← Beranda
Mengenali Masalah Usus dari Bentuk Feses, Kamu yang Mana?
Tazkia Royyan Hikmatiar• Selasa, 26 Mei 2026 | 05.38 WIB
Ilustrasi- Transplantasi Feses (Transplantasi Kotoran Manusia)- Freepik

JawaPos.com - Kesehatan usus ternyata bisa dikenali lewat bentuk feses yang dikeluarkan saat Buang Air Besar (BAB). Bentuk dan konsistensi feses bukan sekadar hasil akhir pencernaan, tetapi juga dapat menjadi petunjuk sederhana mengenai fungsi usus, kondisi hidrasi, hingga potensi gangguan kesehatan tertentu.

Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia, Prof. Dra. Wellyzar Sjamsuridzal, M.Sc., Ph.D., menjelaskan, usus dan mikroorganisme di dalamnya memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Menurutnya, mikrobiota usus tidak hanya membantu pencernaan, tetapi juga memengaruhi sistem imun, menjaga lapisan dinding usus (gut barrier maintenance), mengatur hormon, hingga berhubungan langsung dengan sistem saraf melalui gut-brain axis atau hubungan antara usus dan otak.

Baca Juga: Kristamedia Ungkap Alasan Pameran Tatap Muka Masih Lebih Efektif daripada Iklan Digital

“Hubungan langsung antara gut microbiota dengan otak kita,” ujar Prof. Welly dalam acara Peluncuran Varian Yakult Rasa Terbaru di Jakarta Pusat, Senin (25/5).

Ia mengatakan, ketidakseimbangan mikrobiota usus atau disbiosis dapat berkaitan dengan berbagai penyakit, mulai dari gangguan pencernaan hingga penyakit degeneratif.

“Penyakit-penyakit degeneratif seperti Parkinson dan Alzheimer itu erat kaitannya dengan ketidakseimbangan mikrobiota di dalam usus kita,” katanya.

Bentuk Feses Bisa Jadi Petunjuk Kesehatan

Baca Juga: KPK Temukan 9 Kotak Jam Tangan Mewah dari Rumah Fadia Arafiq, tapi yang Disita Hanya 5

Prof. Wellyzar menjelaskan, cara sederhana untuk mengetahui kondisi pencernaan adalah dengan memperhatikan feses melalui Bristol Stool Scale, alat medis visual yang mengelompokkan bentuk dan konsistensi feses ke dalam tujuh kategori.

“Untuk mengetahui kesehatan pencernaan kita, secara sederhana kita bisa melihat feses yang dihasilkan,” ucapnya.

Skala tersebut dibagi menjadi tujuh tipe, dari feses paling keras hingga paling cair.

Tipe 1 dan 2: Tanda Konstipasi

Feses tipe 1 berbentuk keras seperti kacang dan menandakan konstipasi alias sembelit berat. Sementara tipe 2 berbentuk seperti sosis tetapi bergumpal juga menunjukkan konstipasi.

“Kalau 1 itu fesesnya keras seperti kacang, ini konstipasi berat,” kata Prof. Wellyzar.

Kondisi ini dapat mengindikasikan kurangnya serat, cairan, atau lambatnya pergerakan usus.

Tipe 3 sampai 5 Dinilai Normal

Baca Juga: Nico Paz Siap Ikuti Jejak Sang Ayah di Timnas Argentina, Scaloni Sudah Siapkan Peran Penting

Feses yang dianggap ideal berada pada tipe 3 hingga 5.

Tipe 3 berbentuk seperti sosis dengan retakan di permukaan, sedangkan tipe 4 berbentuk sosis halus dan lembut. Keduanya dinilai menunjukkan fungsi usus yang baik.

“Yang normal itu nomor 3 sampai 5,” tutur Prof. Wellyzar.

Sementara tipe 5 berupa potongan lembut dengan tepi jelas. Meski masih tergolong normal, bentuk ini sudah cenderung lebih lunak dan perlu diperhatikan bila terjadi terus-menerus.

Tipe 6 dan 7 Mengarah ke Diare

Adapun feses tipe 6 berupa potongan lembut tidak beraturan atau lembek, sedangkan tipe 7 berbentuk cair tanpa bagian padat.

Kedua tipe ini mengarah pada kondisi diare, dengan tipe 7 menunjukkan diare berat.

“Kalau sudah tidak teratur atau cair tanpa bagian padat, ini sudah termasuk diare,” jelasnya.

Menurut Prof. Wellyzar, konsistensi feses dapat memberikan gambaran mengenai fungsi usus dan kondisi klinis seseorang.

“Dari konsistensi feses, kita bisa melihat gambaran fungsi usus dan juga kondisi klinis dalam tubuh pasien,” katanya.

Peran Probiotik Menjaga Kesehatan Usus

Baca Juga: Nico Paz Siap Ikuti Jejak Sang Ayah di Timnas Argentina, Scaloni Sudah Siapkan Peran Penting

Selain mengenali bentuk feses, menjaga keseimbangan bakteri baik di usus juga dinilai penting. Prof. Wellyzar menjelaskan probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang memberikan manfaat kesehatan bila dikonsumsi dalam jumlah cukup.

“Probiotik adalah mikroorganisme yang hidup, yang jika dikonsumsi dalam jumlah cukup memberikan manfaat kesehatan bagi manusia dengan menyeimbangkan mikrobiota usus dan menekan pertumbuhan bakteri patogen,” jelasnya.

Probiotik bekerja dengan menekan bakteri jahat, membantu penyerapan nutrisi seperti kalsium, zink, dan vitamin B12, menghasilkan senyawa antimikroba, hingga membantu mengurangi dampak negatif konsumsi antibiotik.

Namun, tidak semua mikroorganisme dapat disebut probiotik. Menurut Prof. Wellyzar, probiotik ideal harus aman, tidak patogen, tahan terhadap asam lambung dan empedu, mampu menempel pada epitel usus, serta telah terbukti secara ilmiah memiliki manfaat klinis.

“Harus melalui bukti saintifik dulu, scientifically proven,” tegasnya.

Dengan probiotik yang seimbang ini, Prof. Welly menyebut bahwa kesehatan usus dapat terjaga.

EDITOR: Bintang Pradewo