← Beranda
Vape Jadi Pilihan Baru Perokok Dewasa, Ini Risiko yang Perlu Diketahui
Rian Alfianto• Rabu, 8 April 2026 | 03.19 WIB
Ilustrasi penggunaan vape. (Heritage Pointe Dental).

 

JawaPos.com - Kesadaran terhadap kesehatan kian meningkat di tengah masyarakat, termasuk di kalangan perokok dewasa yang mulai mencari alternatif untuk mengurangi paparan zat berbahaya dari rokok konvensional.

Salah satu produk yang banyak dilirik adalah rokok elektronik atau vape, selain produk tembakau dipanaskan dan kantong nikotin.

Dalam sebuah diskusi publik di Tangerang Selatan, Ketua Gerakan Bebas TAR & Asap Rokok (Gebrak), Garindra Kartasasmita, menjelaskan bahwa perbedaan utama antara rokok konvensional dan rokok elektronik terletak pada prosesnya.

Rokok dibakar, sementara rokok elektronik bekerja dengan memanaskan cairan yang mengandung nikotin hingga menghasilkan uap.

Baca Juga: Operasi Ketupat 2026 Dinilai Sukses, Kepuasan Pemudik Tembus 85,3 Persen

“Proses pembakaran pada rokok menghasilkan berbagai zat berbahaya. Sementara pada rokok elektronik, tidak ada proses pembakaran, sehingga profil risikonya berbeda,” ujarnya, dikutip Selasa (7/4).

Meski demikian, ia menegaskan bahwa perbedaan tersebut tidak serta-merta membuat rokok elektronik bebas risiko. Oleh karena itu, pemahaman yang utuh diperlukan agar perokok dewasa dapat mengambil keputusan yang lebih sadar, termasuk mempertimbangkan dampak bagi diri sendiri maupun orang lain.

Garindra juga menyoroti pentingnya etika dalam penggunaan produk alternatif tersebut. Pengguna diminta memperhatikan tempat dan situasi agar tidak mengganggu orang di sekitar, terutama di ruang publik atau area terbatas.

Sejumlah penelitian turut menyoroti perbedaan profil risiko antara rokok konvensional dan produk tembakau alternatif. Riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa kadar toksikan pada rokok elektronik cenderung lebih rendah dibandingkan rokok berbasis pembakaran, mengacu pada parameter yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Temuan tersebut sejalan dengan studi internasional yang dipublikasikan di jurnal The Lancet. Studi kohort terhadap lebih dari 5.600 perokok dewasa di Amerika Serikat menunjukkan adanya perbaikan jangka pendek pada fungsi pernapasan pada individu yang beralih sepenuhnya dari rokok konvensional ke rokok elektronik dalam periode tertentu.

Namun, para peneliti juga menekankan perlunya kajian jangka panjang untuk memahami dampak kesehatannya secara menyeluruh.

Di sisi lain, pengalaman pengguna juga menunjukkan dinamika tersendiri. Mamet, mantan perokok yang kini menggunakan rokok elektronik sejak 2019, mengaku merasakan sejumlah perubahan, seperti berkurangnya bau asap pada tubuh dan lingkungan sekitarnya.

Ia memilih beralih demi kenyamanan keluarga di rumah. Namun, ia mengakui proses transisi tidak selalu mudah, terutama dalam situasi tertentu seperti setelah makan atau saat stres.

Baca Juga: KPK Usut Dugaan Korupsi Cukai Rokok, Diharapkan Putus Mafia Pita Cukai

Karena itu, ia menekankan pentingnya kontrol diri serta penggunaan yang bertanggung jawab.

Selain aspek kesehatan, Mamet juga mengingatkan soal dampak lingkungan, seperti pembuangan limbah cartridge dan botol cairan yang harus dilakukan dengan benar. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi di ruang digital.

Di tengah berkembangnya berbagai alternatif produk tembakau, para ahli menekankan bahwa pilihan terbaik bagi kesehatan tetaplah berhenti dari konsumsi nikotin sepenuhnya.

Sementara itu, bagi perokok dewasa yang mempertimbangkan alternatif, pemahaman risiko, regulasi, serta etika penggunaan menjadi faktor penting yang tidak bisa diabaikan.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan