← Beranda
Harga Minyak Dunia Kompak Menguat Usai Donald Trump Tolak Proposal Perdamaian
Djati Waluyo• Senin, 28 September 2026 | 14.55 WIB
Ilustrasi minyak mentah dunia.

JawaPos.com - Harga minyak mentah dunia kompak menguat pada perdagangan Senin (28/9) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal perdamaian perang yang diajukan oleh Iran.

Melansir Investing pada pukul 07:30 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 1,08 poin atau 1,10 persen ke level 98,51 dollar per barel atau lebih rendah jika dibandingkan dengan perdagangan Jumat (25/9) pagi sebesar 106,77 dollar per barel.

Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat nauk 1,01 poin atau 1,09 persen ke level 93,43 dollar per barel atau lebih rendah jika dibandingkan dengan perdagangan Jumat (25/9) pagi sebesar 94,04 dollar per barel.

Baca Juga: Belanda Menang atas Serbia, Xavi Hernandez Soroti Pressing dan Puji Meerdink

Melansir Bloomberg, Harga minyak naik setelah Iran tetap mempertahankan proposal pembukaan kembali Selat Hormuz selama tujuh hari yang telah ditolak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Dalam wawancara dengan Axios pada Minggu (27/9), Trump mengatakan persyaratan yang diajukan Teheran merupakan sesuatu yang mungkin saja disetujui Washington sekitar setahun lalu.

Ia menilai Iran telah bertindak terlalu jauh dalam mengajukan tuntutannya. Trump juga memperkirakan perundingan dengan Iran akan kembali dilanjutkan pekan ini, menurut laporan Axios.

Meningkatnya Ekspor Minyak

Melansir Reuters, Ekspor minyak mentah dari sejumlah produsen utama di Timur Tengah kembali meningkat pada September menjadi 12,8 juta barel per hari (bph).

Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak perang AS-Israel dengan Iran dimulai pada Februari. Data Kpler menunjukkan peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan ekspor Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Peningkatan tersebut terjadi setelah ekspor melalui Selat Hormuz kembali pulih. Berdasarkan data awal, ekspor melalui jalur tersebut diperkirakan mencapai sekitar 7,4 juta bph pada bulan ini.

Arab Saudi mengalihkan sebagian ekspor minyak dari pelabuhan Laut Merah, Yanbu, setelah serangan merusak jalur pipa East-West.

Namun, meskipun ekspor dari kawasan yang mencakup Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Oman, Qatar, Kuwait, dan Iran telah kembali meningkat, volumenya masih sekitar 6 juta bph lebih rendah dibandingkan 18,8 juta bph pada Februari, menurut Kpler.

Arab Saudi sebagai eksportir terbesar di kawasan tersebut diperkirakan akan mengirim sekitar 5,4 juta bph minyak pada September. Angka itu melonjak dibandingkan 2,446 juta bph pada Agustus.

Pengiriman minyak dari pelabuhan Ras Tanura di Teluk juga meningkat menjadi sekitar 3,6 juta bph pada September, dari 929.000 bph pada Agustus. Namun, angka tersebut masih jauh di bawah level 6,411 juta bph yang tercatat pada Februari.

Data Kpler menunjukkan sebanyak 19 kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (very large crude carriers/VLCC), masing-masing membawa sekitar 2 juta barel minyak Arab Saudi, telah melewati Selat Hormuz pada pekan lalu.

Angka tersebut tidak memperhitungkan kapal-kapal yang kemungkinan melintasi selat dengan mematikan transponder Automatic Identification System (AIS) untuk menghindari deteksi.

Sebelum perang dengan Iran dimulai pada 28 Februari, Selat Hormuz biasanya dilalui sekitar 125 kapal komersial berukuran besar setiap hari. Kapal-kapal tersebut mencakup tanker minyak, kapal pengangkut gas, kapal curah, dan kapal kontainer.

Selat Hormuz menjadi jalur strategis bagi perdagangan energi global karena sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia setiap harinya melewati jalur tersebut.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah