JawaPos.com - Banyaknya orang tua yang denial terhadap kondisi anak yang mengalami neurodivergent membuat penanganan kasus semacam ini terhambat.
Neurodivergent adalah kondisi ketika seseorang memproses informasi secara berbeda dari kebanyakan orang.
“Orang tuanya tidak mengakui kalau anaknya itu seorang neurodivergent, sehingga mencari doctor shopping untuk memastikan atau meminta second opinion bahwa anaknya tidak neurodivergent," ujar Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan Imran Pambudi, Sabtu (10/10).
"Akibatnya, terlambat diketahui dan ketika orang tuanya sadar, potensi terbesar anaknya sudah tidak bisa ditemukan lagi,” sambung Imran.
Baca Juga: Tak Bisa Fokus Tanpa Musik Latar? Awas, Otak Beri Sinyal ADHD!
Senada, Ketua Divisi Psikiatri Komunitas, Rehabilitasi, dan Trauma Psikososial FKUI/RSCM, dr. Hervita Diatri, menekankan pentingnya pelibatan individu yang memiliki pengalaman langsung dengan gangguan jiwa, dalam upaya penanganan kesehatan jiwa.
“Pengobatan kami bukan hanya obat, tetapi juga butuh psikoterapi. Ada kesan seolah psikoterapi dan rehabilitasi hanya bisa didapatkan oleh mereka yang mampu membayar atau tinggal di kota besar, padahal tidak demikian,” jelas dr. Hervita.
“Hal ini harus didekatkan melalui deinstitusionalisasi sebagai jawaban tepat agar kita dapat memberikan tata laksana yang adekuat meliputi obat, psikoterapi, dan rehabilitasi,” lanjutnya.
Sementara itu, Konsultan Neurologi Anak FK Unpad/RSHS, dr. Purboyo Solek, menjelaskan bahwa individu neurodivergent, termasuk individu dengan disleksia dan ADHD, membutuhkan sistem dukungan (supporting system) yang terintegrasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Ia menjelaskan, anak dengan disleksia memiliki tingkat kecerdasan (IQ) yang normal, namun cara otaknya memproses informasi berbeda dengan kebanyakan orang.
Baca Juga: Anak Disleksia Punya Kesempatan Belajar, Ketahui Gejala dan Penangannya
“Tanpa akomodasi yang tepat di sekolah dan pemahaman keluarga, mereka sangat rentan mengalami perundungan (bullying), kecemasan (anxiety), hingga depresi berat,” jelas dr. Purboyo.
Kemenkes berharap dukungan keluarga, tenaga kesehatan, sekolah, dan masyarakat terus diperkuat untuk menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi individu neurodivergent.
Dengan pemahaman yang tepat serta penanganan yang sesuai, setiap individu diharapkan memiliki kesempatan untuk berkembang dan berdaya sesuai dengan potensinya.