JawaPos.com - Sebanyak 5.250 anak dari kelompok rentan, mengikuti kegiatan belajar dan bermain bersama relawan di 70 kota dan kabupaten. Mereka adalah anak jalanan, anak pemulung, anak terlantar, hingga anak dari keluarga prasejahtera,
Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mencoba pengalaman baru, berinteraksi dengan orang dewasa, dan membangun rasa percaya diri melalui aktivitas bersama.
Kebutuhan terhadap ruang bermain dan belajar yang aman menjadi penting bagi anak-anak yang tumbuh dalam kondisi sosial dan ekonomi rentan.
Baca Juga: 100 Tahun Frans Seda, Keteladanan Sang Negarawan Lintas Zaman Bagi Generasi Muda
Keterbatasan ekonomi tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dapat membatasi kesempatan anak memperoleh pengalaman yang mendukung tumbuh kembang.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Psychiatry juga menunjukkan bahwa anak yang memiliki setidaknya satu hubungan positif dan suportif dengan orang dewasa cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik di kemudian hari.
Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang membantu anak berkembang.
Baca Juga: BPN PKK: Pelayanan Gereja Jadi Ruang Membentuk Karakter Generasi Muda
5.250 Anak Ikuti Beragam Aktivitas
Kegiatan yang berlangsung di 147 restoran di 70 kota dan kabupaten ini melibatkan lebih dari 500 karyawan sebagai relawan.
Mereka meluangkan total 2.036 jam untuk mendampingi anak-anak melalui berbagai aktivitas, mulai dari sesi bercerita, permainan tradisional Nusantara, kunjungan ke dapur, membuat kreasi es krim, hingga makan bersama.
Anak-anak tidak hanya diajak mengikuti permainan, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mencoba kegiatan yang mungkin belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Interaksi dengan para relawan diharapkan dapat menciptakan pengalaman yang menyenangkan sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk berbagi cerita dan membangun hubungan sosial.
"Kegiatan ini digelar melalui program tahunan Community Month yang memasuki tahun kelima pada 2026. Dalam program ini, karyawan McDonald's Indonesia berperan sebagai pendamping atau Kakak Bimbing McD," terang Meta Rostiawati, Associate Director of Communications McDonald's Indonesia.
Dia mengatakan, kegiatan tersebut menekankan pentingnya kehadiran langsung dan interaksi dengan anak-anak.
Baca Juga: Sosok Biarawati Sr. Klara Duha Menghidupkan Asa Anak Berkebutuhan Khusus dari Nias
"Melalui Community Month, kami ingin menghadirkan semangat Sepenuhnya Indonesia melalui hal sederhana, yaitu meluangkan waktu dan hadir bersama adik-adik yang membutuhkan perhatian," papar Meta Rostiawati.
"Ketika karyawan mengambil peran sebagai Kakak Bimbing McD, mereka tidak hanya menemani bermain, tetapi juga menciptakan kesempatan bagi anak-anak untuk mencoba pengalaman baru, berbagi cerita, dan merasa diterima," ujar Meta.
Menurut dia, perhatian kepada anak-anak tidak selalu harus diwujudkan melalui kegiatan besar.
Baca Juga: Imelda dan Komunitas Tuli: Membangun Kesempatan Kerja yang Setara
Kehadiran dan waktu yang diberikan secara langsung juga dapat menjadi pengalaman berarti bagi mereka.
Kegiatan ini melibatkan karyawan dari berbagai fungsi dan jenjang jabatan, mulai dari kru restoran hingga jajaran manajemen.
Jumlah relawan yang berpartisipasi tahun ini tercatat meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan lima tahun sebelumnya.
Baca Juga: 25 Kader Pasukan Inti Pagar Nusa Lulus Diktama di Taiwan Dibekali Ijazahan Wirid dan Amalan
Bagi sebagian relawan, keterlibatan dalam kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk berkontribusi di luar pekerjaan sehari-hari.
Daryanti, staf Operations mengatakan, telah mengikuti kegiatan tersebut selama lima tahun berturut-turut karena ingin berbagi waktu dan pengalaman dengan anak-anak.
"Buat saya, Community Month seperti kegiatan ekstrakurikuler di luar pekerjaan. Saya senang bisa berbagi waktu dan melakukan sesuatu yang berbeda bersama teman-teman dari berbagai departemen," tutur Daryanti.
"Tahun ini, melihat keceriaan adik-adik yang datang ke restoran membuat saya tersentuh dan semakin menyadari bahwa setiap anak membutuhkan perhatian dan ruang yang aman untuk tumbuh," ungkap Daryanti.
Baca Juga: Irvandi Gustari Kembali Pimpin Himpunan Alumni Sekolah Bisnis IPB 2026–2030
Dia berharap pengalaman menjadi relawan dapat menjadi pelajaran bagi anaknya mengenai pentingnya berbagi dan peduli terhadap sesama.
Pendampingan Melibatkan Lembaga Sosial dan Pemerintah Daerah
Pelaksanaan kegiatan turut melibatkan Dinas Sosial, organisasi sosial, rumah singgah, serta komunitas yang selama ini mendampingi anak-anak dari kelompok rentan.
Keterlibatan lembaga tersebut penting untuk memastikan kegiatan menjangkau anak-anak yang membutuhkan dukungan.
Baca Juga: Bawa Batik Solo ke Hongkong, Gus Nabil Jajaki Federasi Pencak Silat
Sri Umiasih, Kepala Bidang Rehabilitasi dan Perlindungan Jaminan Sosial Dinsos-P3AP2KB Kota Malang menilai kegiatan bermain dan belajar bersama dapat memberikan pengalaman yang berkesan bagi anak-anak.
"Kami melihat anak-anak begitu menikmati kesempatan untuk bermain, belajar, dan mencoba hal baru yang mungkin tidak mereka dapatkan setiap hari," ungak Sri.
"Kehadiran program ini sangat berarti bagi mereka, bahkan setelah kegiatan mereka masih bercerita tentang pengalaman dan orang-orang yang mereka temui," ujar Sri.
Baca Juga: Jadi yang Pertama dari Universitas Indonesia, Bevan Pramudito Taklukkan Olahraga Paling Ekestrem
Menurut Sri, upaya mendukung tumbuh kembang anak dari kelompok rentan tidak dapat bergantung pada satu kegiatan saja.
Dukungan keluarga, sekolah, pemerintah, dan lembaga sosial tetap diperlukan untuk memastikan hak anak terpenuhi secara konsisten.
Selain kegiatan pendampingan, Community Month juga menjadi bagian dari program sosial perusahaan yang mencakup literasi, kebersihan dan kesehatan, inklusi bagi penyandang disabilitas, serta edukasi keamanan pangan.
Berdasar studi independen Oxford Economics, pada periode April 2024 hingga Maret 2025, McDonald's Indonesia menyalurkan donasi lebih dari Rp 2,2 miliar dan mendistribusikan lebih dari 72.000 porsi makanan kepada panti asuhan, sekolah marginal, hingga panti wreda.
Baca Juga: Hanief Iksa Kucurkan Ratusan Juta dari Kantong Pribadi, Hidupkan Sekolah Rusak hingga Buka Beasiswa