← Beranda
Produk Baja asal Kendal Tembus Australia, Baja Ringan jadi Kiriman Pertama
Nanda Prayoga• Sabtu, 3 Oktober 2026 | 04.34 WIB
Executive Director Kawasan Industri Kendal, Juliani Kusumaningrum. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Produk baja buatan dalam negeri mulai memperluas pasar ke mancanegara.

PT Auri Steel Metalindo melakukan ekspor perdana produk jadi baja ringan dari fasilitas produksinya di Kendal, Jawa Tengah, ke Australia pada Jumat (2/10).

Sebanyak 60.000 batang baja ringan dikirim dalam ekspor perdana ke negeri kanguru tersebut.

Perusahaan juga memiliki potensi ekspor hingga 6.000 ton per tahun dengan nilai mencapai Rp 132 miliar.

Baca Juga: BPS Catat Ekspor Indonesia Agustus 2026 Naik 6,72 Persen Tembus USD 26,61 Miliar

Ekspor tersebut menjadikan Auri Steel sebagai perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pertama di Kawasan Industri Kendal (KIK), yang mengekspor produk jadi baja ke pasar luar negeri.

Langkah ini juga menunjukkan adanya peningkatan nilai tambah pada produk industri logam dalam negeri.

Produk yang dikirim bukan sekadar bahan mentah atau setengah jadi, melainkan baja ringan yang telah melalui proses manufaktur dan siap digunakan untuk kebutuhan konstruksi.

Executive Director Kawasan Industri Kendal, Juliani Kusumaningrum, menilai ekspor Auri Steel menjadi gambaran perkembangan industri manufaktur nasional dalam menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Baca Juga: Iran Soroti Serangan Kapal di Hormuz Ketika Ekspor Minyak Timur Tengah Kembali Alami Peningkatan

“Selama ini, ekspor sektor baja Indonesia banyak didominasi bahan mentah atau setengah jadi. Langkah ini menunjukkan bahwa industri manufaktur dalam negeri memiliki daya saing global, standar mutu internasional, dan kapasitas untuk menembus pasar seperti Australia,” ujar Juliani di Jakarta.

Auri Steel mulai beroperasi sejak 2016 dengan memproduksi baja ringan dan atap galvalum. Saat awal berdiri, kapasitas produksinya berada di kisaran 5 ton per hari.

Kapasitas tersebut kemudian berkembang hingga mencapai 120 ton per hari pada akhir 2022.

Pertumbuhan kapasitas produksi turut diikuti peningkatan skala bisnis. Nilai investasi perusahaan yang sebelumnya sekitar Rp 180 miliar kini mencapai Rp 1 triliun.

Dari sisi tenaga kerja, jumlah karyawan meningkat dari hanya tujuh orang pada 2016 menjadi 100 orang pada 2022 dan kini mencapai 480 orang.

Baca Juga: Darya-Varia Komit Perkuat Produk Halal, Ekspor Tembus Rp 234,05 Miliar di 2025

Perusahaan menargetkan jumlah tenaga kerja bisa terus bertambah hingga mencapai 1.500 orang pada 2028.

Perkembangan Auri Steel turut didukung pembinaan Kementerian Perindustrian serta fasilitasi Kementerian Investasi/BKPM, Administrator KEK, Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan Direktorat Jenderal Pajak.

Direktur PT Auri Steel Metalindo, Auripallas Pramana mengatakan, ekspor perdana ke Australia menjadi kebanggaan bagi pihaknya.

Sekaligus menunjukkan peluang perusahaan dalam negeri untuk berkembang hingga pasar global.

“Ini menjadi pencapaian penting bagi PT Auri Steel Metalindo dan sekaligus membuktikan bahwa perusahaan PMDN di Indonesia dapat tumbuh dan membawa produk dalam negeri ke pasar internasional. Kami berharap capaian ini dapat menjadi motivasi bagi perusahaan PMDN lainnya untuk terus berkembang dan berani membawa produknya ke kancah global,” ungkap Auripallas.

Baca Juga: Ekspor Industri Halal Tembus USD 35,7 M, Menperin Dorong Indonesia Jadi Produsen Dunia

Kementerian Perindustrian turut mengapresiasi ekspor perdana produk baja jadi tersebut.

Capaian Auri Steel dinilai sejalan dengan upaya pemerintah mendorong manufaktur berorientasi ekspor, meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri, dan memperkuat daya saing industri logam nasional.

Ditjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian juga menegaskan komitmen untuk mendampingi industri melalui kebijakan hilirisasi, penguatan ekosistem industri, serta perluasan akses pasar ekspor.

Ekspansi Auri Steel ke pasar Australia sekaligus berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian.

Mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga penguatan rantai pasok lokal, logistik, dan industri pendukung.

Baca Juga: Gelar Demo, SPKS Desak DSI Tak Bebankan Margin Ekspor kepada Petani Sawit

 

 

EDITOR: Bayu Putra