← Beranda
Melihat Operasional Bank Sampah Induk Surabaya yang Tampung 55 Kategori Sampah
Dhimas Ginanjar• Selasa, 19 September 2023 | 19.12 WIB
GOTONG BOTOL PLASTIK: Petugas Bank Sampah Induk Surabaya membawa sampah plastik kiriman dari berbagai wilayah. Terutama yang masih memiliki nilai ekonomis.

 

Sejak beroperasi pada 1 September lalu, setiap hari Bank Sampah Induk Surabaya menampung sampah kiriman dari berbagai wilayah. Selain menampung sampah yang masih bernilai, tempat itu juga berfungsi memfilter sampah yang hendak masuk ke TPA Benowo.

GALIH ADI PRASETYO, Surabaya

GELIAT aktivitas di Bank Sampah Induk Surabaya dimulai sejak pagi. Beberapa pekerja Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya tampak mendorong troli berisi berkarung-karung sampah.

Jenisnya beragam. Mulai sampah plastik hingga logam. Beberapa petugas lainnya melempar botol-botol sambil jalan ke arah bilik-bilik sampah.

Itu merupakan bagian dari proses pemilahan barang-barang bekas yang tiba di Bank Sampah Induk Surabaya.

Sejak diresmikan 1 September lalu, bank sampah di kompleks kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya tersebut menerima berkarung-karung barang bekas kiriman bank sampah dari seluruh wilayah metropolis. Bank sampah induk itu punya fungsi besar.

Bukan sekadar pusat pengumpulan sampah yang bernilai. Namun, juga sebagai sistem filter meminimalkan sampah terbuang. Dengan demikian, sampah yang dikirim ke Tempat Penampungan Akhir (TPA) Benowo hanya sampah akhir yang sudah nol nilai ekonomisnya.

”Total ada 162 bank sampah aktif yang mengirim ke sini. Kapasitas maksimal bank sampah ini mampu mengelola 70–80 ton sampah setiap bulannya,” ujar Ketua Pengelola Bank Sampah Induk Surabaya Anjar Putro Wijiasmoro.

Menurut dia, bank sampah induk itu menjadi salah satu yang terbesar dibandingkan daerah lain. Indikatornya dari macam barang yang diterima. Ada 55 kategori barang yang ditampung di pusat pengelolaan sampah tersebut.

”Sampah yang dikirim di sini sudah dipilah. Kami komunikasikan dan sosialisasikan jenis dan harganya,’’ jelasnya.

Jenis sampah yang diterima itu mulai dari bahan plastik, logam dan besi, bahkan karak. Ya, nasi sisa yang dijemur kering tersebut bisa disetor ke bank sampah induk. Begitu juga sandal dan sepatu yang sudah tak terpakai atau kondisinya rusak. ”

Karak kami kumpulkan untuk dijual ke peternak unggas. Belum genap sebulan sudah ada 450 kilogram yang terkumpul. Per kilogram dihargai Rp 2.000,” jelas Anjar.

Sementara itu, sandal dan sepatu dikumpulkan, kemudian diperbaiki. Setelah proses reparasi tuntas, sandal dan sepatu tersebut akan dijual lagi.

”Barang lainnya akan di-packing (dipres, Red). Kemudian, disalurkan ke mitra daur ulang sesuai jenis bahannya,” jelas Anjar.

Selain memberi manfaat ke lingkungan, bank sampah itu juga menjadi inkubator atau tempat pemberdayaan bagi warga keluarga miskin dan prakeluarga miskin.

”Ada 11 orang yang terlibat di sana. Ini sebagai pemberdayaan untuk mengentaskan kemiskinan di Surabaya,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya Agus Hebi Djuniantoro. (*/c6/aph)

EDITOR: Dhimas Ginanjar