← Beranda
Operator Don Quijote Akuisisi Toys R Us Jepang, Bidik Pasar Anak hingga Kidults
Dhimas Ginanjar• Jumat, 2 Oktober 2026 | 17.02 WIB
Presiden Pan Pacific International Holdings Corp. Hideki Moriya (kanan) berbicara dalam konferensi pers di Tokyo pada 1 Oktober 2026. (Kyodo)

JawaPos.com - Operator jaringan toko diskon Don Quijote, Pan Pacific International Holdings Corp., akan mengakuisisi bisnis Toys R Us Jepang untuk memperluas operasi ritel dan basis pelanggannya.

Dilansir dari Kyodo, Jumat (2/10), kesepakatan tersebut tercapai setelah Toys R Us Jepang mengajukan proses rehabilitasi ke Pengadilan Distrik Tokyo pada Kamis. Pan Pacific International kemudian dipilih sebagai sponsor untuk mengambil alih bisnis perusahaan ritel mainan tersebut.

Pan Pacific International tidak mengungkapkan nilai akuisisi. Namun, perusahaan menyatakan berencana mengambil alih seluruh sekitar 150 toko Toys R Us di Jepang dan, sejauh memungkinkan, mempertahankan seluruh karyawannya.

Nama toko Toys R Us juga akan tetap digunakan untuk sementara waktu. Langkah tersebut memungkinkan bisnis berjalan dengan identitas yang sudah dikenal konsumen.

Presiden Pan Pacific International Hideki Moriya mengatakan akuisisi tersebut akan memperluas bisnis perusahaan dengan menjangkau konsumen baru, termasuk bayi, anak-anak, dan keluarga.

Perusahaan juga berencana menerapkan keahlian ritel Don Quijote, yang semakin populer di kalangan wisatawan mancanegara, ke jaringan Toys R Us.

Selain itu, Toys R Us akan memperluas pilihan mainan untuk segmen "kidults", istilah yang menggabungkan kata "kids" dan "adults" untuk menggambarkan orang dewasa yang masih memiliki ketertarikan terhadap dunia anak-anak.

Pan Pacific International juga mempertimbangkan membuka gerai Toys R Us di dalam gerai yang dioperasikan anak usahanya, Uny Co., serta di sejumlah gerai besar Don Quijote.

Toys R Us membuka toko pertamanya di Jepang pada 1991. Perusahaan induknya di Amerika Serikat mengajukan perlindungan kebangkrutan pada 2017, tetapi Toys R Us Jepang tetap melanjutkan operasinya.

Namun, bisnis ritel mainan tersebut menghadapi tekanan akibat penurunan angka kelahiran di Jepang dan semakin berkembangnya kebiasaan berbelanja melalui platform daring.

EDITOR: Dhimas Ginanjar