← Beranda
6 Frasa yang Sering Diucapkan Orang dengan Toleransi Stres Tinggi Saat Menghadapi Masa Sulit
Leni Setya Wati• Sabtu, 3 Oktober 2026 | 22.16 WIB
Ilustrasi orang yang memiliki toleransi stres yang tinggi (magnific/jcomp)

JawaPos.com - Setiap orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi tekanan dan masalah hidup. Ada yang mudah merasa kewalahan, sementara sebagian lainnya mampu tetap tenang meski berada dalam situasi yang penuh tekanan.

Psikolog Matthew Tull, PhD, menjelaskan bahwa toleransi terhadap tekanan merupakan kemampuan seseorang untuk menghadapi ketidaknyamanan emosional tanpa membuat keadaan menjadi semakin buruk. Kemampuan ini bukan semata-mata bawaan sejak lahir, tetapi juga dapat dipelajari dan dilatih.

Orang dengan toleransi stres yang tinggi biasanya memiliki cara tertentu untuk mengelola emosi ketika menghadapi situasi sulit. Salah satunya melalui dialog dengan diri sendiri.

Dilansir dari YourTango, berikut beberapa frasa yang mungkin mereka gunakan ketika berada dalam masa penuh tekanan.

1. "Keadaan ini masih bisa lebih buruk"

Orang yang memiliki toleransi stres tinggi terkadang mampu melihat sebuah masalah dalam perspektif yang lebih luas.

Mereka menyadari bahwa meskipun keadaan saat ini terasa berat, ada kemungkinan situasinya bisa menjadi lebih buruk.

Terapis trauma Tisheila Ta pernah menjelaskan bahwa seseorang yang telah melewati pengalaman sangat berat mungkin memiliki ukuran berbeda dalam menilai tekanan.

Masalah yang dianggap besar oleh orang lain belum tentu terasa sama beratnya bagi seseorang yang pernah menghadapi pengalaman jauh lebih sulit.

Misalnya, seseorang yang pernah melewati penyakit serius mungkin menganggap hari buruk di tempat kerja sebagai persoalan yang relatif kecil jika dibandingkan dengan pengalaman masa lalunya.

Namun, cara berpikir ini tetap perlu diimbangi dengan kesadaran terhadap kondisi diri. Kemampuan bertahan bukan berarti seseorang harus mengabaikan rasa sakit atau menganggap emosinya tidak penting.

Membandingkan masalah dengan pengalaman yang lebih buruk tidak seharusnya menjadi alasan untuk terus memendam perasaan.

2. "Aku bisa melewati ini"

Kemampuan menenangkan diri merupakan salah satu bagian penting dalam membangun toleransi terhadap tekanan.

Ketika menghadapi masalah, orang dengan kemampuan mengelola stres yang baik cenderung berusaha meyakinkan dirinya bahwa situasi tersebut dapat dilalui.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membayangkan seorang teman dekat sedang menghadapi masalah yang sama. Pikirkan apa yang akan Anda katakan untuk menenangkan dan mendukungnya.

Kemudian, berikan nasihat yang sama kepada diri sendiri. Kita sering kali lebih lembut kepada orang lain dibandingkan kepada diri sendiri.

Jika Anda mampu mengatakan kepada seorang teman bahwa ia akan mampu melewati masa sulit, Anda juga dapat memberikan keyakinan yang sama kepada diri sendiri.

3. "Ya sudah, aku menerima keadaan ini"

Toleransi terhadap tekanan juga berkaitan dengan kemampuan menerima hal-hal yang berada di luar kendali. Dalam psikologi, salah satu pendekatan yang dikenal adalah penerimaan radikal atau radical acceptance.

Konsep ini mengajarkan seseorang untuk menerima kenyataan sebagaimana adanya, terutama ketika situasi tersebut memang tidak dapat diubah.

Fokusnya bukan berarti menyukai atau menyetujui keadaan, melainkan berhenti menghabiskan energi untuk melawan sesuatu yang berada di luar kendali.

Salah satu cara sederhana untuk mempraktikkannya adalah dengan memahami "lingkaran kendali".

Bayangkan sebuah lingkaran yang berisi hal-hal yang dapat Anda kendalikan. Di luar lingkaran tersebut terdapat berbagai hal yang tidak dapat Anda ubah.

Membedakan keduanya dapat membantu seseorang menentukan mana yang perlu diperjuangkan dan mana yang perlu diterima.

4. "Saya perlu menarik napas terlebih dahulu"

Orang dengan toleransi stres tinggi biasanya tidak terburu-buru bereaksi ketika emosinya sedang memuncak. Mereka berusaha menciptakan jeda sebelum mengambil keputusan atau memberikan respons.

Mengubah aktivitas fisik atau lingkungan dapat membantu proses tersebut. Misalnya, berdiri dari tempat duduk, berjalan sebentar, keluar rumah, mengambil napas dalam-dalam, atau berpindah ke tempat yang lebih tenang.

Memberikan jarak antara kejadian yang memicu stres dan respons emosional dapat membuat seseorang memiliki waktu untuk berpikir lebih jernih.

Alih-alih langsung bereaksi berdasarkan emosi sesaat, mengambil jeda memungkinkan seseorang menentukan respons yang lebih sesuai dengan situasi.

5. "Perasaan ini akan berlalu"

Emosi yang intens sering kali membuat seseorang merasa seolah-olah keadaan tersebut tidak akan berakhir. Padahal, emosi dapat berubah seiring waktu.

Dalam terapi perilaku dialektik atau Dialectical Behavior Therapy (DBT), toleransi terhadap tekanan menjadi salah satu keterampilan penting untuk menghadapi emosi sulit tanpa bertindak impulsif.

Salah satu teknik yang dikenal adalah STOP, yaitu Stop (berhenti), Take a step back (mundur sejenak), Observe (mengamati), dan Proceed (melanjutkan dengan penuh kesadaran).

Prinsip tersebut membantu seseorang memperlambat respons ketika menghadapi situasi yang memicu emosi kuat.

Mengingatkan diri bahwa perasaan tersebut akan berlalu juga dapat memberikan ruang untuk berpikir sebelum mengambil tindakan.

6. "Saya tidak harus menyelesaikan semuanya sekarang"

Tidak semua masalah harus diselesaikan dalam waktu yang bersamaan. Kesadaran ini dapat membantu mengurangi tekanan ketika berbagai persoalan terasa datang sekaligus.

Orang dengan toleransi stres yang baik memahami bahwa menyelesaikan satu persoalan secara bertahap sering kali lebih efektif daripada mencoba menangani semuanya sekaligus.

Ketika terlalu banyak masalah muncul, cobalah menentukan mana yang paling mendesak dan fokus menyelesaikannya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah beralih ke persoalan berikutnya.

Memberikan izin kepada diri sendiri untuk berjalan selangkah demi selangkah bukan berarti menyerah. Justru, cara tersebut dapat membantu membuat situasi yang terasa sangat berat menjadi lebih mudah dikelola.

Pada akhirnya, memiliki toleransi stres yang tinggi bukan berarti seseorang tidak pernah merasa sedih, marah, cemas, atau kewalahan.

Kemampuan tersebut lebih berkaitan dengan cara seseorang menghadapi emosi dan situasi sulit tanpa membiarkan tekanan mengendalikan seluruh tindakannya.

Kalimat-kalimat sederhana seperti "aku bisa melewati ini", "perasaan ini akan berlalu", atau "aku tidak harus menyelesaikan semuanya sekarang" dapat menjadi pengingat bahwa tidak semua masalah harus dihadapi sekaligus.

EDITOR: Hanny Suwindari