← Beranda
Menjaga Air, Alam, dan Warisan Budaya dalam Pengembangan PLTP Gunung Ungaran
Ilham Safutra• Sabtu, 10 Oktober 2026 | 05.25 WIB
PLTP Gunung Ungaran, Jawa Tengah (Dok. Kementerian ESDM).

 

JawaPos.com - Memaksimalkan energi baru terbarukan (EBT) merupakan upaya untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) dan memperkuat ketahanan energi. Salah satu upaya konkretnya dengan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).

Di Gunung Ungaran, Jawa Tengah, terdapat PLTP yang sedang dibangun. “Panas bumi memiliki potensi besar karena mampu menghasilkan listrik secara relatif stabil dan tidak bergantung pada kondisi cuaca maupun pergantian waktu,” kata Ketua Research Group on Energy Security for Sustainable Development (RESSED)-Pusat Penelitian Pranata Pembangunan Universitas Indonesia (UI) Ali Ahmudi Achyak pada Jumat (9/10).

Menurut dia, pengembangan PLTP Gunung Ungaran saat ini masih berada pada tahapan awal. Pembahasan terkait PLTP Gunung Ungaran tidak hanya mengenai potensi listrik yang dihasilkan, tetapi juga mengenai bagaimana seluruh aspek yang terkait dengan kondisi kawasan dipahami melalui proses kajian sebelum memasuki tahapan pengembangan berikutnya.

Baca Juga: PLN Garap WKP Gunung Ungaran 55 MW, ini Dampak Positif untuk Ekonomi Lokal

Bagi masyarakat di sekitar Gunung Ungaran, perhatian terhadap sumber air, hutan dan satwa, lahan pertanian, kawasan wisata, serta warisan budaya seperti Candi Gedong Songo merupakan hal yang wajar. “Berbagai aspek tersebut justru menjadi bagian penting dalam melihat pengembangan panas bumi secara utuh,” kata Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS) itu.

Untuk itu, pengembangan proyek panas bumi dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan hasil kajian teknis, kondisi lingkungan, aspek sosial, tata ruang, serta ketentuan yang berlaku. “Dengan pendekatan tersebut keputusan pada setiap tahapan memiliki dasar informasi yang jelas,” katanya.

Saat ini Gunung Ungaran merupakan kawasan vulkanik yang memiliki potensi sumber daya panas bumi. Secara sederhana, panas bumi adalah energi panas yang tersimpan di dalam bumi dan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik.

“Pemanfaatannya mencakup pengelolaan reservoir bawah permukaan, pengeboran sumur produksi dan injeksi, fasilitas pembangkit, jaringan pipa, jalan akses, serta berbagai infrastruktur pendukung. Fluida yang telah dimanfaatkan diinjeksikan kembali ke reservoir melalui sumur injeksi,” katanya.

Dengan demikian, pemanfaatan potensi panas bumi tidak berdiri sendiri, tetapi ditempatkan dalam konteks kawasan secara menyeluruh.

Baca Juga: Pemerintah Harus Terbuka soal Dampak Proyek PLTP Gunung Ungaran

“Pendekatan ini membuka ruang bagi pemanfaatan potensi energi Gunung Ungaran secara bertanggung jawab dengan tetap mempertimbangkan karakter lingkungan, sosial, dan budaya yang melekat pada kawasan tersebut,” katanya.

Ali menjelaskan, bagi masyarakat sekitar Gunung Ungaran air merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Mata air, sungai, sumur, dan sumber air lainnya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, sekaligus menopang ekosistem.

“Pada tahapan pengembangan panas bumi, kondisi sumber air menjadi salah satu aspek yang dikaji melalui data dasar (baseline). Data tersebut mencakup antara lain debit mata air, debit sungai, kualitas air, muka air tanah, pola curah hujan, kondisi hidrogeologi, serta pola pemanfaatan air oleh masyarakat,” katanya,

Dalam operasinya, PLTP juga membutuhkan ketersediaan air secara berkelanjutan untuk mendukung proses pembangkitan. Oleh karena itu, keberlangsungan operasi pembangkit memiliki kepentingan langsung terhadap pengelolaan dan ketersediaan sumber air secara berkelanjutan. Kebutuhan tersebut menjadi bagian dari perencanaan dan pengelolaan sumber daya air.

"Sehingga kontinuitas pasokan air perlu dipastikan melalui pengelolaan yang terukur, pemantauan kondisi hidrologi, serta pemenuhan ketentuan yang berlaku,” katanya.

Data dasar tersebut menjadi acuan untuk memahami kondisi kawasan sebelum kegiatan berlangsung dan menjadi pembanding dalam pemantauan pada tahapan berikutnya. Dengan cara ini, kondisi hidrologi dapat dipahami berdasarkan data dan perkembangan aktual di lapangan.

Dengan pendekatan berbasis data, pembahasan mengenai air tidak berhenti pada kekhawatiran ataupun asumsi, tetapi dapat ditempatkan dalam konteks kondisi hidrologi yang terukur. Bahkan, kebutuhan PLTP terhadap kontinuitas air menjadi salah satu alasan penting untuk memastikan pengelolaan sumber daya air dilakukan secara hati-hati dan berkelanjutan.

“Dengan demikian, pengembangan panas bumi dapat berjalan dengan tetap menempatkan perlindungan sumber air sebagai prioritas. Pada saat yang sama, kebutuhan operasi PLTP terhadap kontinuitas air menciptakan kepentingan yang sama untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air dalam jangka panjang,” katanya.

Sementara itu, Gunung Ungaran bukan hanya memiliki potensi energi, tetapi juga memiliki keanekaragaman tumbuhan dan satwa. Oleh karena itu, kondisi tutupan lahan dan habitat menjadi bagian dari kajian dalam proses pengembangan fasilitas seperti jalan, well pad, jaringan pipa, dan fasilitas pendukung lainnya.

Informasi mengenai kondisi kawasan menjadi dasar dalam proses perencanaan dan penempatan fasilitas. Dengan demikian, aspek kebutuhan fasilitas di permukaan dan kondisi lingkungan kawasan dapat dipertimbangkan secara bersamaan.

Baca Juga: PLTP Gunung Ungaran Dinilai Berpotensi Dorong Ekonomi dan Kualitas Lingkungan

Pengelolaan kawasan yang terdampak selama tahapan pembangunan juga mencakup pemulihan dan revegetasi. 

Sementara itu, teknologi mutakhir seperti directional drilling memberikan fleksibilitas dalam menentukan desain pengeboran berdasarkan kondisi reservoir bawah permukaan. Pendekatan ini memberikan ruang bagi perencanaan fasilitas yang lebih adaptif terhadap kondisi kawasan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pengembangan energi dan perlindungan ekosistem dapat dirancang secara bersamaan. Dukungan teknologi pengeboran, perencanaan fasilitas yang adaptif, serta pemulihan kawasan memberikan ruang bagi pengembangan panas bumi yang semakin efisien sekaligus memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Selanjutnya, dia menuturkan, kawasan Gunung Ungaran memiliki nilai sejarah, budaya, dan wisata. Karena itu, keberadaan warisan budaya seperti Candi Gedong Songo menjadi bagian dari pertimbangan dalam proses pengembangan.

“Pada kawasan yang memiliki nilai budaya tinggi, informasi mengenai zona inti, zona penyangga, zona pengembangan, maupun lokasi fasilitas menjadi bagian dari proses pemetaan dan perencanaan,” kata Ali.

Kajian arkeologi, getaran, visual lanskap, hidrologi, potensi longsor, serta chance find procedure juga menjadi bagian dari pengelolaan kawasan dalam tahapan pengembangan.

Dengan adanya kajian dan pemetaan tersebut, penentuan lokasi fasilitas dilakukan berdasarkan informasi yang tersedia dan koordinasi dengan pemangku kepentingan terkait. Hal ini penting sehingga pengembangan energi dapat berjalan berdampingan dengan upaya menjaga kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya.

Dengan pemetaan dan kajian yang dilakukan sejak awal, pengembangan panas bumi memiliki ruang untuk dirancang secara hati-hati sehingga kebutuhan energi dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian warisan sejarah dan budaya.

Pada tahap awal seperti saat ini, papar Ali Ahmudi Achyak, komunikasi dengan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman mengenai rencana pengembangan.

EDITOR: Ilham Safutra