← Beranda
Rupiah Diprediksi Melemah Hari Ini, Pasar Dibayangi Sentimen The Fed dan MSCI
Djati Waluyo• Selasa, 13 Oktober 2026 | 13.59 WIB
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Selasa (13/10), setelah sebelumnya ditutup melemah sebesar 14 poin menjadi Rp 17.913 per dolar AS pada perdagangan Senin (12/10).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam dan luar negeri.

"Untuk perdagangan (13/10) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.780 - Rp 18.060,” ujar Ibrahim keterangan yang diterima, Selasa (13/10).

Ibrahim mengatakan, sentimen eksternal yang akan mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah adalah pernyataan terbaru pejabat Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed yang membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, pada hari Kamis menyatakan, untuk mengembalikan inflasi ke tingkat target, diperlukan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut. 

Gubernur The Fed Christopher Waller menyampaikan pandangan serupa, dengan mengisyaratkan kemungkinan "kenaikan tambahan" jika data ekonomi bergerak sesuai perkiraan. 

“Minggu ini pasar akan mencermati data inflasi tingkat konsumen dan produsen, yang akan disusul oleh data penjualan ritel dan juga pernyataan beberapa pejabat The Fed,” ujar Ibrahim.

Sementara itu, dari dalam negeri pasar terus menunggu pengumuman MSCI seputar ancaman degradasi ke Frontier Market hingga potensi pembekuan (freeze) yang terus berlanjut amat menghantui pasar saham Indonesia. 

Jika solusi dapat diterapkan dengan cepat, maka perlakuan khusus bakal tuntas dalam waktu sekitar satu tahun. Namun, jika penyelesaiannya berjalan lambat atau tidak tercapai, maka pembekuan dapat berlangsung selama bertahun-tahun atau bahkan berkembang menjadi penurunan klasifikasi (downgrade).

EDITOR: Estu Suryowati