JawaPos.com - PT Perusahaan Gas Negara (PGN) menggandeng bersama Toyota Tsusho Indonesia (TTI) dan PT KIS Biofuels Indonesia (KIS) mengembangkan fasilitas biomethane berbahan baku limbah pabrik kelapa sawit (BioCNG) di Sumatera Selatan.
Fasilitas tersebut ditargetkan mampu memproduksi biomethane sekitar 150.000 MMBTU per tahun untuk mendukung ketersediaan energi domestik sekaligus mendorong dekarbonisasi sektor industri.
Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, mengatakan fasilitas ini memanfaatkan limbah organik kelapa sawit yang ditargetkan memproduksi biomethane sekitar 150.000 MMBTU per tahun.
Proyek tersebut menjadi inisiatif pertama di Indonesia yang memproduksi biomethane di wilayah Sumatera, yang merupakan salah satu daerah dengan banyak pabrik kelapa sawit.
Pengembangan fasilitas ini juga menjadi tindak lanjut dari Memorandum of Understanding (MoU) pengembangan biomethane di Indonesia yang diteken PGN dan TTI pada 2022.
"Bagi PGN, ini adalah langkah penting untuk menghadirkan gas terbarukan dari sumber domestik ke dalam rantai pasok energi nasional. PGN siap mendukung melalui infrastruktur dan kapabilitas niaga yang kami miliki agar biomethane dapat dimanfaatkan oleh sektor industri," ujar Fajriyah dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa (6/10).
Fajriyah mengatakan, dalam kerjasama tersebut PGN berperan sebagai offtaker atau pembeli utama biomethane tersebut.
Selain itu, PGN juga berperan sebagai transporter dimana biomethane yang diproduksi oleh PT KIS Toyota Tsusho Biomethane Indonesia (KTBI), perusahaan patungan antara KIS dan TTI, akan disalurkan ke Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) dan industri lainnya melalui jaringan pipa yang dimiliki oleh PGN.
Pemanfaatan biomethane menggunakan infrastruktur yang telah tersedia pada saat menggunakan gas bumi, sehingga pelanggan dapat melakukan peralihan bahan bakar ke biomethane melalui modifikasi infrastruktur yang minimal.
Selain untuk ketahanan energi domestik, pemanfaatan biomethane dapat melengkapi penggunaan gas bumi yang terus meningkat seiring dengan berkembangnya upaya dekarbonisasi di sektor industri.
Pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit atau POME sebagai bahan baku biomethane memberikan manfaat lingkungan yang signifikan. Metana yang sebelumnya terlepas ke atmosfer dapat ditangkap dan diolah menjadi energi, sehingga mendukung penurunan emisi gas rumah kaca serta target NDC dan Net Zero Emission 2060.
Proyek ini juga memperkuat hilirisasi sektor kelapa sawit dengan mengubah limbah menjadi energi bernilai ekonomi.
Menurut Fajriyah, biomethane memiliki peran strategis dalam mendukung swasembada energi dan dekarbonisasi industri.
"Ketika biomethane ini mulai berproduksi, industri seperti TMMIN akan memiliki akses terhadap energi rendah karbon yang mendukung daya saing di tengah tuntutan rantai pasok hijau global. Kami berharap model kolaborasi ini dapat direplikasi di daerah penghasil sawit lainnya," ujarnya.