JawaPos.com - Perjalanan hidup dari keluarga sederhana hingga berhasil membangun kehidupan di negeri orang menjadi kisah yang menarik perhatian pembaca di Amerika Serikat (AS).
Perjalanan tersebut dituangkan dalam sebuah memoar yang mencatat berbagai fase kehidupan seorang anak desa asal Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.
“Senang sekali, dan yang paling utama, saya bersyukur,” kata Ridwan, yang kini tinggal di Palm Springs, California itu.
Memoar berjudul A Farm Laborer's Son: An Indonesian Immigrant's Journey of Hope, Family, and the American Dream itu berhasil menempati peringkat ke-4 kategori Emigrant & Immigrant Biographies di Amazon Amerika Serikat pada 29 September 2026.
Pencapaian tersebut diraih hanya lima hari setelah buku itu diterbitkan pada 24 September 2026. Ridwan mengatakan, capaian tersebut terasa sulit dipercaya mengingat dirinya berasal dari keluarga buruh tani di sebuah desa di Mojokerto.
“Saya anak buruh tani dari desa. Dulu belajar membaca dari bungkus sabun,” ujarnya.
Buku setebal 250 halaman tersebut merupakan edisi bahasa Inggris dari Memoar Sang Pemimpi: Perjalanan Anak Buruh Tani Meraih Asa, Cita, dan Cinta di Amerika yang terbit lebih dulu pada 2025.
Kedua edisi tersebut sama-sama mendapat kata pengantar dari penyanyi internasional asal Indonesia, Anggun. Pada versi bahasa Inggris, Ridwan juga menyertakan puluhan foto keluarga, mulai dari foto pernikahan orang tuanya sekitar 1970 hingga dokumentasi keluarganya pada 2026.
“Edisi bahasa Inggris ini berawal dari permintaan teman-teman saya di Amerika,” tutur Ridwan.
Menurut dia, banyak rekannya di Amerika yang ingin mengetahui perjalanan hidupnya dari sudut pandang seorang imigran asal desa di Jawa Timur. Ia berharap kisah tersebut juga dapat membantu pembaca Amerika memahami sisi lain kehidupan imigran Indonesia.
“Saya ingin mengenalkan Emak kepada dunia,” katanya.
Dalam memoarnya, Ridwan menceritakan masa kecil sebagai anak keempat dari enam bersaudara. Keluarganya hidup dari pekerjaan sebagai buruh tani di Trowulan.
Sejak kecil, ia terbiasa membantu keluarganya. Sepulang sekolah, Ridwan bersama adiknya mencari keong sawah untuk kemudian dimasak dan dijual oleh ibunya yang ia panggil Emak.
“Banyak hal yang saya pelajari justru dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Keterbatasan ekonomi juga membuat Ridwan harus mencari jalan sendiri untuk belajar. Ia mempelajari bahasa Inggris secara otodidak melalui majalah bekas, lirik lagu, dan film.
Ketika keinginannya melanjutkan kuliah terhambat biaya, Ridwan mengubah sebuah gubuk bambu yang bocor di samping rumah menjadi ruang belajar. Di tempat itu, ia mengajar anak-anak desa sejak pagi hingga malam.
“Kalau tidak bisa kuliah, saya pikir setidaknya ilmu yang saya punya bisa dibagikan,” tuturnya.
Perjalanan hidupnya kemudian membawa Ridwan ke Surabaya. Ia bekerja di sebuah hotel sebelum keluarganya menghadapi salah satu masa paling berat ketika Emak didiagnosis kanker payudara.
Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuat pengobatan harus dijalani dengan berbagai cara. Tanpa asuransi maupun tabungan, mereka mengandalkan pinjaman serta bantuan dari rekan kerja, tetangga, hingga orang-orang yang tidak dikenal.
“Waktu itu kami naik kereta sebelum subuh menuju rumah sakit,” kenangnya.
Emak akhirnya meninggal dunia pada Februari 2014. Bagi Ridwan, bagian tentang sang ibu menjadi bagian paling berat saat menulis memoar tersebut. “Saya menangis berkali-kali ketika menulis bagian itu,” katanya.
Namun, ia ingin pembaca mengetahui sosok ibunya yang menurut dia memiliki keteguhan luar biasa. Bahkan hingga hari terakhir, Emak masih mengingat utang kecil untuk membeli minyak goreng dan meminta suaminya melunasinya. “Itulah Emak. Hal kecil pun tetap beliau pikirkan,” ujar Ridwan.
Beberapa bulan setelah kepergian sang ibu, Ridwan berangkat ke Amerika Serikat setelah sebelumnya dua kali mengalami penolakan visa. Ia tiba di negeri tersebut hanya dengan dua koper dan bekal yang terbatas.
Masa awal tinggal di Palm Springs juga jauh dari bayangannya tentang kehidupan Amerika. Ia sempat mengumpulkan botol bekas di bawah terik matahari gurun dan meminta bantuan orang asing untuk membeli beras. “Saya tidak malu memulai dari bawah,” katanya.
Ridwan kemudian bekerja sebagai petugas housekeeping di hotel. Ia juga mengikuti sekolah malam di bidang administrasi kantor medis sebelum akhirnya bekerja di sebuah klinik penyakit dalam di Palm Springs.
Perjalanan tersebut turut dipengaruhi sosok Anggun. Ridwan mengatakan, inspirasinya bermula pada suatu malam pada 2008 ketika ia dan Emak sedang membuat gantungan kunci dari kain flanel untuk dijual. “Saat itu radio memutar lagu Mbak Anggun,” ujarnya.
Penyiar radio ketika itu menceritakan perjalanan Anggun dari Indonesia hingga berkarier di panggung internasional. Cerita tersebut membuat Ridwan menyadari bahwa orang Indonesia juga memiliki peluang untuk membangun karier di luar negeri. “Saya berpikir, orang Indonesia juga bisa,” katanya.
Sejak saat itu, Ridwan mencetak foto Anggun dan menempelkannya di dinding kamar. Ia bahkan rela menempuh perjalanan bus berjam-jam setiap Sabtu untuk mengikuti kursus bahasa Prancis.
Lewat memoarnya, Ridwan ingin kisah tersebut menjadi dorongan bagi anak muda Indonesia yang berasal dari keluarga sederhana. “Berani bermimpi, lalu berjuang,” tuturnya.
Ia juga meminta warga Indonesia yang ingin merantau ke Amerika untuk mempersiapkan diri dan mencari informasi dari sumber yang terpercaya. “Jangan mudah percaya janji yang terlalu indah,” pesannya.
Menurut Ridwan, kehidupan di Amerika tidak selalu seperti yang digambarkan dalam film. Ia menilai kemampuan beradaptasi, kemauan belajar, dan kesiapan memulai dari bawah menjadi hal penting bagi pendatang baru. “Jangan malu memulai dari bawah dan jangan berhenti belajar,” katanya.
Ke depan, Ridwan tengah menyiapkan versi audiobook dari memoarnya. Ia juga berencana menerbitkan novel dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris.
Baca Juga: Masa Sekolah Cak Nun hingga Eross Sheila on 7 di MUHI Diabadikan Dalam Sebuah Buku
Selain menulis, ia aktif berbagi informasi mengenai kehidupan di Amerika melalui akun @tentangAmerika. Ridwan juga menjalankan Mas Ridwan Academy untuk membantu warga Indonesia yang ingin bekerja atau belajar di Amerika, termasuk melalui program DINO yang ditujukan untuk mendukung pendidikan anak-anak di Indonesia. (*)