← Beranda
Oktober 2026 Dibuka Dengan Potensi Rupiah Melemah Meski APBN Solid
Djati Waluyo• Kamis, 1 Oktober 2026 | 13.36 WIB
Teller menunjukan mata uang Dolar AS dan Rupiah. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan melemah pada perdagangan Rabu (1/10), setelah sebelummya ditutup menguat cukup besar yaitu 87 poin menjadi Rp 17.894 per dollar AS pada perdagangan Rabu (30/9).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri.

"Untuk perdagangan (1/10) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.890 - Rp 17.940,” ujar Ibrahim keterangan yang diterima, Kamis (1/10).

Ibrahim mengatakan, Bank Indonesia membeberkan tiga instrumen yang digunakan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang dalam pekan ini kembali bergejolak, bahkan menyentuh angka Rp 18.000 per dollar.

Baca Juga: Saksi Penganiayaan di Pasar Buah Surabaya: Korban di Atas Tubuh Terdakwa

Adapun, sejumlah kebijakan kebijakan yang diambil oleh BI secara operasional, berupa instrumen spot, instrument DNDF (Domestic Non Deliverable Forward) maupun NDF (Non Deliverable Forward).

“Sehingga bagi pelaku pasar dengan kebutuhan pemenuhan kewajiban impor maupun pembayaran impor yang dapat ditunda, bisa dilakukan dengan DNDF.Hal ini merupakan bagian untuk mendorong berkembangnya instrumen hedging,” ujarnya.

Sementara, untuk pergerakan nilai tukar rupiah di pasar NDF([Non Deliverable Forward) yang berada di pasar luar negeri, transaksi tersebut tetap berjalan ketika pasar domestik Indonesia ditutup.

Ibrahim mengatakan, Menteri Keuangan (Menkeu) Suhasil Nazara, juga memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 dirancang secara pruden dan kredibel di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Pembahasan rancangan APBN (RAPBN) 2027 berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan fragmentasi perdagangan dunia yang mengganggu rantai pasok, meningkatkan volatilitas harga, hingga menambah tekanan inflasi.

“Namun kita bersyukur bahwa di tengah tantang an global yang tidak mudah tersebut, fundamental ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang Kuat. Hal ini terbukti dari kinerja APBN hingga Agustus 2026 tetap solid. Pertumbuhan ekonomi Indonesia secara kumulatif pada semester I-2026 tercatat solid di level 5,45 persen (yoy), dengan pertumbuhan triwulan II mencapai 5,29 persen,” ujarnya.

Baca Juga: Kerap Sasar Anak Muda! Jantung Berdebar Kencang Tanda Sinyal Bahaya Sindrom Wolff Parkinson White

Pendapatan negara masih tumbuh hingga mencapai Rp 2.055,6 triliun, setara dengan 65,2 persen dari target APBN. Hal tersebut menunjukkan APBN tetap menjadi instrumen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus melindungi masyarakat.

Sepanjang 2026, APBN digunakan secara fleksibel dan responsif untuk menghadapi berbagai tantangan, termasuk penanganan bencana, menjaga stabilitas harga serta ketersediaan energi dan pangan di tengah kenaikan harga minyak dunia dan ancaman El Nino.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan