JawaPos.com - Batu bara masih memiliki peran dalam memenuhi kebutuhan energi dan pemanfaatannya diharapkan lebih efisien.
Pakar ekonomi Universitas Jember (Unej) Ciplis Gema Qori’ah menilai, transisi energi merupakan investasi untuk mengurangi kerentanan ekonomi.
Hal itu mendorong pemerintah melakukan percepatan transisi energi di tengah lonjakan harga minyak dunia yang berdampak luas pada perekonomian nasional.
Baca Juga: Ekspor Perdana Baterai Kendaraan Listrik, Prabowo: Bukti Nyata Hilirisasi Kita Benar
”Situasi itu memberi alasan kuat bahwa percepatan transisi energi urgen untuk dilakukan. Hasilnya, akan terlihat dalam perekonomian yang akan mampu mengurangi kerentanan terhadap harga bahan bakar fosil, menjaga keterjangkauan energi hingga membuka sumber pertumbuhan baru," kata Ciplis Gema Qori'ah seperti dilansir dari Antara.
Dia mengatakan, faktor utama dalam mengimplementasikan transisi energi adalah reformasi subsidi dengan investasi ketahanan energi, kemudian sebagian penghematan perlu diarahkan pada perlindungan rumah tangga rentan, transportasi umum, efisiensi energi dan infrastruktur listrik bersih.
”Penyelesaiannya harus menjaga akuntabilitas penggunaan dana publik. Di daerah penghasil batu bara, dukungan transisi perlu terhubung dengan rencana pembangunan dan diversifikasi sumber pendapatan,” tutur Ciplis Gema Qori'ah.
Baca Juga: Agrinas Palma Siapkan 1 Juta Hektare Lahan untuk Bahan Baku Bioetanol
Indonesia memiliki sumber daya batu bara mencapai 97,96 miliar ton dengan cadangan sekitar 31,9 miliar ton batu bara, menjadi salah satu sumber energi yang digunakan untuk menopang aktivitas ekonomi nasional.
Komisaris PT Andalan Artha Primanusa Ivan Victor Salim mengatakan, pemanfaatan batu bara perlu diarahkan agar semakin efisien sekaligus memberikan nilai tambah.
”Batu bara masih memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Tantangannya adalah bagaimana komoditas ini dimanfaatkan secara lebih efisien dan memberikan nilai tambah,” ujar Ivan Victor Salim.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui hilirisasi.
Batu bara berkalori rendah dapat diolah menggunakan teknologi Coal to Liquid (CTL) menjadi bahan bakar minyak (BBM) atau solar sintetis.
Pengembangan tersebut dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
Baca Juga: Moratorium Nikel Dianggap Rasional, Bisa Perkuat Harga dan Nilai Tambah Industri
Pengolahan batu bara juga dapat dilakukan melalui proses gasifikasi menjadi syngas selanjutnya diolah menjadi dimetil eter (DME), metanol, amonia untuk pupuk, hingga bahan baku industri petrokimia.
”DME juga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG),” terang Ivan Victor Salim.
Selain hilirisasi, lanjut dia, efisiensi penggunaan energi perlu berjalan bersama dengan penerapan teknologi yang lebih bersih.
Baca Juga: Dukung Kelancaran MotoGP Mandalika, Pertamina Tambah Pasokan BBM 30 Persen
Salah satunya melalui Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCS/CCUS) pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) untuk menangkap dan menyimpan karbon sehingga emisi gas rumah kaca dapat ditekan.
Dari sisi kebijakan, penerapan Domestic Market Obligation (DMO) dapat memberikan kepastian pasokan, harga, dan kuota batu bara untuk kebutuhan dalam negeri.
Kepastian tersebut penting agar perubahan harga di pasar global tidak terlalu berdampak terhadap ketersediaan maupun biaya energi domestik.
Baca Juga: Dukungan Regulasi Jadi Peluang Peningkatan Investasi Hulu Migas
Pemanfaatan batu bara tersebut tetap perlu ditempatkan dalam kerangka transisi energi.
Kementerian ESDM sebelumnya menyebut sumber energi berbasis fosil, termasuk batu bara, masih akan mendominasi ketersediaan energi dalam periode tertentu karena belum terdapat sumber energi pengganti dengan pasokan dan tingkat keandalan yang setara.
”Tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana memproduksi batu bara, tetapi bagaimana mengolah dan memanfaatkannya dengan lebih efisien,” tandas Ivan Victor Salim.