JawaPos.com - Berhadapan dengan orang yang sulit diajak berdiskusi bisa menguras energi. Percakapan dapat berubah menjadi perdebatan ketika lawan bicara merespons dengan sikap defensif, tidak jujur, atau menolak melihat persoalan dari sudut pandang lain.
Dalam kondisi seperti ini, menjaga batas diri menjadi bagian penting agar seseorang tidak ikut terseret ke dalam konflik emosional.
Dilansir dari YourTango, Kamis (1/10/2026), pengacara persidangan Jefferson Fisher membagikan tiga pendekatan untuk menghadapi percakapan sulit dengan orang yang dinilai belum matang secara emosional.
Fisher terbiasa menghadapi orang dalam situasi penuh tekanan melalui pekerjaannya sebagai pengacara persidangan. Menurut Fisher, salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah merasa bertanggung jawab untuk mengendalikan emosi orang lain.
"Anda sudah mengelola perasaan dan emosi Anda sendiri. Bukan tanggung jawab Anda untuk mengatur emosi mereka," ujar Fisher.
Baca Juga: 6 Alasan Mengapa Meditasi Bisa Menjadi Cara Praktis yang Penting bagi Siapa Saja Menurut Psikologi
Berangkat dari prinsip itu, Fisher merangkum tiga kalimat yang dapat membantu seseorang tetap tenang dan tidak ikut terseret dalam drama emosional saat menghadapi orang yang sulit diajak berkomunikasi.
1. "Berhentilah mencoba untuk menjadi pahlawan."
Fisher menyarankan agar seseorang tidak selalu berusaha memperbaiki keadaan atau mengambil alih persoalan emosional orang lain. Setiap orang bertanggung jawab atas perasaan dan reaksinya sendiri.
YourTango juga mengaitkan pandangan tersebut dengan penelitian yang membahas regulasi emosi. Poin utamanya di sini adalah batas tanggung jawab emosional harus jelas, bukan klaim bahwa seseorang harus bersikap tidak peduli pada orang lain.
2. "Biarkan mereka salah memahami Anda jika memang mereka memilih begitu."
Fisher mengatakan orang yang kurang matang secara emosional cenderung sulit melakukan refleksi diri. Akibatnya, penjelasan berulang kali belum tentu membuat mereka memahami sudut pandang orang lain.
"Saya hanya bisa menjelaskannya kepada Anda; saya tidak bisa membuat Anda jadi seketika paham dengan maksud saya," kata Fisher. Karena itu, ia menganjurkan sikap menjaga jarak secara emosional.
Seseorang dapat menjelaskan maksudnya, tetapi tidak bisa memaksa orang lain menerima penjelasan tersebut. Terus mempertahankan percakapan yang tidak produktif hanya akan menghabiskan energi.
3. "Empati bukan sekadar untuk memanjakan orang lain."
Fisher juga membedakan empati dari tindakan yang justru membuat seseorang terbebas dari tanggung jawab. Empati berarti memahami perasaan orang lain tanpa mengambil alih persoalan mereka.
Contohnya, seseorang dapat mengatakan, "Saya bisa memahami mengapa itu membuat Anda frustrasi atau kesal. Lalu, apa yang ingin Anda lakukan?"
Sebaliknya, tindakan enabling atau memanjakan terjadi ketika seseorang mengambil alih masalah hanya karena tidak ingin melihat orang lain merasa tidak nyaman.
Perbedaannya terletak pada akuntabilitas. Ketika seseorang terus menyelesaikan masalah orang lain, pihak yang menghadapi masalah dapat kehilangan dorongan untuk bertanggung jawab atas tindakannya sendiri.
Fisher menjelaskan, "Hal itu hanya memperkuat gagasan bahwa hidup terjadi pada mereka, yang pada akhirnya selalu membuat mereka memainkan peran sebagai korban."
Karena itu, menghadapi drama emosional bukan berarti harus memenangkan perdebatan. Pendekatan yang ditawarkan Fisher justru berfokus pada batas tanggung jawab: memahami tanpa mengambil alih, menjelaskan tanpa memaksakan pemahaman, serta memberi ruang kepada orang lain untuk menghadapi konsekuensi tindakannya sendiri.
Baca Juga: Ingin Memiliki Hubungan Jangka Panjang, Genggam Erat 7 Kunci Penting Ini Menurut Psikologi