← Beranda
Kasus Super Flu 2026 Menurun Drastis Dibanding Tahun Lalu, Berikut Detail Persebarannya di Indonesia
Tazkia Royyan Hikmatiar• Selasa, 29 September 2026 | 02.24 WIB
Ilustrasi orang terkena super flu. (Freepik/prostooleh)

 JawaPos.com - Kasus influenza A H3N2 sub-klade K yang kerap disebut "super flu" secara awam mengalami penurunan tajam pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga minggu surveilans ke-38, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 22 kasus sub-klade K pada 2026, jauh lebih rendah dibandingkan 166 kasus sepanjang 2025.

 

Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengatakan, istilah "super flu" bukan nomenklatur resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Istilah tersebut digunakan untuk menyebut influenza A subtipe H3N2 sub-klade K. Sementara itu, influenza yang saat ini paling dominan di Indonesia adalah influenza A H1N1pdm09.

 

"Super flu ini adalah istilah awam, bukan nomenklatur dari WHO. Ini dihubungkan dengan influenza A subtipe H3N2 sub-klade K," kata Andi kepada wartawan pada Senin (28/9).

 

Kasus sub-klade K sendiri sudah terdeteksi di Indonesia sejak 2025. Berdasarkan pemantauan hingga minggu surveilans ke-38, kasus pernah ditemukan di 20 provinsi.

 

Pada 2025, DKI Jakarta mencatat 28 kasus, sedangkan pada 2026 turun menjadi 13 kasus. Jawa Tengah juga mengalami penurunan, dari enam kasus pada 2025 menjadi tiga kasus pada 2026.

 

Secara keseluruhan, pada 2026 terdapat 22 kasus sub-klade K yang dilaporkan dari sejumlah wilayah. Kasus tersebut tersebar di DKI Jakarta, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Utara, dan Papua Selatan.

"Sub-klade K yang ada di Indonesia kasusnya jauh lebih banyak di tahun 2025. Bisa dilihat 22 dibanding 166 di tahun 2025," jelas Andi.

Kemenkes mencatat, seluruh 22 kasus yang ditemukan pada 2026 terjadi hingga minggu surveilans ke-16. Setelah periode tersebut, tidak ditemukan lagi kasus sub-klade K hingga pemantauan berlanjut sampai minggu ke-38.

Mayoritas Kasus pada Anak

Berdasarkan kelompok umur, Andi mengungkap bahwa kasus sub-klade K pada 2026 juga jauh lebih rendah dibandingkan 2025. Penurunan paling terlihat pada kelompok anak usia 0-4 tahun.

Pada 2025, tercatat 62 kasus pada kelompok usia 0-4 tahun. Sementara pada 2026, jumlahnya turun menjadi delapan kasus.

Untuk kelompok usia 5-9 tahun, tercatat delapan kasus pada 2026. Kemudian kelompok usia 10-17 tahun terdapat lima kasus, sedangkan kelompok usia dewasa 18-59 tahun hanya mencatat satu kasus.

"Pada kelompok umur 0-4 tahun, kasus di tahun 2025 itu 62, kemudian di tahun 2026, 8. Untuk 5-9 tahun 2026 juga 8, kemudian 10-17 tahun, 5, dan untuk 18-59 tahun itu 1 kasus," jelasnya.

 

Sementara berdasarkan jenis kelamin, sebaran kasus sub-klade K pada 2026 relatif berimbang antara laki-laki dan perempuan.

 

EDITOR: Diar Candra