JawaPos.com - Rangkaian serangan Houthi ke fasilitas strategis Arab Saudi mulai menimbulkan ancaman yang lebih luas daripada sekadar gangguan penerbangan.
Eskalasi konflik di Yaman berpotensi mengganggu jalur perdagangan global di Laut Merah, terutama kawasan Bab el-Mandeb yang menjadi salah satu pintu penting bagi lalu lintas kapal internasional.
Houthi pada Kamis (8/10) mengklaim menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menggunakan rudal balistik. Belum ada konfirmasi langsung dari Arab Saudi mengenai dampak serangan terbaru tersebut, termasuk kerusakan maupun korban.
Namun, serangkaian serangan sebelumnya telah menewaskan dan melukai warga sipil serta menyebabkan penerbangan di sejumlah bandara Saudi mengalami keterlambatan.
Baca Juga: Ditjenpas Jatim Temukan Indikasi Maladministrasi Pembebasan Bersyarat Mas Bechi, 6 Pegawai Diperiksa
Di tengah situasi tersebut, perhatian kini tidak hanya tertuju pada keamanan bandara. Pertanyaan yang lebih besar adalah seberapa jauh eskalasi perang Yaman dapat mengganggu jalur pelayaran yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Bab el-Mandeb Jadi Titik Rawan Baru
Bab el-Mandeb merupakan selat strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Jalur ini menjadi akses penting kapal yang bergerak antara Eropa dan Asia melalui Terusan Suez.
Sekitar 12 persen perdagangan global melintasi kawasan tersebut. Karena itu, meningkatnya aktivitas militer di sekitar Bab el-Mandeb dapat memberikan dampak jauh di luar wilayah Yaman dan Arab Saudi.
Risiko tersebut semakin besar karena jalur pelayaran di kawasan lain, terutama Selat Hormuz, juga sedang menghadapi gangguan akibat perang Iran.
Artinya, eskalasi di Yaman dapat mempersempit pilihan rute bagi kapal yang mengangkut energi maupun barang dari kawasan Timur Tengah menuju pasar global.
Houthi Gunakan Infrastruktur Sipil untuk Menekan Saudi
Serangan terhadap bandara juga menunjukkan perubahan penting dalam pola tekanan Houthi terhadap Arab Saudi.
Kelompok yang secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah itu dalam beberapa hari terakhir mengklaim sejumlah serangan terhadap bandara, fasilitas militer, infrastruktur penting, dan lokasi strategis lainnya di Arab Saudi.
Baca Juga: Tarif Cukai Tinggi, Ekonom Minta Kenaikan CHT 2027 Ditahan
Institute for the Study of War (ISW) menilai strategi tersebut berkaitan dengan upaya meningkatkan biaya ekonomi yang harus ditanggung Saudi.
"Houthi percaya bahwa mereka dapat memaksimalkan biaya ekonomi Saudi dan memaksa Arab Saudi untuk menyerah pada tuntutan Houthi dengan menyerang infrastruktur sipil, seperti fasilitas minyak dan bandara," tulis ISW dikutip dari Euronews.
Dengan kata lain, sasaran seperti bandara tidak hanya memiliki nilai militer. Gangguan terhadap fasilitas penerbangan juga dapat memengaruhi aktivitas ekonomi, pergerakan manusia, serta persepsi keamanan di Arab Saudi.
Diberitakan sebelumnya, dampak serangan sebelumnya sudah terlihat di sektor penerbangan.
Arab Saudi melaporkan serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid menewaskan seorang warga negara Sudan dan melukai delapan orang lainnya.
Serangan terpisah terhadap Bandara Abha menewaskan warga Maroko dan Aljazair serta menyebabkan 28 orang terluka. Gangguan penerbangan kemudian berlanjut hingga hari kedua.
Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi tidak secara langsung menyebut pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap kedua bandara tersebut.
Sementara itu, juru bicara koalisi pimpinan Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Malki, mengatakan pasukannya mencegat sebuah rudal balistik di sebelah utara Riyadh.
Pasukan koalisi juga disebut menghancurkan platform peluncuran di Sanaa yang menurut al-Malki digunakan untuk melancarkan serangan ke ibu kota Saudi.
Baca Juga: Resmi Terintegrasi, Umumkan Usulan Nama dan Logo Bank untuk Bangun Masa Depan Bersama
Selain itu, eskalasi serangan udara dan rudal berlangsung bersamaan dengan operasi militer Saudi dan pasukan pemerintah Yaman untuk merebut kembali wilayah di pesisir Laut Merah bagian barat dan sekitar Bab el-Mandeb.
Pada Senin, pasukan koalisi menyatakan telah merebut sejumlah wilayah strategis di sekitar selat tersebut.
Perkembangan ini membuat Bab el-Mandeb menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik Yaman. Jika pertempuran semakin mendekati jalur pelayaran, perusahaan pelayaran dapat menghadapi tekanan untuk mengubah rute atau meningkatkan langkah pengamanan.
Dampaknya berpotensi merembet ke biaya transportasi, waktu pengiriman, dan harga komoditas yang bergantung pada kelancaran jalur laut.