JawaPos.com - Memilih nutrisi yang tepat menjadi salah satu langkah penting untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Orang tua perlu memahami kebutuhan gizi sesuai usia, memastikan makanan yang dikonsumsi beragam dan seimbang, serta mencari informasi dari sumber tepercaya agar kebutuhan nutrisi anak terpenuhi.
Langkah ini penting agar keputusan yang diambil tidak hanya mengikuti tren atau klaim produk, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan gizi anak sehari-hari.
Baca Juga: Katarak Jadi Penyebab Utama Kebutaan di Jabar, Kenali Pentingnya Menjaga Kesehatan Mata
Dokter spesialis dan tenaga kesehatan dapat membantu orang tua memahami kebutuhan tersebut, terutama ketika anak memiliki kondisi tertentu yang memerlukan perhatian khusus.
1. Sesuaikan Nutrisi dengan Usia dan Tahap Tumbuh Kembang
Kebutuhan nutrisi anak berubah seiring pertambahan usia.
Bayi, balita, dan anak usia sekolah memiliki kebutuhan energi serta zat gizi yang berbeda untuk menunjang pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan aktivitas sehari-hari.
Baca Juga: AI Mulai Dipakai untuk Petakan Risiko Kesehatan, Data DNA hingga Gaya Hidup Diintegrasikan
Karena itu, orang tua perlu menyesuaikan pola makan anak dengan tahapan perkembangannya.
Pada bayi, ASI menjadi sumber nutrisi utama selama enam bulan pertama kehidupan.
Setelah itu, makanan pendamping ASI (MPASI) mulai diberikan secara bertahap dengan tetap melanjutkan pemberian ASI.
Ketika anak bertambah besar, pola makan perlu mencakup beragam sumber protein, karbohidrat, lemak sehat, vitamin, dan mineral.
Porsi serta tekstur makanan juga perlu disesuaikan dengan kemampuan makan anak.
Jika orang tua mempertimbangkan produk nutrisi tambahan, perhatikan kelompok usia yang tercantum pada label dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan apabila masih ragu.
Baca Juga: Jangan Disepelekan, 6 Akibat Sering Mengunyah Es Batu
2. Perhatikan Kecukupan Zat Besi
Zat besi berperan penting dalam pembentukan hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Mineral ini juga mendukung perkembangan otak dan kemampuan belajar anak.
Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia yang berpotensi mengganggu aktivitas, konsentrasi, dan tumbuh kembang.
Baca Juga: Empat Cara Menjaga Kesehatan Metabolik secara Efektif
Oleh sebab itu, orang tua perlu memastikan anak mendapatkan sumber zat besi yang cukup melalui makanan sehari-hari.
Beberapa pilihan makanan yang mengandung zat besi antara lain daging, ikan, telur, serta kacang-kacangan.
Sayuran hijau juga dapat menjadi bagian dari pola makan yang beragam.
Baca Juga: Makanan Kemasan dan Depresi: Mengapa Pola Makan Perlu Diperhatikan?
Untuk membantu penyerapan zat besi dari sumber nabati, makanan dapat dipadukan dengan sumber vitamin C, seperti jeruk, jambu biji, atau tomat.
Apabila anak terlihat mudah lelah, pucat, atau mengalami penurunan aktivitas, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.
Gejala tersebut tidak selalu menandakan kekurangan zat besi sehingga pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
3. Pastikan Anak Mendapatkan Protein dan Lemak Sehat
Protein diperlukan untuk membangun dan memperbaiki jaringan tubuh, termasuk otot.
Baca Juga: Ciri dan Cara Menghadapi Orang Narcissistic Personality Disorder
Sementara itu, lemak sehat berperan sebagai sumber energi dan membantu penyerapan vitamin yang larut dalam lemak.
Kedua zat gizi tersebut perlu tersedia dalam pola makan anak dengan jumlah yang sesuai kebutuhan. Sumber protein dapat berasal dari ikan, telur, ayam, daging, tahu, tempe, dan kacang-kacangan.
Adapun lemak sehat dapat diperoleh dari ikan, alpukat, serta bahan pangan lain yang mengandung lemak tak jenuh.
Baca Juga: Terapi MBCT: Mindfulness untuk Stres dan Depresi, Kata Psikolog
Orang tua tidak perlu terpaku pada satu jenis makanan.
Mengombinasikan berbagai sumber protein dan lemak sehat dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi sekaligus mengenalkan anak pada beragam rasa dan tekstur makanan.
4. Baca Label Kandungan Sebelum Memilih Produk Nutrisi
Jika menggunakan produk nutrisi tambahan, orang tua perlu memeriksa informasi pada kemasan secara menyeluruh.
Baca Juga: Kualitas Udara Berbahaya, Kemenkes Sarankan PJJ di Wilayah Karhutla
Jangan hanya berpatokan pada satu kandungan yang ditonjolkan dalam iklan.
Perhatikan komposisi, kandungan gula, jumlah energi, protein, vitamin, mineral, serta petunjuk penggunaan sesuai kelompok usia.
Bandingkan informasi tersebut dengan kebutuhan anak dan pola makan yang sudah dijalani.
Dokter dan tenaga kesehatan juga dapat membantu menjelaskan kandungan yang relevan dengan kondisi anak.
Baca Juga: Asap Karhutla Sebabkan 283.270 Kasus ISPA di 7 Provinsi, Paling Banyak di Kalsel dan Sumsel
Informasi dari sumber ilmiah dan lembaga kesehatan tepercaya sebaiknya menjadi pertimbangan utama, bukan semata-mata testimoni atau popularitas suatu produk.
Ray Wagiu Basrowi, Medical & Scientific Director Danone Indonesia, menekankan pentingnya informasi berbasis sains ketika orang tua menentukan pilihan nutrisi.
“Di sinilah pentingnya Bunda memiliki akses terhadap informasi berbasis sains dan bukti yang kredibel dalam memahami kebutuhan nutrisi anak," terang Ray Wagiu Basrowi.
Baca Juga: Tak Hanya Kurang Tidur, Ini Penyebab Lain Mata Panda dan Cara Mengatasinya
"Dengan informasi yang tepat, Bunda dapat lebih percaya diri memilih nutrisi yang terbukti dan sesuai dengan kebutuhan anak,” ujar dia.
Prinsip tersebut dapat diterapkan secara umum: pahami kebutuhan anak terlebih dahulu, kemudian nilai apakah kandungan suatu produk benar-benar sesuai dengan kebutuhan tersebut.
5. Terapkan Pola Makan Seimbang dan Pantau Pertumbuhan Anak
Pemenuhan nutrisi tidak bergantung pada satu jenis makanan atau produk.
Baca Juga: Jangan Asal Memberi Makan Bayi! 8 Makanan Ini Berisiko Picu Keracunan Bahkan Komplikasi Serius
Pola makan seimbang yang terdiri atas makanan pokok, lauk berprotein, sayuran, dan buah tetap menjadi bagian penting dari upaya mendukung tumbuh kembang anak.
Orang tua juga perlu membangun kebiasaan makan yang baik, seperti menyediakan jadwal makan teratur, mengenalkan variasi makanan, serta menciptakan suasana makan yang nyaman tanpa memaksa anak menghabiskan makanan.
Selain memperhatikan asupan, pantau pertumbuhan anak secara berkala melalui pengukuran berat badan dan tinggi atau panjang badan.
Hasil pengukuran dapat membantu tenaga kesehatan menilai apakah pertumbuhan anak berjalan sesuai tahapan usianya.
Baca Juga: Tak Cukup Dengan Pendekatan Individu, Mencegah Bunuh Diri Perlu Sistem Terintegrasi
Jika berat badan sulit bertambah, anak mengalami kesulitan makan berkepanjangan, atau terdapat kekhawatiran mengenai perkembangannya, konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi.
Pentingnya Keputusan Nutrisi Berbasis Informasi
Kesibukan dan beragamnya peran orang tua membuat akses terhadap informasi kesehatan yang mudah dipahami semakin penting.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan Indonesia mencapai 56,63 persen pada 2025, dengan 58,47 juta perempuan tercatat bekerja.
Baca Juga: Tak Cuma ISPA, Karhutla di Kalimantan dan Sumatra Picu Kasus Sakit Mata hingga Heat Stroke
Dalam kondisi tersebut, keputusan mengenai pemenuhan gizi anak menjadi salah satu aspek pengasuhan yang perlu didukung informasi yang akurat dan praktis.
Melalui program Bunda Lebih Maju, SGM Eksplor mengangkat pentingnya peran ibu dalam mendukung perjalanan tumbuh kembang anak.
"Program ini menghadirkan musisi Yura Yunita dan pesepak bola nasional U-20 M. Zahaby Gholy membagikan pengalaman mengenai dukungan keluarga sejak masa kecil," ujar Anissa Ardiellaputri, Head of Brand SGM.
Baca Juga: Satu dari Lima Diagnosis Kanker Diperkirakan Tergolong Langka, Butuh Keahlian Khusus
sementara itu, Yura Yunita mengatakan, perhatian dan dukungan ibu menjadi bagian dari perjalanannya sebagai musisi.
“Sekarang saya menyadari, di balik hal sederhana itu ada usaha Mama untuk selalu memberikan yang terbaik agar saya bisa tumbuh, belajar, dan mengejar apa yang saya cita-citakan. Buat saya, itulah salah satu bentuk Bunda yang terus memberikan lebih,” ujar Yura.