JawaPos.com — Perbedaan generasi di tempat kerja tidak selalu muncul dalam persoalan besar. Justru, gesekan antara Gen Z dan rekan kerja yang lebih tua sering terjadi melalui hal-hal sederhana, seperti cara memberi tahu keterlambatan, menyampaikan persoalan pribadi, hingga memahami tenggat pekerjaan.
Dilansir dari The Conversation, Sabtu (26/9/2026), perbedaan tersebut tidak selalu berarti Gen Z memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik atau lebih buruk. Mereka tumbuh dan memasuki dunia kerja dalam lingkungan sosial dan teknologi yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Salah satu contohnya terjadi di sebuah kafe dan restoran milik lokal yang dikelola seorang pemilik dari Generasi X. Seorang pekerja Gen Z menyadari dirinya akan terlambat lalu mengirim pesan teks kepada atasannya. Sang atasan merasa terganggu karena menganggap keterlambatan merupakan persoalan serius yang semestinya disampaikan melalui telepon, bukan sekadar pesan text.
Sementara, pekerja Gen Z itu itu justru menganggap pesan singkat sebagai cara untuk menghargai waktu atasannya. “Dia sangat sibuk, jadi saya merasa menelepon justru akan menghabiskan waktunya. Karena itu, saya memilih mengirim pesan. Menurut saya, cara itu lebih menghargai waktunya,” ujarnya.
Keduanya sebenarnya memiliki pemahaman yang sama tentang pentingnya menghormati orang lain, tetapi memberikan makna berbeda pada bentuk komunikasinya. Bagi atasan, telepon menunjukkan keseriusan. Bagi pekerja Gen Z, pesan teks dianggap lebih efisien dan tidak mengganggu.
Menurut penulis yang meneliti budaya dan komunikasi di tempat kerja, persoalan semacam ini semakin relevan ketika Gen Z memasuki dunia kerja. Anggota tertua generasi ini kini mendekati usia 30 tahun, sementara yang termuda masih berada di sekolah menengah dan perguruan tinggi.
Banyak anggota Gen Z yang lebih tua menjalani kuliah, magang atau pekerjaan pertama mereka selama pandemi COVID-19. Pada periode tersebut, pembelajaran dan pekerjaan berpindah ke ruang daring, sementara penggunaan masker juga membatasi sebagian isyarat ekspresi wajah ketika aktivitas kembali dilakukan secara langsung.
Akibatnya, sebagian anak muda mungkin memiliki lebih sedikit kesempatan untuk mempelajari aturan tidak tertulis di lingkungan profesional, seperti membaca ekspresi atasan, perubahan nada bicara atau percakapan singkat setelah rapat.
Masalah lain muncul dalam keterbukaan mengenai kehidupan pribadi. Seorang pekerja Gen Z yang mengalami kecemasan berat memilih memberi tahu manajernya yang berasal dari generasi Baby Boomer. Sang manajer bersikap simpatik, tetapi mengaku tidak nyaman karena mempertanyakan apakah informasi tersebut memang diperlukan dalam hubungan profesional.
Perbedaan itu berkaitan dengan perubahan pandangan tentang batas pribadi. Banyak pekerja yang lebih tua dibentuk oleh gagasan bahwa profesionalisme membutuhkan pemisahan tegas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Sementara itu, Gen Z tumbuh ketika pembicaraan mengenai kesehatan mental dan kesejahteraan pribadi jauh lebih terbuka.
Perbedaan cara memahami komunikasi juga bisa muncul saat menentukan tenggat pekerjaan. Ketika seorang manajer mengatakan pekerjaan harus selesai pada Jumat, karyawan bisa menganggap tugas itu masih bisa dikirim hingga akhir hari. Padahal, manajer mungkin membutuhkannya sejak Jumat pagi agar punya waktu untuk memeriksa, memperbaiki, lalu meneruskannya kepada orang lain.
Pola ini terlihat dalam survei yang dilakukan penulis terhadap 250 profesional Gen Z dari berbagai industri. Para pekerja Gen Z dalam survei tersebut banyak menekankan pentingnya ekspektasi yang jelas, bersamaan dengan kebutuhan akan perlakuan yang adil dan hubungan kerja yang empatik.
Keinginan untuk mendapat arahan yang jelas bukan berarti Gen Z membutuhkan atasan yang terus mengawasi pekerjaan mereka. Seorang karyawan tetap bisa menginginkan kebebasan dalam bekerja, tetapi perlu tahu dengan jelas seperti apa hasil yang diharapkan. Karena itu, “selesai Jumat” memiliki arti yang berbeda dengan “selesai Jumat pukul 10.00 karena saya membutuhkan tiga jam untuk meninjaunya”.
Masalah komunikasi ini juga berpotensi semakin kompleks ketika kecerdasan buatan (AI) digunakan untuk membuat email, merangkum rapat dan menghasilkan informasi. Teknologi dapat membuat komunikasi lebih cepat dan rapi, tetapi tidak otomatis membuat orang lebih memahami maksud satu sama lain.
Pada akhirnya, persoalan lintas generasi di tempat kerja bukan semata soal siapa yang memiliki cara komunikasi paling benar. Norma profesional yang dianggap sebagai “akal sehat” sebenarnya dipelajari dari lingkungan kerja, teknologi dan kondisi sosial ketika seseorang memulai karier.
Gen Z memasuki dunia kerja melalui kondisi yang berbeda. Karena itu, komunikasi yang jelas tidak cukup hanya mengandalkan kebiasaan lama.
Ekspektasi tentang cara berkomunikasi, keterbukaan pribadi, umpan balik dan tenggat perlu disampaikan secara eksplisit agar perbedaan cara memahami pesan tidak berubah menjadi konflik yang sebenarnya dapat dicegah.
***