← Beranda
6 Alasan Mengapa Kepekaan Berlebihan Dapat Merusak Hubungan Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?
Irfan Ferdiansyah• Sabtu, 1 Agustus 2026 | 22.37 WIB
seseorang yang tidak layak dipertahankan dalam hidup./Magnific/drobotdean

JawaPos.com - Dalam setiap hubungan, baik hubungan asmara, persahabatan, maupun keluarga, kepekaan terhadap perasaan orang lain merupakan kualitas yang sangat penting. Seseorang yang peka biasanya lebih mudah memahami emosi pasangan, mampu berempati, dan menjaga komunikasi tetap hangat.

Namun, psikologi juga menunjukkan bahwa kepekaan yang berlebihan dapat berubah menjadi pedang bermata dua. Ketika seseorang terlalu sensitif terhadap perkataan, ekspresi wajah, atau tindakan orang lain, hubungan justru bisa dipenuhi kesalahpahaman, konflik, hingga kelelahan emosional.

Kepekaan berlebihan bukan berarti seseorang lemah. Dalam banyak kasus, kondisi ini muncul karena pengalaman masa lalu, pola pengasuhan, trauma emosional, atau tingkat kecemasan yang tinggi. Meski demikian, jika tidak dikelola dengan baik, kepekaan yang berlebihan dapat mengganggu kualitas hubungan dalam jangka panjang.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (1/8), terdapat enam alasan mengapa kepekaan berlebihan dapat merusak hubungan menurut psikologi.

1. Terlalu Sering Menafsirkan Hal Secara Negatif

Dalam psikologi kognitif, terdapat konsep negative interpretation bias, yaitu kecenderungan seseorang untuk menafsirkan situasi yang sebenarnya netral menjadi sesuatu yang negatif.

Misalnya, pasangan terlambat membalas pesan karena sedang bekerja. Orang yang terlalu sensitif mungkin langsung berpikir bahwa pasangannya mulai bosan, marah, atau tidak lagi mencintainya.

Padahal kenyataannya belum tentu demikian.

Semakin sering seseorang membuat asumsi negatif tanpa bukti yang jelas, semakin besar kemungkinan muncul konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Akibatnya:

Komunikasi menjadi dipenuhi prasangka.
Pasangan merasa terus-menerus dituduh.
Hubungan kehilangan rasa nyaman dan saling percaya.

Psikologi menekankan pentingnya memeriksa fakta sebelum menarik kesimpulan agar hubungan tidak dipenuhi oleh asumsi yang keliru.

2. Mudah Merasa Tersinggung

Tidak semua komentar memiliki maksud untuk menyakiti. Namun, orang yang sangat sensitif sering kali menangkap kritik ringan, candaan, atau saran sebagai bentuk penolakan terhadap dirinya.

Fenomena ini berkaitan dengan personalization, yaitu kecenderungan menganggap segala sesuatu berkaitan langsung dengan diri sendiri.

Contohnya, ketika pasangan berkata,

"Kita sebaiknya lebih hemat bulan ini."

Orang yang terlalu sensitif bisa mengartikannya sebagai kritik terhadap kemampuan dirinya mengatur keuangan, padahal pasangan hanya sedang membahas kondisi finansial bersama.

Jika hal seperti ini terjadi berulang kali, pasangan akan merasa harus selalu berhati-hati dalam berbicara.

Lama-kelamaan komunikasi menjadi tidak spontan karena ada rasa takut menyinggung perasaan.

3. Meningkatkan Kecemasan dalam Hubungan

Kepekaan yang berlebihan sering kali berjalan berdampingan dengan kecemasan.

Seseorang menjadi terlalu fokus pada kemungkinan terburuk.

Misalnya:

takut ditinggalkan,
takut tidak dihargai,
takut pasangan berubah,
takut hubungan berakhir.

Dalam psikologi hubungan, kondisi ini sering dikaitkan dengan anxious attachment, yaitu pola keterikatan yang membuat seseorang selalu membutuhkan kepastian dan validasi.

Akibatnya, seseorang mungkin:

terlalu sering meminta penjelasan,
terus mencari kepastian cinta,
merasa gelisah jika pasangan sibuk,
mudah panik ketika komunikasi sedikit berubah.

Pasangan akhirnya merasa tertekan karena harus terus-menerus memberikan jaminan emosional.

4. Menyulitkan Penyelesaian Konflik

Tidak ada hubungan yang benar-benar bebas dari konflik.

Yang membedakan hubungan sehat dan tidak sehat adalah cara menyelesaikan konflik tersebut.

Ketika seseorang terlalu sensitif, kritik kecil sering dianggap sebagai serangan terhadap harga dirinya.

Akibatnya, ia mungkin:

langsung menangis,
marah,
menarik diri,
atau memilih diam berhari-hari.

Dalam psikologi, respons emosional yang terlalu intens dapat menghambat proses problem solving karena fokus berpindah dari mencari solusi menjadi mempertahankan perasaan.

Padahal komunikasi yang sehat membutuhkan kemampuan mendengarkan kritik tanpa selalu menganggapnya sebagai ancaman.

5. Membuat Pasangan Merasa Lelah Secara Emosional

Hubungan yang sehat membutuhkan keseimbangan.

Ketika satu pihak harus terus menjaga setiap kata, menjelaskan setiap tindakan, dan menenangkan pasangan hampir setiap hari, lama-kelamaan muncul kelelahan emosional atau emotional exhaustion.

Pasangan mungkin mulai merasa:

tidak bebas menjadi dirinya sendiri,
selalu takut salah bicara,
harus terus meminta maaf meskipun tidak berniat menyakiti.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengurangi kedekatan emosional karena salah satu pihak merasa hubungan lebih banyak diisi dengan kewajiban menjaga perasaan daripada menikmati kebersamaan.

6. Menghambat Kepercayaan dalam Hubungan

Fondasi hubungan yang sehat adalah kepercayaan.

Namun, kepekaan yang berlebihan sering membuat seseorang sulit mempercayai niat baik pasangan.

Setiap perubahan kecil dapat dianggap sebagai tanda adanya masalah.

Misalnya:

pasangan terlihat lebih pendiam,
lupa mengucapkan selamat pagi,
sibuk bekerja,
atau tidak segera membalas telepon.

Semuanya bisa dianggap sebagai bukti bahwa hubungan sedang memburuk.

Padahal perubahan perilaku sesaat belum tentu memiliki makna negatif.

Kurangnya kepercayaan ini membuat hubungan dipenuhi rasa curiga dan kecemasan yang akhirnya merusak kedekatan emosional.

Bagaimana Mengelola Kepekaan Berlebihan?

Kepekaan bukanlah sesuatu yang harus dihilangkan. Justru, kemampuan memahami perasaan orang lain merupakan salah satu kekuatan dalam membangun hubungan. Yang perlu dilakukan adalah mengelola kepekaan agar tidak berubah menjadi reaktivitas emosional.

Beberapa langkah yang dapat membantu antara lain:

Belajar membedakan antara fakta dan asumsi.
Mengomunikasikan perasaan secara terbuka tanpa menyalahkan pasangan.
Melatih kesadaran diri (self-awareness) terhadap pemicu emosi.
Mengembangkan kemampuan mengatur emosi sebelum bereaksi.
Membangun rasa percaya melalui komunikasi yang konsisten.
Jika kepekaan dipengaruhi oleh trauma atau kecemasan yang berat, mempertimbangkan bantuan profesional seperti psikolog.

Penutup

Kepekaan merupakan kualitas yang berharga karena membuat seseorang lebih empatik dan peduli terhadap orang lain. 

Namun, ketika kepekaan berkembang menjadi sensitivitas yang berlebihan, hubungan dapat dipenuhi oleh prasangka, kecemasan, konflik, hingga kelelahan emosional.

Memahami pola pikir dan reaksi emosional menurut psikologi membantu seseorang menyadari bahwa tidak semua situasi memiliki makna negatif. 

Dengan komunikasi yang sehat, pengelolaan emosi yang baik, dan rasa saling percaya, kepekaan dapat menjadi kekuatan yang mempererat hubungan, bukan justru merenggangkannya.

EDITOR: Hanny Suwindari