← Beranda
Sanitasi Bogor Masih Jadi Tantangan, Rumah Layak dan Perubahan Perilaku Perlu Jadi Perhatian
Tazkia Royyan Hikmatiar• Selasa, 6 Oktober 2026 | 01.59 WIB
Ilustrasi akses air bersih dan sanitasi masih jadi tantangan besar bagi masyarakat Indonesia. (Istimewa)

JawaPos.com - Akses sanitasi layak di Kabupaten dan Kota Bogor masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat. Pada 2025, akses rumah tangga terhadap sanitasi layak tercatat 67,17 persen di Kabupaten Bogor dan 74,41 persen di Kota Bogor. Sementara akses sanitasi aman di Kota Bogor baru mencapai 10,78 persen.

 

Persoalan lingkungan juga terlihat dari tingginya volume sampah. Timbunan sampah di Kota Bogor mencapai sekitar 750 ton per hari, sedangkan di Kabupaten Bogor sekitar 3.000 ton per hari.

 

Kondisi tersebut menunjukkan persoalan kesehatan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan layanan Kesehatan. Tetapi juga kualitas hunian, sanitasi, kebersihan lingkungan, dan perilaku masyarakat.

 

National Director Habitat for Humanity Indonesia Handoko Ngadiman menilai pembangunan rumah layak dan sanitasi perlu disertai peningkatan kesadaran masyarakat. Hal ini bertujuan masyarakat dapat bertahan dalam jangka panjang.

 

“Pendekatan yang menyatukan pembangunan fisik dengan pemberdayaan masyarakat seperti ini penting untuk mendorong perubahan yang berkelanjutan,” kata Handoko.

 

Kondisi sanitasi terbatas itu menjadi salah satu perhatian dalam program Desa Maju Prudential yang dijalankan PT Prudential Life Assurance di Desa Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Program tersebut menggabungkan pembangunan rumah layak dan fasilitas sanitasi dengan edukasi mengenai higiene, rumah sehat, pengelolaan sampah, serta kesiapsiagaan masyarakat.

 

Hingga Agustus 2026, program fase ketiga tersebut telah memberikan manfaat kepada 648 penerima manfaat langsung dan 23.655 penerima manfaat tidak langsung. Selain pembangunan fisik, masyarakat mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam menjaga kesehatan keluarga serta lingkungan.

 

Chief Customer & Marketing Officer Prudential Indonesia Karin Zulkarnaen mengatakan, kesehatan masyarakat perlu dilihat secara menyeluruh, termasuk dari lingkungan tempat tinggal dan kebiasaan sehari-hari. “Kesehatan tidak dapat dipisahkan dari lingkungan tempat masyarakat tinggal dan beraktivitas,” ujar Karin, Senin (5/10).

 

Program tersebut juga mendorong masyarakat terlibat langsung dalam menjaga fasilitas dan menerapkan kebiasaan hidup bersih setelah program berakhir.

 

Dalam pelaksanaannya, program ini juga melibatkan 482 sukarelawan. Keterlibatan relawan diarahkan untuk mendukung pembangunan sekaligus memperkuat partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan dan fasilitas yang telah tersedia.

 

 

EDITOR: Diar Candra