JawaPos.com - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat tiga negara asal yang mendominasi impor nonmigas Indonesia pada April 2026 yakni Tiongkok, Jepang, dan Australia, dengan kontribusi gabungan mencapai 53,12 persen. Sementari itu, negara asal impor nonmigas dengan pertumbuhan terbesar, antara lain, Meksiko yang naik 282,69 persen, Spanyol 125,56 persen, serta Prancis 117,65 persen (CtC/kuartalan).
Kinerja ekspor Indonesia dilaporkan menunjukkan penguatan pada April 2026. Nilai ekspor nasional tercatat mencapai USD 25,30 miliar, meningkat 12,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan melonjak 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan tersebut terutama berasal dari ekspor nonmigas yang tumbuh 13,66 persen secara bulanan. Sebaliknya, ekspor migas mengalami penurunan sebesar 9,81 persen dibandingkan Maret 2026.
Sejumlah komoditas nonmigas mencatatkan kenaikan ekspor yang cukup signifikan sepanjang April 2026. Kelompok kopi, teh, dan rempah-rempah (HS 09) memimpin dengan pertumbuhan 54,44 persen.
Baca Juga: Mendag Teken Revisi Permendag PMSE, Aplikasi Ride-Hailing dan Akomodasi Masuk Kategori Penyelenggara
Kenaikan juga terjadi pada tembakau dan rokok (HS 24) sebesar 43,49 persen, kayu dan produk turunannya (HS 44) sebesar 40,91 persen, lemak serta minyak hewani atau nabati (HS 15) sebesar 38,71 persen, dan mesin maupun peralatan mekanis (HS 84) sebesar 37,26 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan peningkatan ekspor nonmigas tidak terlepas dari membaiknya permintaan dari sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia.
Pada April 2026, Uni Emirat Arab menjadi negara tujuan ekspor nonmigas dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 305,21 persen. Setelah itu terdapat Afrika Selatan yang tumbuh 288,40 persen dan Belgia sebesar 117,84 persen secara bulanan.
"Secara kumulatif, pada Januari-April 2026, total ekspor Indonesia mencapai USD 92,15 miliar atau meningkat 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (CtC). Kinerja ini ditopang ekspor nonmigas yang tumbuh 6,28 persen menjadi USD 87,74 miliar, sementara ekspor migas terkontraksi 8,30 persen menjadi USD 4,41 miliar. Tren positif ini menunjukkan kinerja perdagangan Indonesia yang tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi global,” ujar Mendag Busan dalam keterangannya, Senin (8/6).
Menurut Mendag Busan, pertumbuhan ekspor selama empat bulan pertama 2026 banyak ditopang sektor industri pengolahan yang mencatatkan kenaikan 9,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Beberapa komoditas industri pengolahan yang memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan tersebut antara lain nikel dan produk turunannya (HS 75) yang melonjak 63,99 persen.
Selain itu, ekspor aluminium dan barang daripadanya (HS 76) meningkat 55,30 persen, bahan kimia organik (HS 29) naik 30,86 persen, tembaga dan produk turunannya (HS 74) tumbuh 25,34 persen, serta timah dan barang daripadanya (HS 80) naik 24,62 persen secara kumulatif.
“Pertumbuhan ekspor komoditas-komoditas tersebut didorong tingginya permintaan global yang diikuti kenaikan harga di pasar internasional. Kondisi tersebut memberikan dampak positif terhadap kinerja ekspor industri pengolahan Indonesia,” kata Mendag Busan.
Berbeda dari industri pengolahan, sektor pertanian justru mengalami kontraksi sebesar 26,27 persen selama Januari-April 2026. Penurunan juga terjadi pada sektor pertambangan dan sektor lainnya yang turun 8,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kakao dan olahannya (HS 18) serta kopi, teh, dan rempah-rempah (HS 09) menjadi komoditas pertanian dengan penurunan terdalam, masing-masing sebesar 36,33 persen dan 33,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (CtC),” tambah Mendag Busan.
Dari sisi pasar tujuan, ekspor nonmigas Indonesia ke Mesir mencatatkan pertumbuhan tertinggi sepanjang Januari-April 2026 dengan kenaikan 42,74 persen. Selanjutnya, ekspor ke Spanyol meningkat 33,18 persen, Afrika Selatan 23,13 persen, Hongkong 21,31 persen, dan Tiongkok 20,58 persen.
Jika ditinjau berdasarkan kawasan, sejumlah wilayah menunjukkan prospek yang menjanjikan bagi produk Indonesia. Ekspor nonmigas ke negara-negara Asia Tengah seperti Uzbekistan, Tajikistan, dan Turkmenistan, serta kawasan Afrika Utara dan Afrika Selatan, mencatatkan pertumbuhan yang cukup kuat selama periode Januari-April 2026.
Impor Migas Melonjak
Sementara itu, aktivitas impor Indonesia juga mengalami peningkatan. Pada April 2026, nilai impor mencapai USD 25,21 miliar atau tumbuh 31,28 persen dibandingkan Maret 2026. Secara tahunan, nilainya meningkat 22,49 persen dibandingkan April tahun lalu.
Lonjakan impor tersebut dipengaruhi kenaikan impor migas sebesar 45,09 persen dan impor nonmigas sebesar 28,55 persen secara bulanan.
Mendag Busan menjelaskan bahwa peningkatan impor terjadi pada seluruh kelompok barang berdasarkan penggunaannya. Barang konsumsi mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 56,67 persen, diikuti bahan baku dan penolong sebesar 35,46 persen serta barang modal sebesar 6,33 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
"Kenaikan impor terjadi pada seluruh golongan penggunaan barang. Kondisi ini mengindikasikan peningkatan kebutuhan konsumsi masyarakat serta kebutuhan industri terhadap bahan baku dan barang modal," ujar Mendag Busan.
Secara kumulatif, nilai impor Indonesia pada Januari-April 2026 mencapai USD 86,51 miliar atau naik 13,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut didorong pertumbuhan impor migas sebesar 17,58 persen dan impor nonmigas sebesar 12,70 persen.
Berdasarkan klasifikasi Broad Economic Categories (BEC), seluruh kelompok barang impor mengalami pertumbuhan. Barang modal menjadi kelompok dengan kenaikan tertinggi sebesar 19,02 persen, disusul barang konsumsi sebesar 15,68 persen dan bahan baku atau penolong sebesar 11,67 persen.
"Kenaikan impor barang modal didorong oleh meningkatnya impor beberapa komoditas utama, antara lain, komputer, pesawat udara, mesin untuk proses elektroplating dan elektrolisis, mesin untuk pengolah suhu, serta mobil listrik," tutur Mendag Busan.
Dari sisi komoditas, kendaraan udara dan komponennya (HS 88) menjadi kelompok impor nonmigas dengan pertumbuhan tertinggi selama Januari-April 2026, yakni mencapai 516,83 persen.
Kenaikan juga terjadi pada kelompok garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) sebesar 84,65 persen, bijih logam, terak dan abu (HS 26) sebesar 63,15 persen, berbagai produk kimia (HS 38) sebesar 37,72 persen, serta buah-buahan (HS 08) sebesar 34,75 persen.