← Beranda
Influenza A Meningkat, Internis ITS: Jangan Asal Konsumsi Antibiotik
Ardini Pramitha• Jumat, 2 Oktober 2026 | 04.51 WIB
Dokter Spesialis penyakit dalam ITS dr Edwin Nugroho Njoto MIPH MHM SpPD menjelaskan berbagai gejala influenza A. (Humas ITS)

JawaPos.com – Masyarakat diminta untuk tidak sembarangan mengonsumi antibiotik di tengah peningkatan kasus influenza A. 

Hal itu disampaikan Dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dr Edwin Nugroho Njoto MIPH MHM SpPD, merespons merebaknya kasus influenza A.

Edwin menjelaskan, influenza A merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang sistem pernapasan.

Virus influenza, ujarnya, bukan jenis virus baru dan memiliki karakteristik mudah bermutasi serta menular.

Baca Juga: Wamenkes Sebut Influenza A Umumnya Tidak Berbahaya dan Dapat Sembuh Sendiri

Menurut dokter spesialis penyakit dalam (Internis) itu, kondisi cuaca juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi penyebaran virus influenza.

“Virus influenza ini memang dapat memicu wabah musiman dengan tingkat penularan yang luas,” terangnya, Kamis (1/10). 

Penularan influenza A terutama terjadi melalui percikan air liur dari saluran pernapasan ketika seseorang batuk atau bersin. 

Risiko penularan dapat meningkat pada orang dengan daya tahan tubuh rendah maupun mereka yang mengalami kelelahan akibat aktivitas padat.

Dari sisi gejala, influenza umumnya diawali dengan gangguan pada saluran pernapasan. Penderita dapat mengalami pilek, batuk, demam hingga nyeri saat menelan.

Baca Juga: Kena Influenza Biasa Jangan Asal Cari Obat Oseltamivir, Ini 5 Imbauan Kemenkes

Namun, masyarakat perlu mewaspadai apabila kondisi tersebut berkembang menjadi gejala yang lebih berat.

“Yang perlu diwaspadai adalah ketika terjadi penurunan nafsu makan hingga sesak napas,” ujar Edwin.

Dia juga mengingatkan kelompok rentan seperti lansia, anak-anak dan ibu hamil agar memberikan perhatian lebih ketika mengalami gejala influenza. 

"Pasien dengan penyakit tertentu, termasuk kencing manis dan gagal ginjal, juga dapat mengalami kondisi yang lebih berat," katanya. 

Jangan Asal Minum Antibiotik

Edwin menyoroti kebiasaan masyarakat yang masih menggunakan antibiotik ketika mengalami gejala flu.

Baca Juga: Influenza A Meningkat, Kemenkes Minta Rakyat Tak Panic Buying Oseltamivir karena Bukan Obat Massal

Menurut dia, penggunaan antibiotik tidak tepat untuk mengatasi influenza karena penyakit tersebut disebabkan oleh virus, bukan bakteri.

“Jangan baru flu sebentar sudah langsung diberi (obat) antibiotik karena penyebab influenza adalah virus, bukan bakteri,” tegasnya.

Edwin menjelaskan, antibiotik baru dapat dipertimbangkan apabila terdapat infeksi bakteri sekunder. Penggunaannya pun perlu disesuaikan dengan kondisi medis pasien.

Karena itu, masyarakat diimbau tidak menjadikan antibiotik sebagai obat yang otomatis dikonsumsi ketika mengalami batuk, pilek atau demam.

Untuk menjaga kondisi tubuh, masyarakat dianjurkan mencukupi waktu istirahat dan tidur, memenuhi kebutuhan cairan, mengonsumsi makanan bergizi, serta berolahraga.

Baca Juga: Positivity Rate Influenza September 2026 56%, Diprediksi Menurun di Akhir Tahun

"Kebiasaan mencuci tangan setelah beraktivitas di luar rumah atau sebelum makan juga perlu dilakukan secara rutin," katanya. 

Selain itu, masyarakat yang mulai mengalami gejala seperti demam dan batuk dianjurkan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah.

Edwin juga mengingatkan pentingnya menerapkan etika batuk dan bersin dengan menutup hidung serta mulut menggunakan tisu atau siku bagian dalam apabila tidak membawa tisu.

"Sebagai langkah pencegahan tambahan, masyarakat disarankan mempertimbangkan vaksinasi influenza secara rutin setiap tahun," ujarnya. 

Langkah tersebut dinilai penting terutama bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi akibat influenza.

Baca Juga: Dinkes Jabar Deteksi 65 Kasus Influenza A atau Flu Babi

Dengan mengenali gejala dan memahami cara penanganan yang tepat, masyarakat diharapkan tidak melakukan pengobatan secara sembarangan, termasuk mengonsumsi antibiotik tanpa indikasi yang sesuai.

 

EDITOR: Bayu Putra