JawaPos.com - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan membuat para ibu khawatir terhadap kesehatan anak-anak mereka. Monica, salah satunya, mengaku anaknya kini mengalami batuk hampir setiap hari, bahkan sampai muntah pada malam hari.
“Setelah kabut asap itu setiap hari pasti kayak ada batuk. Batuknya itu tuh seketika itu tiba-tiba aja. Terus pasti kalau setiap malam, sebelum tidur, bahkan subuh-subuh bangun tuh pasti ada batuk-batuk,” kata Monica dikutip dari Instagram Youth Act Kalimantan, Jumat (16/10).
Monica mengatakan, sebelum kabut asap menyelimuti wilayah tempat tinggalnya, anaknya tidak pernah mengalami batuk hingga muntah seperti sekarang. Kondisi tersebut membuatnya semakin cemas karena batuk juga kerap muncul pada malam hari.
Baca Juga: Pastikan Suplai Obat Aman, Menkes Minta Warga Terdampak Karhutla Langsung ke Puskesmas Jika Batuk
“Nah ini setiap sebelum kabut asap dia enggak pernah kayak batuk-batuk dan muntah-muntah. Tapi kalau misalnya udah malam tuh dia batuk-batuk sampai muntah,” tuturnya.
Kekhawatiran serupa dirasakan Krista Adelia yang memiliki anak kecil dan sedang hamil. Kondisi itu membuatnya semakin memperhatikan kesehatan keluarga, terutama di tengah kabut asap yang semakin pekat.
“Jadi setiap harinya tentunya kita khawatir, ‘Aduh anak saya ini jangan-jangan nanti kena apa pneumonia, apa bronkitis, gara-gara kabut asap yang semakin hari semakin pekat’,” tuturnya.
Menurut Krista, anak-anak masih berada dalam tahap perkembangan sehingga ia merasa perlu lebih waspada terhadap dampak paparan asap. Ia khawatir kondisi udara yang buruk dapat mengganggu kesehatan anaknya.
Sementara itu, Shelvie menceritakan anaknya sempat mengalami pneumonia pada awal kabut asap. Anaknya bahkan harus dibawa ke klinik untuk mendapatkan penanganan.
“Pertama tuh di awal kabut asap malah anakku sempat kena pneumonia, sempat ke klinik, dan selama dua bulan ini di rumah enggak pernah ke mana-mana, bener-bener literally enggak keluar rumah sama sekali,” kata Shelvie.
Selama dua bulan, Shelvie memilih membatasi aktivitas anaknya di luar rumah. Situasi tersebut membuat keluarga harus menyesuaikan kegiatan sehari-hari demi mengurangi paparan kabut asap.
Bagi para ibu, persoalan kabut asap bukan hanya menyangkut kesehatan, tetapi juga aktivitas anak-anak yang ikut terdampak. Penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi salah satu konsekuensi yang harus dihadapi keluarga di tengah kondisi tersebut.
Shelvie mengaku situasi itu menguras waktu dan tenaga orang tua. Ia juga mempertanyakan sampai kapan anak-anak harus menghadapi keadaan yang membatasi aktivitas mereka.
“Udah bahaya banget buat kesehatan mereka, dan apalagi buat baby balita kayak gitu kan bahaya banget buat kesehatannya. Rasanya sebagai seorang ibu tuh kayak sampai kapan ini akan selesai gitu loh? Dan sampai kapan anak-anak sekolah harus jadi korban? Karena mereka PJJ itu benar-benar menyita waktu juga sih,” ungkapnya.
Keluhan kesehatan juga dirasakan Susanti. Ia mengatakan kondisi kesehatannya dan anaknya belakangan semakin menurun. Aktivitas bekerja di luar rumah setiap hari turut membuatnya khawatir karena anaknya ikut mengalami flu.
“Akhir-akhir ini kesehatan tuh makin menurun. Sama-sama dedeknya juga. Dedeknya juga ikut-ikut flu karena tiap hari itu keluar kerja,” kata Susanti.
Cerita para ibu tersebut menggambarkan kecemasan keluarga yang harus menjalani aktivitas di tengah kabut asap karhutla. Selain berupaya menjaga kesehatan anak, mereka juga harus membatasi kegiatan di luar rumah dan menyesuaikan rutinitas keluarga.
Bagi Shelvie, ketidakpastian kapan kabut asap berakhir menjadi beban tersendiri. Ia berharap anak-anak tidak terus-menerus harus menghadapi situasi yang membatasi ruang gerak sekaligus menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan mereka.