Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 12 Oktober 2026 | 14.18 WIB

Konflik AS-Iran Memanas, Rupiah Berpotensi Kembali Tertekan

Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Senin (12/10), setelah sebelummya ditutup menguat sebesar 16 poin menjadi Rp 17.899 per dolar AS pada perdagangan Jumat (9/10).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen luar negeri.

"Untuk perdagangan (12/10) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.780 - Rp 18.060,” ujar Ibrahim keterangan yang diterima, Senin (12/10).

Ibrahim mengatakan, sentimen eksternal yang memengaruhi pergerakan rupiah antara lain perkembangan konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Pada Kamis (8/10), Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington tengah melakukan “diskusi produktif” dengan Iran. Trump juga menegaskan tidak ada rencana serangan terhadap Iran sebelum pemilihan umum sela Kongres AS pada 3 November mendatang.

Pernyataan tersebut muncul setelah beredar laporan media yang menyebutkan bahwa Trump mempertimbangkan serangan terhadap Iran sebelum tanggal tersebut.

Di sisi lain, kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi tengah meninjau tanggapan AS terhadap usulan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.

Meski demikian, AS masih memberikan tekanan ekonomi terhadap Iran untuk mengakhiri konflik yang telah memasuki bulan kedelapan. Pada Kamis (8/10), Washington menjatuhkan sanksi baru terhadap sejumlah individu, jaringan, serta 17 kapal yang mengangkut minyak mentah, produk minyak, dan petrokimia asal Iran.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian pasar karena ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi memengaruhi harga energi global dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan.

Dari sisi kebijakan moneter, Gubernur The Fed Christopher Waller pada Kamis (8/10) menyatakan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut masih diperlukan. Namun, dia menegaskan tetap fleksibel dalam menentukan kecepatan penyesuaian suku bunga.

Editor: Bintang Pradewo
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore