← Beranda
Studi Tiru Sistem Makan Sekolah Jepang, BGN Uji MBG Prasmanan di Blora
Edi Yulianto• Senin, 5 Oktober 2026 | 23.47 WIB
Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji coba sistem prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 5 Ngawen, Blora. Pelaksanaan ini meniru konsep makan di sekolah Jepang, Kyushoku. (istimewa)

 

JawaPos.com - Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji coba sistem prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penerapan pola tersebut dilakukan di sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), termasuk SPPG Ngawen 1 di Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Uji coba MBG prasmanan di Blora dilaksanakan di SDN 5 Ngawen, Kecamatan Ngawen. Sistem tersebut dikembangkan BGN setelah melakukan studi tiru terhadap sistem makan di sekolah Jepang yang dikenal dengan istilah Kyushoku.

Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Blora, Artika Diannita, mengatakan pelaksanaan uji coba tersebut berdasarkan nota dinas dari BGN. 

“Hari ini kita melakukan piloting project MBG prasmanan itu sesuai dengan nota dinas dari Deputi Sistem Tata dan Kelola, berdasarkan nota dinas Nomor 43 per tanggal 30 September 2026,” kata Artika saat ditemui di SDN 5 Ngawen, Senin (5/10/2026).

Baca Juga: BGN Mulai Uji Coba MBG Prasmanan di 60 Titik Dapur, Disajikan Hangat di Kelas

Menurut Artika, sebanyak 42 SPPG di Indonesia ditunjuk untuk menjalankan pilot project MBG dengan sistem prasmanan. SPPG Ngawen 1 menjadi salah satu SPPG yang mendapat kepercayaan untuk melaksanakan uji coba tersebut.

Berbeda dengan pola pembagian makanan sebelumnya, sistem prasmanan memungkinkan siswa mengambil sendiri makanan yang telah disediakan. Jumlah makanan yang diambil dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa.

Artika mengatakan penerapan pola tersebut mendapat respons positif dari siswa. 

“Kalau kita lihat anak-anak lebih antusias, lebih senang ketika mereka dapat mengambil makanannya sendiri karena bisa disesuaikan sama keinginan. Jadi ngambilnya sesuai, enggak dibuang-buang atau mubazir,” ujarnya.

Baca Juga: ICW Soroti Risiko Impunitas dalam Kasus Korupsi MBG yang Libatkan TNI Aktif

Uji coba sistem MBG prasmanan di SDN 5 Ngawen akan berlangsung selama dua minggu. Selama periode tersebut, pelaksanaan akan dipantau dan dievaluasi untuk mengetahui efektivitas sistem yang diterapkan.

“Untuk uji coba ini dilaksanakan dua minggu. Jadi setelahnya kita akan evaluasi juga, kita laporkan hasil dari lapangan. Untuk selanjutnya kita dari BGN yang langsung untuk melanjutkan atau gimana,” kata Artika.

Selain mengatur pola pengambilan makanan, sistem prasmanan juga memperhatikan proses penyajian. Makanan yang tersedia dapat langsung diambil dan dikonsumsi siswa dalam kondisi hangat.

“Maka ketika di sistem prasmanan itu proses pendistribusiannya masih dalam kondisi hangat. Jadi ketika disajikan dan dinikmati oleh siswa-siswa itu masih kondisinya hangat,” ujar Artika.

Mitra SPPG Ngawen 1, Febrian Candra, mengatakan sistem prasmanan merupakan bagian dari pengembangan program MBG yang mengacu pada hasil studi tiru sistem makan sekolah Jepang.

Baca Juga: Harga Ayam Tertekan Permintaan MBG, Bapanas Siapkan Subsidi Angkut

Menurutnya, BGN mengambil sejumlah prinsip dari konsep Kyushoku untuk dikembangkan dalam pelaksanaan MBG.

“Hasil studi tiru dari MBG Jepang, Kyushoku. BGN mengembangkan pilot project MBG sistem prasmanan,” kata Febrian.

Febrian mengatakan pilot project tersebut melibatkan 42 dapur SPPG di berbagai daerah. SPPG Ngawen 1 menjadi salah satu lokasi yang dipilih untuk melihat penerapan sistem prasmanan secara langsung di sekolah.

“Pilot project dijalankan selama dua minggu untuk dipantau dan dievaluasi,” ujarnya.

Baca Juga: 14 Siswa SD di Blora Diduga Keracunan MBG, Puskesmas Siaga di Dua Sekolah

Menurut Febrian, penerapan sistem prasmanan tidak hanya berkaitan dengan pembagian makanan. Sistem tersebut juga diarahkan untuk memberikan edukasi kepada siswa mengenai gizi, kebersihan, kedisiplinan dan tanggung jawab.

“Di dalamnya ada integrasi edukasi gizi dan karakter, keterlibatan aktif peserta didik, pengendalian sisa makanan atau zero food waste, pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat, serta pembentukan budaya makan positif,” jelasnya.

Konsep zero food waste diterapkan dengan membiasakan siswa mengambil makanan sesuai kebutuhan. Dengan demikian, makanan yang tidak habis dan terbuang diharapkan dapat diminimalkan.

Sistem tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas pelaksanaan program MBG. Proses pengambilan makanan secara langsung oleh siswa diharapkan membuat makanan dapat segera dikonsumsi setelah disajikan.

Sementara itu, siswa kelas 5 SDN 5 Ngawen, Remo Bimo Giwantoro, mengaku senang dengan penerapan sistem prasmanan. 

“Iya senang bisa ambil sendiri, bisa ambil banyak,” kata Remo.

Uji coba di SDN 5 Ngawen akan berlangsung selama dua pekan. Hasil pemantauan dari pelaksanaan tersebut selanjutnya menjadi bahan evaluasi BGN untuk menentukan tindak lanjut pengembangan sistem MBG prasmanan.

EDITOR: Edi Yulianto