← Beranda
Bukan Selalu Karena Marah, Ini 7 Alasan Orang Berani Blokir Mantan
Rabbany Wanadriani• Rabu, 30 September 2026 | 22.35 WIB
ilustrasi orang yang blokir kontak mantan. Sumber foto: Freepik

JawaPos.com - Putus cinta tidak selalu berakhir dengan saling menyimpan nomor atau tetap mengikuti kehidupan satu sama lain di media sosial. Bagi sebagian orang, memblokir kontak mantan justru menjadi cara untuk benar-benar mengakhiri hubungan dan mendapatkan kembali ketenangan.

Keputusan tersebut memang bisa terlihat tegas, bahkan dianggap terlalu ekstrem oleh sebagian orang. Namun, bagi orang tertentu, memblokir mantan bukan dilakukan karena dendam atau kebencian. Tindakan itu dapat menjadi bentuk menjaga batasan, melindungi diri dari gangguan emosional, sekaligus memberi kesempatan untuk menjalani kehidupan baru.

Dilansir dari Geediting, ada sejumlah karakter yang umumnya dikaitkan dengan orang-orang yang tidak banyak berpikir ketika memutus akses komunikasi dengan mantan. Berikut tujuh di antaranya:

1. Memiliki batasan pribadi yang tegas

Orang yang mudah mengambil keputusan untuk memblokir mantan biasanya memahami pentingnya batasan dalam sebuah hubungan. Ketika hubungan telah selesai, mereka merasa tidak perlu lagi memberikan akses tanpa batas kepada mantan melalui pesan, media sosial, maupun berbagai bentuk komunikasi lainnya.

Bagi mereka, menjaga jarak justru membantu memperjelas bahwa hubungan tersebut memang sudah berakhir.

2. Menghargai diri sendiri

Mereka juga cenderung menyadari bahwa waktu dan energi emosional merupakan sesuatu yang berharga. Terus mengikuti aktivitas mantan atau berulang kali membuka percakapan lama hanya berpotensi membuat proses melupakan menjadi lebih sulit.

Karena itu, memblokir dapat dipandang sebagai langkah untuk menjaga diri, bukan sebagai bentuk pembalasan.

3. Sudah menerima kenyataan bahwa hubungan berakhir

Orang yang tidak ragu memblokir mantan umumnya sudah memiliki pandangan yang cukup jelas mengenai perpisahan tersebut. Mereka tidak ingin terus menggantungkan harapan pada kemungkinan hubungan kembali seperti sebelumnya.

Dengan membatasi komunikasi, mereka juga mengurangi kemungkinan munculnya pesan larut malam, interaksi tidak sengaja di media sosial, atau kebiasaan menafsirkan setiap aktivitas mantan secara berlebihan.

4. Tidak menyukai drama yang berlarut-larut

Sebagian orang memilih menjauh karena tidak ingin kembali masuk ke dalam pola hubungan yang penuh konflik. Mereka mungkin tidak ingin menghadapi pesan bernada sindiran, komunikasi yang tidak jelas, atau hubungan putus-nyambung yang melelahkan secara emosional.

Memblokir menjadi salah satu cara untuk menutup pintu terhadap situasi yang berpotensi membuat keadaan semakin rumit.

5. Ingin memberikan ruang bagi diri sendiri untuk pulih

Setelah sebuah hubungan berakhir, seseorang membutuhkan waktu untuk menata kembali kehidupan dan emosinya. Ada yang perlu memahami kembali dirinya, membangun kepercayaan diri, hingga menentukan langkah berikutnya.

Dalam kondisi seperti ini, menjauh dari mantan dapat memberikan ruang yang lebih luas untuk beristirahat secara emosional, melakukan introspeksi, dan perlahan menjalani proses pemulihan.

6. Lebih berorientasi pada masa depan

Daripada terus memikirkan apa yang sudah berlalu, mereka memilih mencurahkan perhatian pada kehidupan yang sedang dijalani. Fokusnya dapat bergeser pada pekerjaan, pertemanan, aktivitas pribadi, maupun kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih sehat di masa mendatang.

Memutus akses dengan mantan bagi mereka merupakan salah satu cara agar masa lalu tidak terus mengambil porsi besar dalam kehidupan sekarang.

7. Memiliki kemandirian secara emosional

Keputusan untuk memblokir mantan juga dapat menunjukkan bahwa seseorang berusaha tidak menggantungkan ketenangan emosionalnya kepada orang lain. Mereka memahami bahwa rasa sepi atau tidak nyaman setelah perpisahan merupakan bagian dari proses yang perlu dilewati.

Alih-alih mencari validasi dari mantan, mereka berusaha menghadapi perasaan tersebut dan membangun kembali kebahagiaan dengan mengandalkan diri sendiri.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho