JawaPos.com – Penggunaan alat pompa jantung Left Ventricular Assist Device (LVAD) bukanlah hal baru di dunia kedokteran. Selain transpalansi jantung, LVAD menjadi salah satu solusi bagi pasien gagal jantung stadium lanjut yang tidak bisa lagi dengan terapi obat.
LVAD sendiri merupakan pompa jantung mekanis yang ditanamkan di dalam tubuh untuk membantu ventrikel (bilik) kiri mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Perangkat yang digunakan di SHKJ adalah teknologi generasi terbaru HeartMate 3 LVAD dengan Full MagLev Flow Technology.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah SHKJ, dr. Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, FIHA, FAPSC, FESC, FHFA, menjelaskan, LVAD bukan sekadar prosedur, melainkan pilihan terapi yang membuka harapan baru bagi pasien gagal jantung stadium lanjut di Indonesia.
Baca Juga: Kasus KM Virgo Transport 8: Mengapa Nakhoda Tak Boleh Selamatkan Diri Duluan?
Bagi pasien penerima LVAD, keberadaan alat ini difungsikan sebagai destination therapy atau terapi final jangka panjang. Karena, program transplantasi jantung sendiri di Indonesia masih dalam tahap pengembangan.
"Ada suara paling menenangkan yang pernah saya dengar sebagai dokter jantung, yaitu detak yang kembali stabil setelah nyaris berhenti. Dalam sebulan terakhir, saya mendengarnya dua kali," kata dr. Paskah dalam bincang Penanaman LVAD Pertama di Indoensia yang dilakukan RS Siloam Kebun Jeruk, di Jakarta, baru-baru ini.
Meski begitu, dr. Paskah menggarisbawahi bahwa ada kondisi khusus di mana LVAD tidak dapat dipasang. Jika gagal jantung sudah terjadi di kedua sisi yakni bilik kiri dan kanan sekaligus, maka LVAD tidak bisa menjadi opsi.
“Pada kondisi demikian, transplantasi jantung tetap menjadi satu-satunya opsi final," paparnya.
Ketika disinggung tentang tingkat keberhasilan, dr. Paskah membeberkan bahwa risiko kematian dalam satu tahun pertama pascaoperasi baik untuk LVAD maupun transplantasi jantung berada di kisaran 10–15 persen.
Namun, setelah melewati tahun pertama, angka kematian pasien pengguna LVAD menyusut menjadi 4–5 persen per tahun.
"Jika pasien gagal jantung lanjut hanya mengandalkan obat-obatan tanpa pertolongan LVAD atau transplantasi, angka kematiannya sangat tinggi, bisa mencapai 50–70 persen dalam satu tahun setelah diagnosis," tegasnya.
Perlu diketahui, implantasi LVAD sendiri baru pertama kali dilakukan di rumh sakit swasta Indonesia melalui Advanced Heart Failure Center di bawah Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ). Tak tanggung-tanggung, dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, tim medis multidisiplin SHKJ berhasil menangani dua pasien gagal jantung stadium lanjut sekaligus.
Batasan Aktivitas
Dr. Paskah memastikan pasien dengan LVAD tetap bisa berolahraga, seperti jalan kaki, senam, gym ringan, hingga bersepeda santai. Namun, ada batasan tegas yang harus dipatuhi.
”Olahraga air seperti berenang jelas tidak diperbolehkan karena ada kabel (driveline) yang keluar dari tubuh menuju sumber baterai eksternal. Olahraga juga harus yang intensitasnya stabil (steady), bukan yang mendadak atau berlebihan, karena kecepatan pompa LVAD diatur secara manual saat posisi istirahat," pungkasnya.
Tindakan implantasi LVAD di Siloam Hospitals Kebon Jeruk ini ditangani oleh tim dokter spesialis gabungan, yakni dr. Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, bersama dokter spesialis bedah toraks dan kardiovaskular dr. Maizul Anwar, Sp.BTKV(K) serta dr. Sugisman, Sp.BTKV, Subsp.JD (K).
Gagal Jantung Bukan Cuma Penyakit Orang Tua
Dalam kesempatan tersebut, dr. Paskah mengingiatkan, ada pandangan masyarakat yang menganggap gagal jantung hanya menyasar lansia. Ia mengungkapkan, pasien gagal jantung paling muda yang saat ini rutin kontrol padanya baru berusia 27 tahun akibat kardiomiopati (kelainan otot jantung).
"Banyak pasien usia muda yang datang bukan dengan keluhan bengkak kaki atau sesak berat, melainkan gejala terselubung seperti lebih cepat capek, perut begah, hingga sering dikira penyakit lambung atau GERD," jelasnya.
Ia membeberkan beberapa penyebab utama gagal jantung di usia muda, di antaranya kelainan genetik, infeksi virus, faktor kardiometabolik, hingga obesitas yang kini makin marak.
Dr. Paskah juga mengingatkan masyarakat agar tidak terkecoh dengan istilah 'jantung bengkak'. Penggunaan istilah jantung bengkak sering kali menutupi kondisi medis yang sangat serius, yaitu gagal jantung (heart failure).
”Ini penyakit mematikan yang bersifat progresif dan kronis. Kalau gejala mereda, bukan berarti penyakitnya selesai. Pasien tetap butuh obat dan pemantauan jangka panjang," imbaunya.