← Beranda
7 Tanda Anda Seorang Problem Solver, Terbukti dari Langkah Menyelesaikan Masalah
Shania Vivi Armylia Putri• Kamis, 15 Oktober 2026 | 03.10 WIB
Ilustrasi problem solver/Magnific

JawaPos.com-Saat terjadi konflik, seseorang memiliki kecenderungan untuk melindungi diri.

Namun, seorang problem solver dengan kecerdasan emosional yang baik mampu menyikapi situasi tersebut secara tenang dan bijaksana.

Mereka tidak membiarkan emosi menguasai diri saat menghadapi konflik maupun situasi yang sulit.

Sebaliknya, mereka memanfaatkan kecerdasan dan kepekaan emosional untuk meredakan ketegangan, memahami persoalan, serta menciptakan situasi yang lebih kondusif.  

Berdasarkan informasi dari laman aconsciousrethink yang dikutip pada (14/10) berikut tanda-tanda bahwa anda memang seorang problem solver sejati.

  1. Memberi jeda sebelum bereaksi

Tindakan mengambil jeda sejenak dapat membantu anda mengevaluasi kembali langkah yang akan diambil. Anda bisa mengambil jeda selama tiga ataupun empat detik. Jeda ini dapat dilakukan untuk meredakan ketegangan.

  1. Mendengarkan tanpa menyela

Anda bersedia memahami sudut pandang orang lain, bukan sekedar menjelaskan mengapa pandangan mereka kurang tepat. Seseorang problem solver memiliki empati untuk memahami pengalaman orang lain meskipun tidak sepenuhnya merasakan sendiri. 

  1. Fokus pada persoalan

Seorang problem solver berusaha menahan diri dan menjaga pembicaraan agar tetap terfokus pada masalah yang perlu diselesaikan saat itu juga. Orang dengan kecerdasaan emosional juga memahami bahwa prioritas utama adalah menyelesaikan satu masalah terlebih dahulu, sebelum kemudian beralih pada persoalan lain.

  1. Bertanggungjawab terhadap konflik

Seorang problem solver tidak pernah dikendalikan oleh ego. Kecerdasan ini tercermin dari dalam diri seseorang yang mengakui peran mereka dalam suatu perselisihan, sekaligus keinginan mereka untuk membantu meredakan ketegangan.

  1. Tidak menyalahkan orang lain

Sosok problem solver tidak menggunakan serangan pribadi untuk menjatuhkan orang lain. Mereka hanya berfokus untuk menyelesaikan masalah. Hal Ini disebabkan karena perilaku menyerang secara pribadi dapat berakar pada rasa takut atau ketidaknyamanan diri yang dapat menghambat seseorang dalam mengelola emosi secara sehat.

  1. Menerima ketidaknyamanan

Seorang problem solver memahami bahwa menolak ketidaknyamanan justru menguras tenaga. Mereka memahami bahwa segala sesuatu bisa dihadapi dengan mental yang lebih tenang dan kondusif. 

  1. Tidak menang sendiri

Mereka yang mampu menyelesaikan masalah tidak akan terjebak pada obsesi. Mereka lebih memilih mempertahankan integritas daripada menjadi pemenang dalam perdebatan. 

EDITOR: Setyo Adi Nugroho