JawaPos.com - Setiap Bulan Oktober, dunia memperingati bulan kesadaran kanker payudara.
Di Indonesia, momen ini penting karena sekitar 70 persen pasien yang datang ke dokter sudah berada pada stadium lanjut, salah satunya akibat kurangnya pemahaman masyarakat tentang penyakit ini
Kanker payudara masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar bagi perempuan di Indonesia maupun dunia.
Tingginya angka kasus baru dan kematian akibat penyakit ini sering kali dipicu oleh keterlambatan penanganan karena pasien baru memeriksakan diri saat sudah berada pada stadium lanjut.
Padahal, jika terdeteksi pada tahap awal, peluang kesembuhan serta kelangsungan hidup pasien kanker payudara dapat meningkat secara signifikan hingga mencapai lebih dari 90 persen.
Melansir dari laman Direktorat Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI pada Selasa (29/09), deteksi dini merupakan langkah paling krusial dalam menekan angka mortalitas akibat kanker payudara.
Pembentukan massa tumor pada jaringan payudara berkembang dari mutasi sel abnormal yang membutuhkan waktu sebelum menyebar ke kelenjar getah bening atau organ lain (metastasis).
Berikut adalah panduan lengkap deteksi dini kanker payudara yang wajib dipahami oleh setiap perempuan:
- Periksa Payudara Sendiri (SADARI)
Langkah sederhana ini dilakukan secara mandiri setiap bulan pada hari ke 7 hingga ke 10 setelah hari pertama haid.
Caranya meliputi pengamatan visual di depan cermin serta perabaan melingkar dari area luar hingga puting untuk mengidentifikasi adanya perubahan bentuk, kerutan kulit (peau d'orange), atau cairan aneh dari puting.
- Periksa Payudara Klinis (SADANIS)
SADANIS adalah pemeriksaan fisik payudara yang dilakukan oleh tenaga medis terlatih, seperti dokter atau bidan di fasilitas kesehatan.
Pemeriksaan ini direkomendasikan secara berkala setidaknya 1 hingga 3 tahun sekali untuk mendeteksi perubahan jaringan yang mungkin terlewat saat pemeriksaan mandiri.
- Mematahkan Mitos
Benjolan Mitos yang beredar luas menyebutkan bahwa benjolan kanker payudara selalu disertai rasa sakit.
Faktanya, sebagian besar benjolan kanker pada stadium awal justru tidak menimbulkan rasa nyeri sama sekali. Oleh karena itu, benjolan kecil tanpa rasa sakit tidak boleh diabaikan.
- Usia Ideal dan Prosedur Mammografi
Pemeriksaan mammografi, skrining menggunakan pemindaian sinar X dosis rendah, sangat direkomendasikan bagi wanita berusia 40 tahun ke atas secara rutin setiap 1 hingga 2 tahun sekali.
Bagi individu yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara, penapisan mamografi atau USG payudara disarankan dimulai lebih awal sesuai petunjuk dokter.
- Menjaga Pola Hidup Sehat sebagai Langkah Preventif
Selain skrining, risiko kanker payudara dapat ditekan dengan menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi seimbang tinggi serat, membatasi alkohol, serta menghindari paparan asap rokok.
Secara keseluruhan, kunci utama dalam melawan kanker payudara terletak pada kedisiplinan melakukan deteksi dini secara berkala sebelum timbul gejala yang parah.
Jika Anda menemukan adanya benjolan keras, perubahan tekstur kulit payudara, atau cairan abnormal yang keluar dari puting, segera berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah onkologi untuk mendapatkan evaluasi dan pemeriksaan penunjang lebih lanjut.