkan Letjen TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani Selama Memimpin BULOG
Hal itu berdasar satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20.
Jumlah itu mengalami peningkatan dibandingkan pemantauan sebelumnya pada Rabu (30/9) yang mencatat sebanyak 521 titik panas.
Adapun sebaran titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi tercatat berada di beberapa wilayah.
Baca Juga: Gubernur Iqbal Tertibkan Tambak Udang Bermasalah, Investasi Jalan tapi Lingkungan Harus Dijaga
Dia Kalimantan Tengah sebanyak 205 titik, Sumatera Selatan 78 titik, Kalimantan Selatan 63 titik, Riau 2 titik, Kalimantan Barat 0 titik, dan Jambi 0 titik.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menegaskan, data hotspot merupakan indikator awal berdasar deteksi satelit terhadap anomali suhu permukaan.
Setiap indikasi hotspot tetap membutuhkan verifikasi lapangan untuk memastikan kondisi aktual di lokasi.
”Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa titik panas, sehingga informasi satelit menjadi salah satu dasar bagi petugas dalam menentukan lokasi prioritas pengecekan dan penanganan,” kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Ristianto Pribadi, dikutip Sabtu (3/10).
Kondisi Kualitas Udara Terus Dipantau
Pemerintah juga melakukan pemantauan kualitas udara sebagai bagian dari upaya perlindungan masyarakat terdampak karhutla.
Pemantauan kualitas udara dilakukan berdasar parameter PM2,5, yaitu partikel udara berukuran sangat kecil dengan diameter kurang dari atau sama dengan 2,5 mikrometer yang dapat menjadi indikator keberadaan partikulat di udara.
Baca Juga: Cuaca Jatim Akhir Pekan, Suhu Terik Hingga 36 Celsius di Bojonegoro, Jombang, dan Lamongan
Berdasar pemantauan terkini, kondisi kualitas udara di sebagian wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang.
Pemerintah terus melakukan pemantauan perkembangan kualitas udara, terutama pada wilayah yang terdapat aktivitas kebakaran maupun potensi terdampak asap.
Masyarakat diimbau tetap memperhatikan informasi kualitas udara.
Baca Juga: 14 Siswa SD di Blora Diduga Keracunan MBG, Puskesmas Siaga di Dua Sekolah
Mereka diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila terjadi penurunan kualitas udara.
Khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan kesehatan pernapasan.
Operasi Pemadaman Darat dan Udara Terus Diperkuat
Pemerintah juga memperkuat operasi pengendalian karhutla secara terpadu bersama BNPB, TNI, Polri, pemerintah daerah, BMKG, Manggala Agni, serta berbagai unsur terkait lain.
Baca Juga: Tahun Ini Gandrung Sewu Banyuwangi Akan Berpendar di Malam Hari
Sebanyak 61 unit armada udara disiagakan untuk mendukung patroli udara, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta pemadaman melalui metode water bombing.
Selain dukungan operasi udara, pengendalian karhutla juga dilakukan melalui patroli pencegahan, pemantauan wilayah rawan, pengecekan lapangan terhadap indikasi hotspot, pemadaman darat, serta pendinginan (mopping up) untuk memastikan api tidak kembali muncul.
Penyelamatan Satwa Terdampak Karhutla Dilakukan Secara Terpadu
Kementerian Kehutanan juga melakukan penyelamatan terhadap satwa liar yang terdampak akibat kejadian karhutla.
Penanganan satwa dilakukan melalui mekanisme respons terpadu oleh unit pelaksana teknis (UPT) Kementerian Kehutanan, khususnya Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), bersama para pihak terkait.
Baca Juga: Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk Mulai Normal, Antrean Terus Memendek
Setiap laporan keberadaan satwa liar terdampak karhutla dilakukan melalui tahap verifikasi dan asesmen lapangan untuk memastikan kondisi satwa serta menentukan tindakan penanganan yang sesuai.
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat yang menemukan satwa liar terdampak kebakaran, terluka, terjebak, atau masuk ke kawasan permukiman untuk tidak melakukan penanganan maupun evakuasi secara mandiri.
Masyarakat diharapkan menjaga jarak aman, tidak memberikan perlakuan yang dapat membahayakan satwa, serta segera melaporkan kepada BKSDA atau petugas kehutanan terdekat agar dapat dilakukan penanganan secara tepat.
Baca Juga: Semangat Hari Batik Nasional 2026, Emil Dardak Dorong Wastra Daerah Naik Kelas
Masyarakat Berperan Penting dalam Pencegahan Karhutla
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat dan seluruh pihak untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama pada wilayah yang masih mengalami kondisi kering.
Masyarakat diingatkan untuk tidak melakukan pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara membakar karena dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran yang berdampak terhadap lingkungan, kesehatan, satwa liar, dan aktivitas masyarakat.
Apabila menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar yang membutuhkan penanganan, masyarakat dapat segera melaporkan agar respons dapat dilakukan sedini mungkin.
Baca Juga: BPMA–PGE Bersama Koperasi Keuramat Jaya Tanda Tangani Kerja Sama Produksi Minyak Masyarakat di Aceh
Kementerian Kehutanan bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, BNPB, BMKG, Manggala Agni, serta seluruh unsur masyarakat akan terus memperkuat kolaborasi dalam pencegahan dan pengendalian karhutla untuk melindungi hutan, lingkungan, keanekaragaman hayati, dan masyarakat.