JawaPos.com - Obesitas bukan hanya meningkatkan risiko penyakit jantung dan gangguan metabolik.
Berat badan berlebih juga dapat membuat lutut bekerja lebih keras dan meningkatkan risiko osteoartritis (OA) lutut, kondisi kronis yang dapat mengganggu mobilitas dan aktivitas sehari-hari.
Tekanan ekstra pada lutut terjadi ketika seseorang berdiri maupun bergerak. Tak hanya faktor mekanis, jaringan lemak juga dapat menghasilkan berbagai faktor proinflamasi yang berpengaruh terhadap kesehatan sendi.
Dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi, dr. dr. Ihsan Oesman, Sp.OT, Subsp.KP, menjelaskan bahwa OA lutut merupakan kondisi kronis yang dapat berkembang secara bertahap.
Pada orang dengan obesitas, risiko maupun perburukan OA lutut dapat dipengaruhi oleh kombinasi beban mekanis yang lebih besar pada sendi dan faktor biologis yang berkaitan dengan jaringan lemak.
“Pengelolaan berat badan yang tepat dan komprehensif merupakan bagian penting dalam membantu mengurangi beban pada sendi lutut,” ujar dr. Ihsan dalam diskusi media yang digelar Novo Nordisk Indonesia bersama sejumlah pakar kesehatan, Jumat (28/8).
Ia menerangkan bahwa perubahan pola makan, latihan fisik yang sesuai, dan perubahan perilaku menjadi fondasi penting dalam pengelolaan berat badan. Namun, upaya tersebut tidak selalu mudah dilakukan oleh orang dengan obesitas.
Nyeri lutut dan keterbatasan gerak, misalnya, dapat membuat seseorang kesulitan untuk tetap aktif. Di sisi lain, rasa lapar atau dorongan makan yang terus berulang juga dapat menjadi tantangan ketika seseorang berusaha mengubah pola makan.
“Karena obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks, pada sebagian individu dengan obesitas, perubahan gaya hidup saja mungkin belum memberikan hasil yang memadai,” kata dr. Ihsan.
Dalam kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan dukungan medis, termasuk farmakoterapi untuk manajemen berat badan, dengan mempertimbangkan indikasi, kondisi klinis, dan kebutuhan masing-masing pasien.
Turunkan Berat Badan 10 Persen, Gejala OA Bisa Membaik
Penurunan berat badan sekitar 10 persen disebut dapat memberikan perbaikan gejala yang bermakna pada sebagian orang dengan obesitas dan OA lutut. Temuan ini salah satunya terlihat dalam studi selama 16 minggu yang melibatkan 175 perempuan lanjut usia dengan obesitas dan OA lutut.
Mayoritas peserta dalam studi tersebut berhasil menurunkan berat badan lebih dari 10 persen. Sebanyak 64 persen peserta mengalami perbaikan gejala yang bermakna, termasuk pada nyeri dan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Bukti lainnya datang dari uji klinis STEP OA yang dilakukan Novo Nordisk. Studi tersebut menunjukkan penanganan obesitas berbasis terapi GLP-1 menghasilkan penurunan signifikan pada skor nyeri lutut berdasarkan WOMAC pain score serta perbaikan fungsi fisik sehari-hari dibandingkan plasebo.
Temuan itu menunjukkan pengelolaan berat badan dapat menjadi salah satu bagian dari pendekatan komprehensif untuk membantu mengurangi gejala dan meningkatkan fungsi fisik pada orang dengan obesitas dan OA lutut. Penanganan OA tetap perlu dilakukan sesuai rekomendasi dokter.
Sejumlah pedoman klinis internasional juga menempatkan edukasi, pengelolaan berat badan, dan latihan fisik sebagai bagian penting dalam penanganan OA lutut.
Jangan Asal Diet, Massa Otot Juga Harus Dijaga
Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Andhika Raspati, Sp.KO, mengingatkan bahwa keberhasilan pengelolaan berat badan tidak seharusnya hanya dilihat dari turunnya angka di timbangan.
Fokus juga perlu diberikan pada penurunan massa lemak sekaligus mempertahankan massa otot. Penurunan berat badan yang hanya mengandalkan pembatasan makanan tanpa diimbangi latihan fisik berisiko menyebabkan massa otot ikut berkurang, menurunkan kebugaran, dan meningkatkan risiko efek yoyo.
Karena itu, kombinasi latihan kardio untuk membantu pembakaran kalori dan latihan kekuatan untuk mempertahankan massa otot diperlukan dalam program pengelolaan berat badan.
Bagi orang dengan obesitas dan OA lutut, aktivitas fisik sebaiknya dimulai dengan latihan berdampak rendah atau low-impact dan intensitas ringan. Intensitas kemudian dapat ditingkatkan secara bertahap dengan prinsip start low, go slow.
Latihan aerobik secara umum dapat dilakukan sekitar 30 menit per hari selama lima hari dalam seminggu atau total 150 menit per minggu. Durasi aktivitas kemudian dapat ditingkatkan secara bertahap hingga 250–300 menit per minggu untuk mendukung penurunan berat badan.
Latihan kekuatan juga dapat dilakukan dua hingga tiga kali per minggu dengan peningkatan beban secara bertahap sesuai kemampuan.
“Penurunan berat badan yang sehat bukan sekadar mengurangi asupan makanan, melainkan juga menjaga agar massa otot tidak ikut berkurang,” jelas dr. Andhika.
Ia menyarankan latihan kardio berdampak rendah, seperti bersepeda atau menggunakan recumbent bike, serta latihan kekuatan yang menyasar kelompok otot besar. Aktivitas sebaiknya dipilih yang nyaman dan aman bagi kondisi lutut.
Pemeriksaan medis sebelum memulai program latihan juga dianjurkan, terutama karena orang dengan obesitas memiliki risiko komorbiditas kardiometabolik dan muskuloskeletal.
Hampir 1 dari 4 Orang Dewasa Indonesia Mengalami Obesitas
Masalah obesitas di Indonesia juga bukan persoalan kecil. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada penduduk berusia di atas 18 tahun mencapai 23,4 persen. Artinya, hampir satu dari empat orang dewasa di Indonesia hidup dengan obesitas.
Dokter Riyanny M. Tarliman, Associate Director, Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia, menegaskan obesitas tidak semestinya dipandang hanya sebagai persoalan berat badan atau pilihan pribadi.
Obesitas merupakan penyakit kronis kompleks yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari biologis, genetik, psikologis, sosial hingga lingkungan. Jika tidak ditangani dengan tepat, obesitas dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi kesehatan, termasuk OA lutut dan penyakit kardiovaskular.
“Apabila seseorang telah berupaya mengatur pola makan dan meningkatkan latihan fisik tetapi masih menghadapi kesulitan mengelola berat badan, hal tersebut bukan berarti ia gagal. Obesitas adalah kondisi medis, bukan kegagalan pribadi,” ujar dr. Riyanny.
Menurut dia, penanganan obesitas dapat mencakup edukasi, pengaturan pola makan, latihan fisik yang disesuaikan, perubahan perilaku, serta dukungan medis dan pilihan terapi yang dipertimbangkan dokter sesuai kebutuhan individu.
Pengelolaan berat badan juga perlu berorientasi pada kesehatan jangka panjang. Artinya, keberhasilan tidak semata-mata diukur berdasarkan angka di timbangan, tetapi juga kualitas penurunan berat badan, termasuk upaya mengurangi lemak berlebih sambil mempertahankan massa otot.
Baca Juga: Obesitas Bukan Sekadar Berat Badan, Studi Ungkap Standar Baru yang Lebih Akurat untuk Orang Asia
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu menjaga fungsi fisik, kesehatan sendi, serta kualitas hidup sehingga orang dengan obesitas dapat bergerak lebih bebas. (*)