← Beranda
Imelda dan Komunitas Tuli: Membangun Kesempatan Kerja yang Setara
Rian Alfianto• Minggu, 4 Oktober 2026 | 01.54 WIB
Teman tuli saling menginspirasi di Kopdar Teman Hari Bahasa Isyarat Internasional. (Istimewa) 

 

JawaPos.com - Akses terhadap pekerjaan bagi penyandang disabilitas tidak berhenti pada tersedianya lowongan.

Lingkungan yang mendukung, komunikasi yang setara, fleksibilitas, serta komunitas juga dibutuhkan agar Teman Tuli dapat bekerja secara mandiri dan memperoleh kesempatan yang sama.

Persoalan itu terlihat dalam keseharian para pengemudi Tuli yang harus menemukan cara berkomunikasi dengan pengguna, memahami sistem kerja.

Baca Juga: KH Adrian Mafatihullah Karim: Laki-Laki di Rumah Father, di Luar Fighter

Selain itu, membangun kepercayaan diri di tengah lingkungan yang belum selalu memahami budaya Tuli.

Salah satu kisah tersebut datang dari Imelda Situmorang, perempuan berusia 36 tahun yang memilih menjadi pengemudi ojek online.

Dia membutuhkan pekerjaan yang lebih fleksibel untuk menyeimbangkan tanggung jawab sebagai ibu dan pekerja.

Baca Juga: Bawa Batik Solo ke Hongkong, Gus Nabil Jajaki Federasi Pencak Silat

Imelda mulai menjadi Mitra Pengemudi GrabBike pada November 2025. 

Sebelumnya, dia bekerja selama tiga tahun di sebuah minimarket di Bandung dengan jam kerja yang telah ditentukan.

Setelah berkeluarga, pindah ke Bekasi, dan memiliki anak, pola kerja tersebut tidak lagi mudah dijalankan.

Kesempatan menjadi pengemudi dia ketahui melalui Komunitas Ojol Tunarungu Indonesia (Kotri).

Dengan sepeda motor yang diberikan suaminya, yang juga merupakan pengemudi ojek online, Imelda kemudian mendaftarkan diri.

“Kalau menjadi driver atau Mitra Grab, saya bisa bebas mengatur waktu untuk bekerja. Saya sendiri biasanya bekerja di area Bekasi, supaya lebih dekat dengan anak saya yang berada di rumah,” kata Imelda.

Baca Juga: Jadi yang Pertama dari Universitas Indonesia, Bevan Pramudito Taklukkan Olahraga Paling Ekestrem

Dia dan suami kemudian mengatur waktu serta wilayah kerja masing-masing agar dapat bergantian menjalankan tanggung jawab keluarga.

Berkomunikasi di Tengah Keterbatasan Pendengaran

Bekerja sebagai pengemudi membuat Imelda harus berinteraksi dengan banyak orang.

Bagi Teman Tuli, situasi tersebut menghadirkan tantangan tersendiri karena komunikasi lisan tidak selalu dapat dilakukan seperti antara orang Dengar.

Baca Juga: Hanief Iksa Kucurkan Ratusan Juta dari Kantong Pribadi, Hidupkan Sekolah Rusak hingga Buka Beasiswa

Pada awal bekerja, Imelda lebih banyak menggunakan tulisan, ekspresi, dan gestur untuk berkomunikasi dengan pengguna.

Dia biasanya memberi tahu bahwa dirinya Tuli sehingga penumpang dapat menyesuaikan cara berkomunikasi selama perjalanan.

Tidak semua interaksi berjalan mulus.

Baca Juga: Candra & Ratih, Best Couple Runner Kompak Ramaikan Wellness Sunday di Sentul

Ada kalanya komunikasi menjadi sulit dan Imelda pernah menerima penilaian yang tidak diinginkan.

Namun, dia juga menemukan pengguna yang memberikan respons positif setelah mengetahui kondisinya.

Pengalaman tersebut perlahan mengubah pandangannya mengenai peluang kerja bagi Teman Tuli.

“Sebelumnya, saya tidak berpikir bahwa seorang Tuli bisa bekerja sebagai pengemudi ojek online. Di Grab ternyata ada ruang bagi pengemudi Tuli untuk berkarya,” ujar Imelda.

Baca Juga: Aktivis Muda NU Hendriyanto Attan Sandang Gelar Kanjeng Raden Haryo dari Keraton Surakarta

Bagi Imelda, kesempatan tersebut bukan hanya mengenai penghasilan.

Pekerjaan itu juga menjadi pengalaman bahwa seorang Teman Tuli dapat menjalankan pekerjaan yang sama dan memperoleh penghargaan yang setara.

Komunitas Membantu Teman Tuli Beradaptasi

Dalam perjalanan memasuki dunia kerja, dukungan dari sesama Teman Tuli menjadi bagian penting bagi Imelda.

Baca Juga: 25 Kader Pasukan Inti Pagar Nusa Lulus Diktama di Taiwan Dibekali Ijazahan Wirid dan Amalan

Kotri tidak hanya menjadi sumber informasi mengenai pendaftaran sebagai pengemudi, tetapi juga membantunya memahami penggunaan aplikasi dan proses menerima pesanan.

Setelah bekerja, komunitas tersebut tetap menjadi tempat untuk bertukar pengalaman dan memperoleh informasi.

Bagi Imelda, keberadaan komunitas membuat tantangan yang dihadapi selama bekerja tidak harus diselesaikan seorang diri.

Baca Juga: Aksara Jawi Aceh Bersiap Masuk Internet, Alamat Website Bisa Ditulis dengan Huruf Arab Melayu

Ruang belajar kemudian bertambah ketika ia mengikuti Kopdar Spesial Hari Bahasa Isyarat yang mempertemukan pengemudi Tuli dan pengemudi Dengar.

Kegiatan yang digelar di Medan, Semarang, dan Jakarta itu diikuti 650 mitra pengemudi.

Selain belajar bahasa isyarat, para peserta diajak memahami budaya Tuli dan mempraktikkan cara berkomunikasi yang lebih inklusif.

Bahasa Isyarat Sederhana Bisa Mengurangi Hambatan

Bagi pengemudi Tuli, komunikasi dengan penumpang tidak selalu membutuhkan percakapan panjang.

Baca Juga: Dubes Turki Berikan Aplaus Untuk Pelestarian dan Promosi Batik di Indonesia

Petunjuk arah, konfirmasi tujuan, atau ungkapan sederhana dapat disampaikan dengan bantuan tulisan, gestur maupun bahasa isyarat.

Dalam rangkaian kegiatan memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional 2026, sebanyak 1.000 rompi Teman Setara dibagikan kepada pengemudi Tuli.

Rompi tersebut dilengkapi panduan visual dan ilustrasi bahasa isyarat dasar untuk membantu pengguna berkomunikasi selama perjalanan.

Baca Juga: PP PMKRI Resmi Dilantik, Tegaskan Gerakan dalam Spirit Nota Pastoral KWI

“Rompi ini membantu memperlancar komunikasi karena memuat informasi visual yang dapat dilihat penumpang, misalnya untuk memberi arahan ke kiri atau kanan, serta menggunakan bahasa isyarat sederhana seperti terima kasih dan sama-sama,” kata Imelda.

Bagi pengguna, mengenal beberapa bahasa isyarat sederhana dapat menjadi langkah kecil untuk menciptakan interaksi yang lebih nyaman.

Bagi pengemudi Tuli, hal tersebut juga menunjukkan bahwa komunikasi dapat dibangun tanpa harus bergantung sepenuhnya pada percakapan verbal.

Baca Juga: Kisah Dinda dan Farras, Setiap Mimpi Layak Diperjuangkan Lewat Pendidikan

Kisah Imelda memperlihatkan bahwa persoalan akses kerja bagi penyandang disabilitas memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar mendapatkan pekerjaan.

Bagi Imelda, dukungan terhadap Teman Tuli seharusnya tidak berhenti pada akses untuk bekerja.

Ruang untuk belajar dan saling menguatkan juga dibutuhkan agar mereka dapat berkembang secara mandiri.

“Saya berharap rekan-rekan Tuli bisa terus didukung dan tetap menjaga semangatnya. Dan saling mendukung,” tutur Imelda.

Baca Juga: Kemenekraf Dorong Ruang Kreatif Yang Inklusif Bagi Perempuan

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah