JawaPos.com - Ketika seseorang mencoba mendekati pasangan kita, reaksi pertama yang muncul sering kali adalah rasa tidak nyaman. Cemburu, marah, takut kehilangan, bahkan keinginan untuk segera menghadapi orang tersebut merupakan respons yang sangat manusiawi.
Namun, dalam hubungan yang sehat, persoalan utamanya bukan sekadar siapa yang mencoba mendekati pasanganmu, melainkan bagaimana kamu dan pasangan merespons situasi tersebut.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (2/10), menurut perspektif psikologi hubungan, kecemburuan tidak selalu berarti hubungan sedang bermasalah. Kecemburuan dapat menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang dianggap penting dan berharga. Masalahnya muncul ketika emosi tersebut membuat seseorang kehilangan kendali, menjadi terlalu mengontrol, atau mengambil keputusan secara impulsif.
Karena itu, ketika ada orang lain yang mencoba mendekati pasanganmu, ada beberapa hal yang lebih konstruktif untuk dilakukan.
1. Jangan langsung bereaksi ketika emosi sedang tinggi
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah memberi diri sendiri waktu untuk tenang.
Ketika melihat seseorang menggoda, mengirim pesan, memberikan perhatian berlebihan, atau menunjukkan ketertarikan kepada pasangan, otak dapat dengan cepat menganggap situasi tersebut sebagai ancaman terhadap hubungan.
Dalam kondisi seperti itu, kita cenderung berpikir secara hitam-putih:
"Dia pasti ingin merebut pasangan saya."
"Pasangan saya pasti menyukainya."
"Saya harus melakukan sesuatu sekarang."
Padahal, fakta yang sebenarnya mungkin belum lengkap.
Psikologi membedakan antara emosi dan fakta. Perasaan cemburu memang nyata, tetapi interpretasi yang muncul dari perasaan tersebut belum tentu benar.
Karena itu, sebelum bertindak, berhentilah sejenak.
Tarik napas. Jangan langsung mengirim pesan dengan nada marah. Jangan membuat unggahan sindiran di media sosial. Jangan pula buru-buru menghubungi orang ketiga tersebut.
Tanyakan kepada diri sendiri:
Apa yang sebenarnya saya lihat?
Apa yang saya ketahui sebagai fakta?
Apa yang hanya merupakan asumsi saya?
Apakah pasangan saya memberikan respons terhadap pendekatan tersebut?
Apakah saya sedang bereaksi terhadap kejadian saat ini atau terhadap ketakutan kehilangan?
Kemampuan mengatur emosi sebelum bertindak merupakan bagian penting dari emotional regulation.
Orang yang mampu mengendalikan respons emosionalnya bukan berarti tidak cemburu. Ia hanya tidak membiarkan kecemburuan mengambil alih keputusan.
2. Bicarakan dengan pasangan, bukan langsung menyerang orang ketiga
Banyak konflik hubungan menjadi lebih besar karena seseorang langsung memusatkan perhatian kepada pihak ketiga.
Padahal, hubungan yang sedang kamu jalani adalah hubungan dengan pasanganmu.
Jika ada seseorang yang mencoba mendekati pasanganmu, percakapan pertama yang paling penting justru adalah dengan pasangan.
Bicarakan situasinya secara terbuka.
Misalnya:
"Aku melihat ada seseorang yang cukup sering memberikan perhatian kepadamu. Aku merasa agak tidak nyaman dengan situasi itu dan ingin membicarakannya denganmu."
Kalimat seperti ini berbeda dengan:
"Kamu sebenarnya suka dia, kan?"
atau:
"Kenapa kamu membiarkan dia mendekat?"
Perbedaannya terletak pada cara komunikasi.
Kalimat pertama menjelaskan pengalaman dan perasaan pribadi tanpa langsung menuduh. Sementara kalimat kedua dapat membuat pasangan merasa sedang diinterogasi sehingga lebih mudah masuk ke mode defensif.
Dalam psikologi komunikasi pasangan, cara menyampaikan masalah sering kali sama pentingnya dengan masalah itu sendiri.
Tujuannya bukan mencari siapa yang salah, tetapi memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
3. Perhatikan respons pasangan, bukan hanya perilaku orang ketiga
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan ketika menghadapi situasi seperti ini adalah terlalu fokus pada orang yang mencoba mendekati pasangan.
Padahal, ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
Bagaimana pasanganmu merespons?
Ada perbedaan besar antara seseorang yang didekati dan seseorang yang secara aktif membuka ruang untuk pendekatan tersebut.
Misalnya, seseorang mungkin mendapatkan pesan romantis dari orang lain. Itu sendiri belum tentu menunjukkan adanya masalah dalam hubungan.
Yang lebih relevan adalah apakah pasangan:
mengabaikannya,
menolak dengan jelas,
menjaga batas,
membalas secara biasa tanpa unsur romantis,
atau justru menikmati dan membalas pendekatan tersebut.
Konteks sangat penting.
Pasanganmu tidak selalu bisa mengendalikan siapa yang tertarik kepadanya. Tetapi dalam hubungan yang sehat, masing-masing orang bertanggung jawab terhadap batas yang mereka buat dengan orang lain.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
"Kenapa orang itu mendekati pasangan saya?"
Pertanyaan yang lebih berguna adalah:
"Bagaimana pasangan saya menyikapi pendekatan tersebut?"
Jawaban atas pertanyaan kedua dapat memberikan informasi yang jauh lebih relevan mengenai kondisi hubungan.
4. Sepakati batasan yang jelas dalam hubungan
Setiap hubungan memiliki batasan yang berbeda.
Ada pasangan yang menganggap komunikasi pribadi dengan mantan sebagai sesuatu yang sensitif. Ada yang menganggapnya biasa selama tidak ada unsur romantis. Ada pula pasangan yang merasa tidak nyaman ketika salah satu pihak terlalu sering berkomunikasi dengan orang yang jelas-jelas memiliki ketertarikan romantis.
Tidak ada satu aturan yang otomatis cocok untuk semua pasangan.
Karena itu, penting untuk membicarakan relationship boundaries.
Misalnya:
Apa yang dianggap sebagai flirting?
Seberapa jauh komunikasi dengan orang yang menyukai salah satu pasangan dianggap wajar?
Bagaimana cara menolak seseorang yang terus mendekati?
Apakah perlu memberi tahu pasangan jika ada orang yang menunjukkan ketertarikan?
Bagaimana sikap ketika seseorang menghubungi secara pribadi?
Apa yang dianggap sebagai perilaku yang sudah melewati batas?
Pembicaraan seperti ini sebaiknya dilakukan ketika suasana tenang, bukan ketika sedang bertengkar.
Batasan yang sehat bukan berarti mengontrol pasangan.
Ada perbedaan antara:
Kontrol:
"Kamu tidak boleh berbicara dengan siapa pun yang lawan jenis."
dan:
Batasan:
"Aku merasa tidak nyaman jika komunikasi dengan seseorang yang jelas-jelas menyatakan ketertarikan kepadamu berubah menjadi komunikasi romantis. Menurutmu, bagaimana sebaiknya kita menyikapinya?"
Batasan yang sehat dibangun melalui kesepakatan, bukan paksaan.
5. Jangan menjadikan orang ketiga sebagai pusat perhatian hubungan
Ketika seseorang mencoba mendekati pasangan, sangat mudah untuk membuat orang tersebut menjadi tokoh utama dalam pikiran kita.
Kita mulai memeriksa media sosialnya.
Melihat siapa yang dia ikuti.
Membaca komentar-komentarnya.
Mencari tahu kehidupannya.
Membandingkan diri dengannya.
Bahkan terkadang kita mulai berpikir tentang orang tersebut lebih sering daripada pasangan sendiri.
Jika ini berlangsung terus-menerus, kecemburuan dapat berkembang menjadi perilaku yang melelahkan dan mengganggu hubungan.
Daripada menghabiskan energi untuk memantau orang ketiga, lebih baik gunakan energi tersebut untuk memperkuat hubungan.
Tanyakan:
Apakah komunikasi antara kami masih terbuka?
Apakah kami masih menghabiskan waktu berkualitas bersama?
Apakah saya merasa dihargai?
Apakah pasangan merasa dipercaya?
Apakah ada kebutuhan emosional yang belum kami bicarakan?
Hubungan tidak menjadi kuat karena tidak ada orang lain yang tertarik kepada salah satu pasangan.
Hubungan menjadi kuat ketika kedua orang di dalamnya mampu membangun kepercayaan, komunikasi, komitmen, dan batasan yang jelas.
6. Jangan mencoba "mengalahkan" orang tersebut
Ketika seseorang merasa terancam oleh orang ketiga, muncul dorongan untuk membuktikan bahwa dirinya lebih menarik, lebih sukses, lebih kaya, lebih romantis, atau lebih pantas menjadi pasangan.
Tanpa disadari, hubungan kemudian berubah menjadi kompetisi.
Padahal, hubungan romantis bukan pertandingan.
Kamu tidak perlu memenangkan kompetisi melawan orang lain untuk membuktikan bahwa kamu layak dicintai.
Jika pasanganmu memilih untuk mempertahankan hubungan, keputusan tersebut seharusnya lahir dari komitmen dan pilihan pribadi, bukan karena kamu berhasil mengalahkan seseorang.
Karena itu, hindari perilaku seperti:
sengaja membuat orang lain cemburu,
memamerkan hubungan secara berlebihan,
menghina orang ketiga,
membandingkan penampilan,
menunjukkan status atau kekayaan,
atau membuat pasangan merasa harus memilih di bawah tekanan.
Fokuslah pada kualitas hubungan.
Kamu tidak dapat mengontrol apakah orang lain akan tertarik kepada pasanganmu. Tetapi kamu dapat mengontrol bagaimana kamu memperlakukan pasangan dan bagaimana kamu menjaga kualitas hubungan.
7. Evaluasi kepercayaan, bukan hanya ancamannya
Pada akhirnya, kejadian seperti ini dapat menjadi kesempatan untuk melihat lebih dalam kondisi sebuah hubungan.
Jika pasangan mampu menjaga batas, berkomunikasi secara terbuka, dan menunjukkan komitmen, mungkin persoalan tersebut sebenarnya bukan ancaman besar bagi hubungan.
Namun, jika muncul pola seperti kebohongan berulang, komunikasi romantis yang disembunyikan, pelanggaran batas yang sudah disepakati, atau penolakan untuk membicarakan masalah secara terbuka, maka persoalannya sudah lebih besar daripada sekadar "ada orang yang mendekati pasangan".
Di titik tersebut, pertanyaan yang perlu diajukan bukan:
"Bagaimana saya menyingkirkan orang ketiga?"
Melainkan:
"Apakah hubungan ini memiliki tingkat kepercayaan dan komitmen yang sehat?"
Ini merupakan perbedaan penting.
Orang ketiga mungkin hanya menjadi pemicu yang membuat masalah dalam hubungan terlihat lebih jelas.
Cemburu tidak selalu berarti tidak percaya
Ada anggapan bahwa seseorang yang percaya kepada pasangannya tidak akan pernah merasa cemburu.
Dalam kenyataannya, manusia tetap dapat merasakan kecemburuan meskipun memiliki hubungan yang sehat.
Cemburu adalah emosi. Kepercayaan adalah pola perilaku.
Kamu bisa merasa cemburu sekaligus memilih untuk berkomunikasi secara sehat.
Kamu bisa merasa takut kehilangan tetapi tetap tidak mengontrol pasangan.
Kamu bisa merasa tidak nyaman tetapi tetap menghargai kebebasan pasangan.
Yang paling penting bukan apakah emosi tersebut muncul, tetapi bagaimana kamu mengelolanya.
Jangan mengambil keputusan berdasarkan ketakutan
Ketakutan kehilangan pasangan dapat membuat seseorang melakukan hal-hal yang sebenarnya justru merusak hubungan.
Misalnya, menjadi terlalu posesif, memeriksa ponsel secara diam-diam, melarang pasangan berteman, meminta akses ke semua akun, atau terus-menerus meminta pembuktian cinta.
Perilaku tersebut mungkin memberikan rasa aman untuk sementara.
Namun, jika dilakukan berulang kali, hubungan dapat berubah menjadi hubungan yang penuh pengawasan.
Kepercayaan tidak tumbuh dari pengawasan tanpa akhir.
Kepercayaan tumbuh ketika dua orang secara konsisten menunjukkan bahwa mereka dapat diandalkan.
Kesimpulan
Ketika seseorang mencoba mendekati pasanganmu, kamu tidak perlu langsung menganggapnya sebagai perang.
Orang lain mungkin tertarik kepada pasanganmu, dan itu adalah sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat kamu kendalikan.
Yang dapat kamu kendalikan adalah responsmu sendiri.
Tujuh langkah yang dapat dilakukan adalah:
Tenangkan diri sebelum bereaksi.
Bicarakan situasinya dengan pasangan.
Perhatikan bagaimana pasangan merespons pendekatan tersebut.
Bangun batasan hubungan yang jelas.
Jangan menjadikan orang ketiga sebagai pusat perhatian.
Jangan mengubah hubungan menjadi kompetisi.
Evaluasi kepercayaan dan kualitas hubungan secara keseluruhan.
Pada akhirnya, kualitas sebuah hubungan tidak ditentukan oleh berapa banyak orang yang mencoba masuk ke dalamnya.
Yang jauh lebih menentukan adalah bagaimana dua orang yang berada di dalam hubungan tersebut memilih untuk saling menghargai, menjaga batas, berkomunikasi, dan mempertahankan komitmen.
Karena itu, ketika seseorang mencoba mendekati pasanganmu, jangan buru-buru bertanya:
"Bagaimana caranya menyingkirkan dia?"
Cobalah bertanya:
"Bagaimana kami bisa menghadapi situasi ini dengan cara yang membuat hubungan kami semakin sehat?"
Pertanyaan kedua membawa fokus kembali kepada hal yang paling penting: bukan orang ketiga, melainkan kualitas hubungan yang sedang kamu bangun bersama pasangan.